MAMPIR MEDANG (6) : TUAN RUMAH YANG NJAWANI

“Wahai Tuhan, ku tak pantas di surgamu. Namun sungguh, ku tak mampu ke nerakamu”. Itu adalah sekutip kalimat Abu Nawas, seorang pujangga besar yang hidup sebelum abad pertengahan.

Kalau ada seseorang dipersilahkan untuk numpang tinggal, manggon di rumah seseorang. Apakah ewuh seseorang tersebut mengatakan bahwa rumah tempat ia manggon itu tidaklah indah dan nyaman?

Di Bumi ini kita diijinkan manggon, numpang tinggal oleh Allah. Apakah ewuh kita mengatakan bumi ini bukan surga? Apakah ewuh mengatakan Bumi ini sebagai neraka? Inilah kesadaran yang mungkin dimiliki Abu Nawas dalam mensyukuri telah diberi tempat manggon oleh Allah. Ini pula yang harus menjadi kesadaran kita sebagai orang yang sama-sama numpang tinggal di Bumi.

Pertama adalah kesadaran mensyukuri, bersyukur berterima kasih karena telah diberi tempat manggon oleh Allah. Setelah mensyukuri berikutnya adalah kesadaran memohon maaf, ber-istighfar sebab laku perbuatan kita selama numpang hanya membuat repot. Sebagai tuan rumah yang njawani, tentu Allah akan merespon syukur dan permohonan maaf kita dengan respon kelembutan : Tidak apa-apa, kalau kamu butuh apa-apa, sampaikan saja.

Begitulah Allah senantiasa merespon kita, berdialog dengan kita. Jangan dikira Abu Nawas tidak direspon oleh Allah ketika mengatakan kalimat itu : Memangnya, kalau kamu tidak tinggal di sini, bisa tinggal di mana kamu?[]RedJS