MAMPIR MEDANG (18) : KEINTIMAN HUJAN

Orang yang dalam konsep hidupnya ada Tuhan, ketika ia memerlukan hujan reda dan tepat di saat itu hujan benar-benar reda, maka yang ia lihat bukanlah hujan, yang ia lihat adalah Tuhan, perkenan dan perilaku Tuhan.

Redanya hujan tepat pada saatnya seseorang butuh hujan untuk reda bisa jadi adalah sebentuk kasih sayang Tuhan. Kasih sayang berupa kemesraan yang sangat personal, intim, karena pemaknaan itu hanya berlaku bagi ia seorang.

Redanya hujan tepat pada saatnya seseorang butuh hujan untuk reda adalah sebuah keintiman seseorang dengan Tuhan. Menjadi tidak pas kalau justru ia gembor-gemborkan, ia bangga-banggakan.

Seperti halnya seorang kekasih yang dengan intim mengecup kekasihnya. Cukup keintiman itu dinikmati berdua. Kalau digembor-gemborkan, dipamer-pamerkan akan membuat malu, tidak enak hati atau bisa jadi marah.

Redanya hujan tepat pada saatnya seseorang butuh hujan untuk reda adalah sesuatu yang sangat intim, sangat personal.[] RedJS