MAMPIR MEDANG (36) : CIPLUKAN

Jauh-jauh petugas bernama khalifah diterjunkan ke muka bumi. Ia berangkat tidak mungkin tidak dibekali misi.

Seperti tentara yang diturunkan dari atas helikopter ke hutan belantara, tidak karena iseng ia diturunkan, tetapi karena memang ada misi yang harus dikerjakan di dalam hutan belantara itu.

Bahwa ditengah-tengah ia harus menjalankan tugasnya kok butuh makan sebab lapar, tak apa ia mencari buah-buah dan tumbuh-tumbuhan yang ada.

Kalau adanya ciplukan, ya cari saja, pungut saja, demi bisa survive, sehingga misi tidak terganggu.

Tapi tetap loh ya ingat misi. Jangan malah keasyikan mencari ciplukan. Jauh-jauh dan susah payah diterjunkan, malah di hutan sibuk hanya mencari ciplukan.

(Diolah dari: Agus Sukoco)

Hobi Berbagi

Marak akhir-akhir ini seolah lahir hobi baru yang digandrungi masyarakat yakni hobi berbagi dan berkegiatan sosial. Tentu saja butuh penelitian yang panjang untuk mendeteksi apakah betul ada diantara berjenis-jenis hobi itu kemudian muncul hobi baru yakni hobi berbagi dan berkegiatan sosial?

Banyak orang mengartikan apa itu hobi. Pada dasarnya hobi adalah sesuatu yang disenangi dan kerap sekali dilakukan. Menurut Wikipedia, hobi adalah kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran seseorang. Kata Hobi sendiri merupakan sebuah kata serapan dari Bahasa Inggris, yakni Hobby.

Kebiasaan kebanyakan kita yang berfikir serba formalistis membuat kita memandang segala sesuatu secara terpisah-pisah. Kenapa kita butuh menenangkan pikiran kita sendiri dengan cara berbagi dan berkegiatan sosial, diantara sebabnya adalah karena kita jengah dengan kegiatan mencari nafkah yang notabene-nya merupakan kegiatan komersial.

Bagi seorang yang mencari nafkah dengan jalan menjadi pengusaha, apa yang ia kejar adalah laba. Sementara bagi seorang yang mencari nafkah dengan jalan bekerja, yang ia kejar adalah gaji. Gaji sebetulnya tak ubahnya berupa laba pula. Bedanya, apabila pengusaha laba didapatkan dari selisih harga yang ia dapat dari penjualan dikurangi dengan harga yang ia habiskan untuk berproduksi. Sedangkan gaji adalah laba berupa selisih perolehan kemampuan daya beli dikurangi dengan pengorbananresourches berupa waktu, tenaga dan keringat.

Apa yang jelek dari menghimpun laba? Sehingga banyak diantara kita merasa belum tenang apabila belum berbagi dan berkegiatan sosial? Biasanya diwujudkan dengan cara menyisihkan sebagian kecil dari laba atau pendapatan yang kita peroleh.

Tidak ada yang jelek dari menghimpun laba. Yang jelek adalah ketika laba dikejar mati-matian hanya dimanfaatkan untuk dirinya sendiri. Ditutup rapat hingga mampat untuk kemungkinan orang lain merasakan manfaatnya juga. Bagi orang semacam itu, yang dalam agama disebutkikir atau bakhil, berbagi dan berkegiatan sosial adalah pilihan terapi yang baik untuk mengikis sifat buruknya tersebut.

Setelah diri sendiri berhasil diterapi dari penyakit kikir dan bakhil, jangan lantas merasa sudah menjadi pahlawan sosial terlebih dahulu. Masih ada PR-PR yang harus dikerjakan kemudian.

Yang harus dikerjakan berikutnya adalah kita menarik maju memandang aktivitas kita sendiri. Apakah proses kita dalam memperoleh laba itu eksploitatif sehingga merugikan orang lain. Ataukah proses kita memperoleh laba itu eksploratif sehingga sambil kita menghimpun laba sambil ada orang-orang yang merasakan manfaat dari kegiatan kita.

Apa gunanya kita menyisihkan misalnya 10% perolehan laba kita untuk berbagi dan berkegiatan sosial, kalau kita dalam bekerja merugikan kepentingan orang lain berkali lipat lebih besar. Lebih baik kita berbagi dan berkegiatan sosial hanya dengan mengalokasikan 2,5%, toh setiap dari perniagaan dan kerja yang kita lakukan memberi dampak positif kepada orang lain.

Ketika kita sudah melangkah maju memetakan kecenderungan apakah eksploitatif atau eksploratif karier kita, kita akan punya kewaspadaan lebih dalam memandang kesibukan kita dalam berbagi dan berkegiatan sosial. Apakah kesibukan kita dalam berbagi dan berkegiatan sosial itu merupakan hobi yang merupakan dorongan nurani yang tulus dan murni, ataukah sebetulnya pencitraan diri demi menutupi potensi jiwa merugikan dari aktivitas karier kita.

Hal ini tampak sederhana. Sekalipun setelah kita kaji dan renungi, kewaspadaan hati dalam berbagi dan berkegiatan sosial ternyata bukanlah hal yang sederhana. Kita saksikan fenomena hari ini, kesenjangan sosial bukan hanya berada di ranah perolehan nafkah atau dunia karier. Tetapi kesenjangan sosial juga terjadi di ranah volunteringatau dunia berbagi dan berkegiatan sosial.

Sebuah contoh, di banyak daerah ada tempat-tempat ibadah yang kewalahan menampung sodaqoh jariyah dari para jamaahnya. Tetapi yang menjadi ironi, dalam radius tidak jauh dari tempat-tempat ibadah tersebut masih ada kaum dhuafa yang tidak terjangkau teruluri pertolongan. Dan ada berderet-deret contoh dimana prosesi berbagi dan berkegiatan sosial terbukti tidak menggunakan kemanfaatan sebagai skala prioritasnya.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”
(HR. Ahmad)

Bolehlah dimaknai adanya hadits tersebut sebagai pesan dari Nabi kita untuk menjadikan kebermanfaatan sebagai acuan skala prioritas. Kalau asas kebermanfaatan menjadi acuan skala prioritas, maka kita tidak akan mengalami kesenjangan dalam berbagi dan berkegiatan sosial. Tidak ada harta sedekah menumpuk di satu tempat, sementara di tempat lain terjadi kondisi yang mendesak dan bahkan berbahaya.

Maka yang harus kita waspadai adalah : Apakah gerangan hal-hal yang menjadi pengganggu? Sehingga ada skala prioritas lain selain kebermanfaatan. Setidaknya ada beberapa hal, pertama : Niat yang hanya ingin melipur hati sendiri dari kegalauan sebab sudah ber-karier secara eksploitatif. Kedua : Pencitraan diri agar dianggap sebagai orang yang hobi berbagi dan berkegiatan sosial. Padahal hobi jenis ini belum tentu ada betulan.

Dan ketiga adalah : Pamrih non-materiil, yakni kalkulasi perolehan pahala yang berbeda-beda antara sedekah di sebuah tempat dan sedekah di tempat lainnya. Kalau hal ini penyebabnya, pantaskah kita mempertanyakan : Apakah pahala masih menjadi sesuatu yang baik untuk kita jadikan pamrih, sedangkan karena perbedaan besar dan kecilnya pamrih pahala, di muka bumi justru timbul persoalan berupa kesenjangan distribusi sosial? [] Rizky Dwi Rahmawan

Mukadimah : Banyak Men-Satu, Semua Men-Tunggal

Kita kadung mempercayai bahwa kehidupan ini adalah satu ruang yang tersekat-sekat menjadi banyak kamar. Padahal siapa yang menyangka kalau sebetulnya meski banyak pintu dalam kehidupan, semua menuju satu ruang besar yang sama. Dari pintu manapun seseorang memasukinya, pintu tarekat keagamaan, pengembaraan kesenian, penempuhan bisnis, dedikasi sosial atau pintu manapun saja, kita akan bertemu di satu ruang besar yang sama. Asalkan tetap jujur pada kehidupan.

Akan tetapi, dimana tempat yang mengajarkan tentang apa itu jujur pada kehidupan berikut segala ilmunya? Di sekolah-sekolah, yang primer adalah pembelajaran tentang apa-apa saja yang menyangkut ujian membangun karier. Beranjak ke forum kajian agama, malahan dibuat sibuk oleh perkara optimasi perolehan pahala. Kemudian menjajal mencari ke gedung-gedung kesenian, sudah jamak karya-karya seni tersita oleh obsesi eksistensialisme belaka.

Apakah memang sebegitu mencekamnya kehidupan, sehingga untuk mengurusi karier, mengurusi perolehan pahala dan mengurusi eksistensi diri sebagian kita sampai kehabisan waktu untuk sekedar mengilmui kehidupan secara jujur. Jujur sebagaimana jujurnya kita memilih hobi, tidak neka-neko semata-mata mengikuti naluri yang bentuknya berupa kecenderungan hati. Jujur sebagaimana jujurnya kita memilih keprigelan, inspirasi yang merupakan hidayah dari Ilahi.

Beruntunglah kita yang sibuk menikmati hobi dan mengasah keprigelan. Keduanya nampak sangat beragam jenisnya, tetapi sebetulnya berasal dari sesuatu Yang Satu. Saking sibuknya mengurusi semua itu, hingga tak sempat ribut dan bertengkar. Sebab ribut dan bertengkar hanya menambah seolah makin mencekamnya kehidupan saja.[] RedJS

MAMPIR MEDANG (35) : BUMI, DAERAH TERTINGGAL

Manusia diturunkan ke bumi sebagai khalifah. Khalifah yang didatangkan dari tempat asalnya seperti seseorang penduduk negara maju yang diberi tugas berangkat ke sebuah daerah tertinggal. Tugas seseorang di daerah tertinggal tersebut tidak lain adalah untuk membuat kemajuan-kemajuan.

Maka jangan terlena dengan merasa kita ini penduduk bumi. Bumi hanyalah sebuah daerah tertinggal, dibandingkan dengan kemajuan surga. Kita mesti tetap menyadari bahwa  dari tempat yang demikian maju itulah kita berasal-usul. Dan menuju tempat itu pula semoga kita akan kembali. [] RedJS

Harta Virtual

Kita lahir dan besar di era dimana dunia sudah menggunakan sistem uang. Sulit untuk membayangkan bagaimana kehidupan berlangsung tanpa uang. Jenis kehidupan seperti itu hanya bisa kita lihat di museum-museum. Di suatu masa yang terasa sangat jauh dari hari ini.

Dengan uang, pemenuhan kebutuhan setiap orang menjadi berlangsung praktis. Selain pergi ke museum, kita bisa berkunjung ke pelosok-pelosok dimana sistem barter masih digunakan. Kita masih bisa menjumpai peristiwa barter misalnya di perbatasan Timor Leste yakni antara Alor dan Dili, juga di pasar terapung di Martapura, Kalimantan Selatan.

Di era sistem barter masih jaya-jayanya dahulu, orang cukup datang ke pasar membawa sumber daya yang ia miliki. Petani membawa beras, nelayan membawa ikan, pengrajin bambu membawa perkakas berbahan bambu dan sebagainya. Pemilik sumber daya terutama kebutuhan pokok berkumpul di pasar, tukar menukar dan merembug kurs pertukaran riuh terjadi. Kala itu pasar belumlah ilang kumandange.

Hari ini riuh rendah perbincangan dan tawar menawar di pasar berubah menjadi backsound musik. Apa yang kita tanam di pekarangan rumah, atau kerajinan yang dibuat di waktu senggang tidak serta merta bisa ditukar dengan barang lain yang sedang kita butuhkan. Harus laku dijual agar menjadi uang dahulu, barulah uang laku digunakan untuk menebus barang kebutuhan di pasar-pasar modern yang ada saat ini.

Dengan uang, semua menjadi praktis. Apa saja cukup dihitung menggunakan angka-angka dengan deret nol dibelakangnya. Barang kebutuhan ditukar dengan beberapa keping koin atau beberapa helai kertas ‘sakti’ itu. Sangking saktinya, setiap orang sekarang memburu benda itu.

Transaksi keuangan terus bergerak menjadi semakin praktis dari waktu ke waktu. Dari pola jual beli tradisional yang masih menggunakan percakapan “ini harganya berapa?”, kini berubah lebih praktis dengan cukup barang-barang diberi price tag. Tidak perlu tanya jawab harga, sudah tabu adanya tawar-menawar. Cukup di lihat di price tag, kalau setuju dengan harganya silahkan dibeli, kalau tidak setuju tidak usah dibeli.

Bank central yang diberi wewenang mengelola uang di negara kita yakni Bank Indonesia mengaku menghabiskan sedikitnya tiga triliun rupiah per tahun untuk membiayai peredaran uang fisik. Mulai dari mencetak, mendistribusikan, memusnahkan dan memperbaharuinya.

Mengikuti jejak negara-negara maju, dengan salah satu alasannya adalah menekan biaya peredaran uang fisik, pada kurun tiga tahun yang lalu Bank Indonesia mencanangkan sebuah inovasi transaksi yang diwadahi dalam  Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT).

Yang ditawarkan kepada masyarakat dari dicanangkannya gerakan ini adalah kepraktisan. Transaksi-transaksi diarahkan untuk tidak lagi menggunakan uang fisik. Sehingga nantinya transaksi non-tunai akan menjadi tradisi baru, hingga targetnya lahirlah less cash society (LCS).

Less cash adalah ciri khas negara-negara maju. Selain kepraktisan yang ditawarkan, masyarakat juga secara tidak langsung diajak untuk memiliki gaya hidup baru, yakni gaya hidup sebagaimana yang dimiliki negara-negara maju.

Hampir semua toko modern menyediakan EDC sebagai piranti transaksi non-tunai. Pun begitu pembayaran moda transportasi, parkir, tol perlahan semua diarahkan menggunakan sistem pembayaran non-tunai. Termasuk pembayaran bantuan sosial. Selain kartu debit dan kartu kredit yang sudah dikenal sebelumnya, kini di masyarakat juga sudah dipopulerkan uang elektronik. Ada uang elektronik yang menggunakan kartu ber-chip, ada pula jenis uang elektronik yang memanfaatkan ponsel sebagai servernya.

Semua perbankan tentu saja mendukung diberlakukannya sistem ini. Sebab melalui produk kartu-kartu tersebut termasuk uang elektronik, perbankan akan terbantu dalam hal penghimpunan dana dari masyarakat.

Dengan semakin banyak dan masyarakat yang menghimpun dananya di perbankan, hal tersebut akan menjadi penguatan bagi perbankan untuk meningkatkan layanan jasa keuangan, termasuk didalamnya berbagai varian produk kredit.

Bank Indonesia sebagai pusat sirkulasi merasakan manfaat berupa semakin minimnya biaya pengelolaan uang tunai. Sementara itu perbankan merasakan manfaat berupa bertambahnya uang yang dihimpun dari masyarakat. Sedangkan keuntungan yang dirasakan masyarakat adalah gaya hidup dan kepraktisan.

Sebagai sebuah bentuk inovasi menuju kemajuan, ­gerakan less cashtetapilah memiliki sisi keuntungka juga sisi kerugian. Sisi kerugian ini bisa jadi sangat minim dirasakan oleh bank sentral maupun oleh perbankan. Tetapi tidak demikian di sisi masyarakat. Dengan tidak memegang wujud uang tunai, maka uang semakin psicologicaly.

Dengan uang tidak berujud kasat baik berupa koin atau lembaran, rasa mahal dan murah menjadi sangat psikologis dan sangat relatif. Fenomena yang tak heran kita dapati adalah, enteng saja seseorang membelanjakan uang dalam jumlah besar dengan tanpa merasa kemahalan. Ukuran mahal atau murah menjadi seolah ambyar, sebab seseorang dalam bertransaksi tidak perlu merasakan sensasi melolor berlembar-lembar dari segepok uang tunai. Yang orang itu rasakan hanya sensasi menggesek kartu.

Untuk membeli makanan seharga 50 ribu rupiah, akan beda sensasinya antara mengeluarkan uang sejumlah 10 lembar pecahan lima ribuan dengan menggesek kartu meski nominalnya berkali-kali lipat lebih mahal.

Tentu saja relatifnya mahal dan murah masih dipengaruhi juga oleh taraf ekonomi seseorang. Tetapi keberadaan uang virtual memiliki rasa psikologis yang berbeda ketimbang era uang masih serba fisik. Hal ini tidak dapat dipungkiri oleh pengalaman pribadi masing-masing. Terutama oleh generasi yang masih mengalami era dimana uang masih bentuk fisik, belum ada uang virtual.

Begitulah, kita tidak bisa menolak gerakan less cash sebagai keniscayaan dari kemajuan. Tetapi kita tidak boleh menutup mata dari bermata duanya sebuah ‘pisau’ kemajuan. Mengandung fungsi juga mengandung risiko. Ketika uang menjadi semakin priscologicaly, sementara kita tidak terdidik untuk memiliki muhasabah akuntansi yang baik, yang ada adalah kita kedodoran pengeluaran.

Maka tak heran, kalau beberapa orang memilih tetap menjadi kuno dan kolot. Jangankan memegang uang elektronik, tabungan pun masih dihindari. Sebab dengan cara itu, ia merasa lebih bisa menjaga uang-uang yang ia miliki.

Uang yang sejatinya materi, dibuat sedemikian rupa menjadi begitupsicologicaly. Murah dan mahal menjadi terasa relatif karenanya. Semua itu bergantung pada kondisi emosional kita pada saat bertransaksi. Entah kebetulan atau sudah di-set up sedemikian rupa, bagaimana desain interior dan desain pemasaran disiapkan untuk menciptakan suasana psikologis yang kondusif untuk kita begitu nyaman bertransaksi. Perhatikan bagaimana iklan-iklan diciptakan dengan begitu memikat, juga desain interior mall-mall serta factory outlet begitu memanjakan kita untuk melupakan sejenak apa itu mahal dan murah.

Seberapa kita masih dapat berpijak para realitas. Mana kebutuhan dan mana keinginan? Serta mana keinginan yang positif dan mana syahwat atau keinginan yang negatif. [] Rizky Dwi Rahmawan

MAMPIR MEDANG (34) : ANGAN-ANGAN BAHAGIA PALSU

Setiap manusia merindukan Tuhan. Seperti halnya tanaman yang merindukan cahaya, tanaman akan terus bergerak mencari cahaya.

Pun juga manusia, wujud manusia terus menerus bergerak menuju Tuhan adalah tindakan manusia yang terus menerus mencari dan menuju kebahagiaan. Sebab memang Tuhan adalah sumber kebahagiaan. Sebab memang Tuhan adalah kebahagiaan itu sendiri.

Sebab keterbatasan kadar spiritualitas manusia, banyak diantara manusia bergerak menuju ke kebahagiaan tetapi menuju arah yang salah. Yakni menuju sumber cahaya yang palsu. Sebab palsu, maka kebahagiannyapun palsu.

Ketika dalam angan-angan, mungkin arah yang ia tuju nampak demikian membahagiakan. Tetapi ketika sudah tercapai, yang hadir justru keresahan demi keresahan. Sebab yang ia tuju bukan kebahagiaan sejati, tetapi kebahagiaan palsu. Bukan cahaya sejati, hanya cahaya yang palsu.

Kita belajar agama, adalah agar tidak kecele terhadap angan-angan kebahagiaan palsu. Agar tidak salah alamat mengarahkan diri kepada sumber kebahagiaan sejati, Tuhan. [] RedJS