Seribu Sebutan

Logika itu sebuah ruang dengan luas tertentu. Semakin banyak yang kita pelajari, ruang itu akan makin meluas. Ilmu yang bertambah berdampak pada perluasan daya nalar atau logika seseorang.

Waktu masih SD banyak sekali hal yang kita anggap tak masuk akal. Bertambahnya usia membuat orang menerima semakin banyak pengetahuan dan ilmu sehingga segala sesuatu yang semula tak bisa dipahami menjadi sanggup dimengerti.

Jika hari ini ada hal yang belum bisa kita pahami, itu hanya karena ia berada di luar ruang nalar kita. Suatu saat dengan bertambahnya ilmu kita, daya nalar dan luasan logika kita juga akan mengembang.

Apa-apa yang saat ini belum kita pahami, jangan buru-buru dianggap salah dan tidak ada. Mungkin sesuatu yang kita salah-salahkan itu adalah hal yang hanya masih berada di luar ruang logika kita. Apa yang kita sangka tidak ada sesungguhnya hanyalah karena logika kita masih tak menjangkaunya.

Keberangkatan sebuah tuduhan sering kali bertolak dari titik ketidak pahaman. Anggapan kita tentang SALAH dan TIDAK ADA bisa jadi hanya produk dari kualitas persepsi yang lahir dari keterbatasan ilmu dan pengetahuan kita.

Perluaslah ruang logika dengan cara terus belajar, agar makin sedikit obyek-obyek yang kita salah-salahkan. Tanda orang yang makin menyempit ruang logika dan melemah daya nalarnya adalah gampang menyalah-nyalahkan sesuatu hanya karena berbeda. Yang beda dianggap tidak benar. Padahal ilmunya saja yang belum menemukan ‘kebenaran’ pada yang berbeda itu.

Saya pernah di sebuah tempat bersama dengan teman yang berbedakeyakinan. Kemudian kami sepakat untuk berdoa karena ada keadaan yang sedang kami prihatini bersama dan kami merasa butuh segara berdoa untuk sebuah keadaan tersebut. Saya dengar ia memanggil Tuhan dengan sebuah nama yang berbeda dengan sebutan yang biasa saya pakai untuk menamai Tuhan. Tapi karena menurut agama yang saya anut Tuhan itu satu, sehingga saya langsung berpikir bahwa teman saya itu pasti sedang berdoa kepada Tuhan yang pada saat itu saya juga sedang berdoa kepada-Nya.

Karena tidak mungkin ada Tuhan yang lainya. Kecuali mungkin jika saya belum pernah belajar agama yang meyakini Tuhan itu satu, bisa jadi saya akan menganggap teman saya sedang berdoa kepada Tuhan yang lain. Bahwa teman saya menyebut dengan istilah nama yang berbeda, itu karena informasi yang ia terima memang mengabarkan demikian.

Nama apa yang sesungguhnya paling tepat untuk menyapa Tuhan yang satu itu. Untuk soal itu agama saya hanya menyarankan untuk kita bersikap, “Bagiku agamaku, bagimu agamamu”. Tetapi pada intinya adalah, Tuhan itu satu.

Semua manusia diciptakan oleh Tuhan yang satu. Karena semua manusia diciptakan oleh satu Tuhan, maka apapun agamanya mereka adalah milik Tuhan yang satu itu. Tuhan yang satu itu adalah Tuhanku,Tuhanmu, Tuhan kami, Tuhan kita semua.

Peradaban telah meninggi. Ilmu telah berkembang hingga ke puncak menara kecemerlangan akal. Pengetahuan telah meluas hingga memeluk gugusan galaksi jagad raya. Perjalanan manusia mencari kebenaran eksistensi Tuhan telah dituntun sekian banyak nabi pembawa wahyu dalam sejarah. Dan keterbatasan manusia di peradaban purba dalam mengenali Tuhan telah dijawab oleh formula kebenaran langit langsung yang bernama wahyu.

Era awal pencarian manusia atas Tuhannya pernah menganggap Tuhan itu banyak, yang oleh sejarah disebut polytheisme. Pada saat manusia masih menganggap banyak Tuhan, begitu ada orang lain menyebut sebuah nama dalam memanggil Tuhannya, maka ia dianggap punyaTuhan sendiri.

Kondisi seperti itu membuat manusia tidak hanya tega tetapi bahkan merasa tidak berdosa atau lebih parah lagi merasa berpahala jika membunuh manusia lain yang beda Tuhan. Karena manusia masih menganggap Tuhan itu banyak, maka manusia yang beda Tuhan disangka bukan diciptaan oleh satu Tuhan.

Coba lihatlah dengan jernih, betapa setiap orang ketika sedang beribadah pasti mengarahkan fokus hatinya kepada Tuhan yang satu. Dengan konsep dan metode keyakinan apapun, arah hati setiap manusia akan memusat ke titik ruhani yang diistilahkan oleh kebudayaan dan sejarah sebagai Tuhan.

Seandainya seluruh manusia mulutnya dibisukan oleh Tuhan, maka sudah tidak akan adalagi perbedaan nama Tuhan. Masing-masing mengucapkan dengan bahasa hati. Orang tidak akan berdebat lagi tentang sebutan Hyang Wenang, Gusti Pangeran, Hyang Widi, Sang Murbeng Dumadi, Allah dan seribu sebutan lagi yang dipakai untuk menyebut “sesuatu” yang satu itu.

Artinya ketika orang masih bertengkar di area istilah, berarti level keberagamaannya masih di dataran terluar dari hakekat agama itu sendiri. Padahal fungsi agama adalah mengantar manusia menuju ke wilayah yang bersifat batin atau ruhani. Agama bertugas membimbing manusia untuk memasuki ruang maha luas yang tak bersekat bernama ruhani. Di ruang luas itu seluruh indikator materi gugur dan tidak berlaku.

Kelak di ujung perjalanan hidup dan kehidupan, kita baru tersentak oleh kenyataan bahwa sesungguhnya terlalu sedikit ilmu kita. Ketika segalanya telah dibuka dari seluruh tabir misteri, hanya satu reaksi spontan manusia, yaitu malu atas segala rasa benar sendiri yang selama ini ditandai dengan munculnya keahlian menyalahkan orang lain.

Bagi orang yang hatinya adalah pembelajar, jiwanya adalah pencari ilmu, pikirannya adalah gerak langkah menyongsong pengetahuan baru, kematian adalah jawaban yang melegakan atas seluruh misteri ilmu tak terbatas yang dalam hidupnya selalu menjadi pertanyaan. [] Agus Sukoco