Mukadimah: “Sholawat: Proses dan Prosesi”

TIDAK ADA NEGERI dengan jumlah muslim lebih besar dari negeri kita. Negeri dimana umat muslimnya amat mencintai Nabinya. Puja-puji sholawat siang, sore dan malam dilantunkan di masjid, langgar dan majelis-majelis. Di banyak tempat, di banyak daerah. Oleh anak-anak, muda juga tua. Tidak ada negeri yang begitu kaya dengan ekspresi cinta umat kepada Nabinya melebihi negeri kita.

Sholawat diekspresikan dalam begitu banyak cara, melalui lirik, syair dan bentuk-bentuk kemesraan pribadi masing-masing. Karena memang cinta tidak bisa dijegal dengan hukum-hukum, ekspresi cinta yang tulus itu tidak bisa dipersalahkan sepanjang ia tidak melanggar akhlak dan mengganggu ketertiban sosial.

Mungkin banyak diantara generasi saat ini yang lebih mengenal Sang Nabi sebagai penegak hukum, karena sabda dan tutur kata beliau lebih popular sebagai dalil-dalil untuk membenarkan dan menyalahkan, bukan sebagai penuturan cinta dan keindahan. Padahal bukankah Muhammad diutus kepada kita tidak ada tugas lain selain sebagai penyempurna akhlak?

Mengucap sholawat dan melantunkan Al-Quran akan berhenti sebatas prosesi, jika kita tidak berangkat dari pengenalan kita yang baik atas kesempurnaan akhlak Nabi Muhammad.

“Muhammad adalah manusia biasa, tetapi ia bukan manusia biasa, ia adalah permata yakut diantara batu-batu.”

Sebagai manusia biasa, Muhammad menempuh proses yang panjang sebelum kemudian orang pertama dalam sejarah mengenalnya sebagai Nabi. Proses riyadhah atau tirakat, proses membangun diri dengan ilmu, proses aktualisasi sosial dengan integritas, menjadi sirah panjang perjalanan hidupnya.

Bagian dari bentuk ekspresi cinta kepada Nabi Muhammad adalah dengan tidak melepaskan proses hidup kita dari proses penyempurnaan akhlak yang ia tempuh. Dan agar dalam beragama kita tidak salah arah, kenalilah para pewaris  Sang Nabi dari bagaimana ia telah menempuh proses hidup. Bukan sebatas pada kealiman busananya dan kefasihan bahasa arabnya.[] RedJS