Mukadimah: Melancong ke Masa Lalu

Muqadimah Juguran Syafaat April 2016

KALAU HARGA nasi goreng di pinggir jalan sekian rupiah, itu karena memang hitung-hitungan biaya produksinya segitu, atau lebih karena ngumumi harga makanan sejenis di tempat lain? Kalau untuk berwisata kita lebih bepergian ke tempat yang jauh menggunakan kereta api atau pesawat, atau memilih waterparkwaterboom dan seaworld itu karena memang kehausan hati untuk bahagia dipersyarati dengan harus terpenuhinya kegiatan-kegiatan itu, atau karena ngumumi bagaimana lazimnya orang berwisata?

Ada dua alasan orang kenapa kok tidak mencobai melancong ke masa lalu. Pertama, karena masih tetap nyaman umpel-umpelan ditengah sumpeknya obyek wisata yang lazimnya dikunjungi orang masa kini. Atau kedua, menganggap tidak ada yang menarik untuk dikunjungi di masa lalu. Padahal, betapa menariknya masa lalu, masa dimana memiliki bentang jarak yang tidak begitu jauh tapi diantara keduanya kita dapat menyaksikan dua peradaban yang berbeda pada banyak hal di dalamnya. Kendaraan dulu dan sekarang beda bentuknya, beda pula keterjangkauan biayanya. Arsitek rumah dulu dan sekarang berbeda kekuatan materialnya, juga orientasi pembuatannya. Alasan orang beragama juga mungkin berbeda antara orang dulu dan sekarang.

Kalau masa lalu diintai dari tempat kita berpijak saat ini, dilihat dengan cara pandang masa kini, yang kita jumpai adalah sebuah ke-kuno-an, tradisional, ketinggalan jaman dan segudang stigma jumud lainnya. Namun, bagaimana kalau kita mencobai jebar-jeburadus slulup di bentang ruas kenangan dan memori kita. Menyaksikan masa lalu dengan sudut pandang masa lalu. Menyaksikan betapa semakin ke masa kini, orang semakin akut dalam rekayasa, semakin jauh dari kealamiahan. [] RedJS