Nasionalisme Sabdo Palon Noyogenggong

Bangsa kita pernah menjalani periode sejarah dengan konsep Hindu-Budha selama berabad-abad. Kedua agama itu menjadi sumur inspirasi, panduan nilai dan ruh kebudayaan bangsa kita hingga mencapai puncak prestasinya di era Majapahit. Bangsa Nusantara terbukti sukses  memperlakukan kedua agama tersebut sebagai ‘penuntun’ langkah kesejarahannya dalam mengelola tanah subur dan berbagai pontensialitas rahmat Tuhan di hamparan negeri khatulistiwa ini. Lahirnya kerajaan-kerajaan besar yang makmur dan sejahtera (gemah ripah loh jinawi tata tentram kerta raharja) di Nusantara di era pra Islam adalah bukti bahwa bangsa kita memiliki kecerdasan dalam mendayagunakan modal nilai yang ditawarkan oleh konsep Hindu-Budha. Sebab modal sebesar dan sehebat apapun akan sia-sia jika subyek yang menggunakannya tidak memiliki potensialitas pribadi yang prima.

Bangsa Nusantara adalah bangsa yang adaptif dan akomodatif. Setiap agama yang datang diterima dengan sikap arif sebagai tambahan modal, ilmu dan inspirasi baru untuk mengerjakan sejarah. Di masa Brawijaya V,  diakhir kekuasaan Majapahit , Islam mendapat momentum untuk hadir sebagai jawaban baru atas berbagai persoalan yang dihadapi Bangsa Nusantara. Meskipun jauh sebelum itu, Islam sebagai agama sudah datang di tanah Nusantara di wilayah-wilayah moral dan arena sosial yang sepi dari kekuasan politik. Pada momentum tersebut negosiasi penyatuan Islam dan Jawa dimulai secara lebih komprehensif oleh Wali Sanga.

Bangunan peradaban dan struktur sosial budaya yang telah berabad-abad dikonstruksi  berdasarkan konsep wahyu Hindu-Budha mencoba disentuh dengan asupan nilai baru yaitu wahyu Islam. Perombakan itu berlangsung secara substantif, negosiatif dan  kultural melalui penyadaran spiritual, bukan gerakan kudeta yang konfrontatif. Berbagai ide-ide baru mencoba ditelorkan oleh Wali Sanga untuk megantar perubahan mendasar. Diantaranya adalah mendirikan kerajaan Demak.

Demak adalah manifestasi gagasan awal Wali Sanga dalam mengkonstruksi pondasi peradaban nusantara pasca Majapahit.  Jika melihat dari pengalaman masa silam, Bangsa Nusantara sempurna menggunakan Hindu-Budha sebagai sumber inspirasi gagasan-gagasan sejarahnya hingga berhasil melahirkan kebudayaan tinggi dan prestasi peradaban besar adalah  karena kedua agama tersebut sudah benar-benar menyatu dengan aliran darah dan urat syaraf kebudayaan Nusantara. Artinya sudah tidak ada konflik dan pertentangan antara Hindu-Budha dengan tradisi dan prinsip-prinsp teologis yang sedang ditempuh melalui laku spiritual lokal. Karena Bangsa Nusantara bukan Bangsa yang belum sama sekali menjalani pencarian spiritual sebelum kedatangan Hindu –Budha.

Bangsa Nusantara sudah menjalani proses panjang perjalanan sejarah spiritualitasnya  dengan metode dan formula ‘tharekat’ yang bertahap-tahap, sejak masih secara mandiri menggunakan daya intuisi pribadi dalam menempuh  pencarian hakekat sangkan-parannya sampai kemudian  kedatangan agama-agama samawi Hindu-Budha, dan Islam. Dengan Hindu-Budha, Bangsa Nusantara terkesan begitu mulus proses penerimaannya di awal-awal kedatangannya, sampai tidak menyisakan sedikitpun informasi sejarah pertentangan apa-apa. Tetapi terhadap Islam, seperti ada faktor yang menciptakan  jarak persaudaraan yang sangat lebar. Islam dibuat sedemikian asing dan mengancam. Islam seolah-olah hadir bukan sebagai kontiunisasi proses sebelumnya, tetapi digambarkan sebagai ‘hakim’ untuk menyalahkan realitas masa-lalu bangsa kita dalam menempuh tahab-tahab sejarah dan proes mengerjakan kebudayaannya.

Jaman pra Islam, sejarah Bangsa Nusantara tidak pernah diwarnai konflik agama, gesekan antar aliran spiritual, dis-harmoni sekte –sekte keyakinan, dan perbenturan mahdzab teologis. Seandainya ada pertengkaran sosial, itu bersumber dari persoalan-persoalan sehari-hari sebagai orang hidup yang berada pada lapisan-lapisan kepentingan sosial politik dan ekonomi. Konflik sosial tidak pernah berangkat dari masalah rebutan Tuhan dan Surga. Leluhur kita sangat mengerti hakekat agama sebagai jalan pribadi yang suci, sunyi dan lembut. Tuhan bukan benda padat yang berada di luar diri manusia sehingga bisa diklaim oleh kelompok aliran agama tertentu dalam menentukan bentuk dan warnanya. Tuhan berada di luar area pengetahuan dan identifikasi indrawi. Konflik agama dan perang antar keyakinan agama itu sesungguhnya tidak lebih cerdas dari pertengkaran anak balita yang berebut kelereng.

Bangsa Nusantara berada pada ‘maqom’ kecerdasan intelektual dan spiritual yang paripurna, sehingga agama yang ada pada saat itu berfungsi optimal dan kontributif terhadap kehidupan sosial, perkembangan budaya, dan peningkatan martabat kemanusiaan. Tidak seperti saat ini, agama menjadi penyokong besar pertengkaran sosial dan sumber konflik yang tidak berkesudahan. Hindu-Budha berdampingan mesra pada era  pra Islam karena masing-masing pemeluknya mengkontribusikan aspirasi nilai keagamaannya bagi prinsip kesejahteraan hidup bersama sebagai sebuah bangsa. Bangsa Nusantara memiliki kecerdasan untuk memposisikan agama tetap berada di tempat  yang sakral dan fungsi yang presisi, yaitu menjadikannya sebagai jembatan ruhani dan  medan dialog batin manusia dengan Tuhan, bukan menginstitusionalisasikan agama menjadi lencana budaya dan identitas  sosial.  Agama adalah metode untuk ‘memetik’ inspirasi langit sebagai bahan untuk mengolah bumi.  Bahan dari langit tersebut berupa gagasan-gagasan cerdas yang kemudian menjadi produk budaya ketika diterapkan di bumi. Inspirasi agama inilah yang berfungsi mengawal dinamika kebudayaan bumi dan menuntun kreatifitas kedaulatan akal manusia agar tetap selaras dengan sunah alam atau kehendak Tuhan.

Prinsip kebangsaan pada saat itu mengikat begitu kuat karena Bangsa Nusantara telah mengenal diri sejati atau jati diri kebangsaannya. Bangsa yang percaya diri, sehingga tegak dalam posisi sebagai subyek di lapangan sejarah. Kedatangan Hindu-Budha  tidak lantas membuat Bangsa Nusantara  berbondong-bondong menjadi orang India. Bangsa Nusantara tetap sebagai subyek yang mengelola Hindu-Budha untuk memperkaya ilmu dan menambah referensi pengetahuan sebagai sebuah bangsa. Hindu-Budha sebagai agama justru dipakai oleh Bangsa Nusantara untuk makin mempertegas pengenalan diri kebangsaannya. [] Agus Sukoco

…Bersambung.