MAMPIR MEDANG (16) : PASCA TURSINA

Yang dipersyaratkan Khidir kepada Musa ketika hendak berguru adalah: jangan bertanya!

Ikuti saja perjalanan Khidir, ikuti saja kehadiran demi kehadiran Allah. Untuk hal-hal yang belum dapat kita menemukan syukur di dalamnya, jangan gusar, bernafsu terburu-buru mempertanyakan, atau menyanggah, atau protes berontak.

Logika kita terbatas, tak seluas logika Allah walau sekedar kehadiran-Nya. Sama seperti pengetahuan Musa yang tak mampu menjangkau pengetahuan Khidir.

Musa tidak paham ada kapal nelayan miskin kenapa dibocorkan. Tidak ada dalam logikanya, anak kecil oleh Khidir dibunuhnya. Tak mengerti pagar roboh kenapa musti didirikan. Tidak logis semua itu.

Begitupun, banyak peristiwa hidup yang tidak logis untuk kita syukuri. Bukan sebab peristiwa yang kita hadapi itu bukan nikmat berkandungan syukur, tetapi sebab logika kita saja yang sempit.

Begitulah Musa dipertemukan Tuhan dengan Khidir, sebagai kelanjutan pasca ia pingsan di Bukit Tursina. Setelah ia gagal melihat Tuhan dengan perspektif materi, Tuhan tawarkan opsi kompromis untuk melihat-Nya. Yakni dengan berguru, mengikuti perjalanan Khidir.[] RedJS