MAMPIR MEDANG (5) : “DZIKIR : MENDENGARKAN”

Allah menciptakan malaikat, kemudian malaikat menjadi makhluk yang demikian patuh. Patuh menjadi pendengar Allah yang baik. Lalu Allah menciptakan Iblis, tetapi Iblis sibuk berbicara sendiri. Berikutnya,  Allah menciptakan manusia, berharap manusia bisa berbicara dan mendengarkan dalam porsi yang pas, sehingga bisa berlangsung dialog.

Manusia diminta berdzikir. Dzikir sebagai sarana dialog itu. Namun entah sejak kapan, manusia malah menjadi sibuk sendiri berbicara menyampaikan permohonan-permohonan dalam setiap dzikirnya. Bahkan ada diantaranya yang tidak berdzikir kecuali jika sedang ada kebutuhan dan  permohonan yang harus disampaikan.

Sampai-sampai lupa, bahwa ketika manusia berbicara dan menyampaikan kepada Allah, Allah selalu membalas dan memberi respon. Allah tersambung dalam dialog.

Kebanyakan manusia tidak lagi mampu mendengar informasi yang Allah sampaikan dalam dialog itu. Mereka larut dalam hiruk pikuk dan ruingnya ucapannya sendiri, sekalipun ia sedang dzikir.

Sedangkan, pohon-pohon terus berdzikir, menerus bertasbih. Bukan dengan komat-kamit, sebab pohon tak memiliki mulut. Dzikirnya pohon adalah dengan setia mendengarkan Allah, mendengarkan kebenaran yang Allah informasikan. [] RedJS