Mukadimah: Kawruh Basa Basi

Muqadimah Juguran Syafaat Maret 2016

Apa yang membuat suasana desa guyub rukun diantaranya adalah hidupnya interaksi diantara anggota masyarakatnya. Mereka berinteraksi antara satu dengan lainnya bukan hanya pada saat seseorang butuh dengan orang lainnya, kadang hanya untuk sekedar bertemu mengisi waktu. Bahkan sekedar ketika tak sengaja berpapasan, mereka mempunyai pilihan tema obrolan yang sangat kaya sehingga terbangunlah interaksi. Mungkin sekedar omong-omong seputar koleksi bahasa-bahasa yang basi, tetapi hal itu bisa menjadi menyambung hati, membuat suasana jadi terbangun. Orang-orang desa kebanyakan memang masih pandai memainkan seni berbasa-basi.

Seni berbasa-basi tidak menjadi bagian dari jurusan seni di universitas manapun. Walaupun kalau kita tidak mempelajarinya kita akan kerepotan sendiri, karena kita senantiasa dituntut berinteraksi dengan orang lain. Akibat tak memiliki kekayaan khasanah berbasa-basi, walhasil ketika duduk di kendaraan bersama orang lain, masing-masing sepanjang perjalanan diam asyik sendiri. Atau contoh yang terjadi lainnya, suasana menjadi rusak ketika bertemu kawan lama sebab gagal memilih topik bahasan yang berseni : “Kapan lulus?”, “Kapan menikah”, “Kapan punya anak?”

Kita menjadi gagap dalam berbasa-basi, tak sanggup menyambung hati, karena bisa jadi selama ini kita berinteraksi dan menjumpai orang lain sibuk sebatas memenuhi apa yang kita butuhkan dari orang itu. Sebetulnya yang pokok adalah orang yang kita jumpai, sedangkan terpenuhinya kebutuhan dan kepentingan kita adalah imbasnya, atau yang pokok adalah kebutuhan dan kepentingan kita, sementara orang yang kita jumpai hanya alat pemenuhnya saja? Pertanyaan ini juga patut kita tanyakan ketika menuntut ilmu : Sebetulnya yang pokok adalah guru kita sehingga haruslah beradab kepadanya, atau yang pokok adalah ilmunya dan guru hanyalah alat saja?[] RedJS