MAMPIR MEDANG (20) : DIAKU SEBAGAI ANAK

Ketika akhlak pekewuh orang yang sedang menumpang di sebuah rumah sudah demikian sempurna, akibat baiknya adalah si pemilik rumah menjadi tidak hitungan dalam melakukan pemberian. Hingga segala sesuatu apa-apa yang menjadi kebutuhannya dipenuhi.

Akibat baik berikutnya adalah sangat mungkin ketika si pemilik rumah benar-benar tersentuh hatinya oleh kesempurnaan tingkat pekewuh si orang yang numpang itu, kemudian si pemilik rumah lalu memutuskan “Mulai saat ini, jangan anggap aku orang lain, kamu anggap saja aku sebagai bapakmu sendiri”. Dengan kata lain, si orang yang menumpang itu diaku anak oleh si pemilik rumah.

Dalam keyakinan kita, Tuhan tidak beranak dan tidak diperanakkan. Itu sudah final. Tapi betapakah tidak mungkin, ada hamba-hamba yang numpang di bumi-Nya kemudian ia memiliki kualitas hubungan yang demikian paripurna.

Ketika tuan rumah tempat kita menumpang sudah menanggap kita seperti anak sendiri, maka semakin tak bersekatlah kasih sayang yang dicurahkan, maka melebur sudah konsep kepemilikan, juga konsep menumpang.

Seperti bukankah, orang yang paling tidak sungkan bagi seorang anak dalam meminta segala sesuatu adalah kepada bapaknya, kepada orang tuanya sendiri? [] RedJS