MAMPIR MEDANG (10) : MALPRAKTEK

Apakah dukun jelek? Dukun tentu ada yang baik juga ada yang jelek. Apakah semua dukun itu jelek? Jangan di pukul rata dulu. Sebelum Peradaban Yunani mengenalkan pada kita istilah-istilah profesi, tukang batu, pandai besi, ahli kunci, dsb, istilah dukun lah yang dipakai sebagai pertanda penguasaan atas bab tertentu : Dukun bayi, dukun sunat, dukun penganten, dukun ebeg, dll.

Sebab dukun berpraktek tidak menggunakan tata cara yang dipakai oleh medis yang modern, sehingga ia dipinggirkan. Bagaimana cara meminggirkan? Caranya dengan meng-expose kejadian malpraktek dari praktek-praktek perdukunan. Kemudian dipeliharalah cara berpikir tidak proporsional di masyarakat kita: Kalau ada dukun malpraktek, semua dukun dianggap jelek, tapi kalau ada prosedur medis modern yang membahayakan pasien, tidak serta-merta dianggap praktek medis modern tersebut membahayakan, tapi hanya diungkap sebagai malpraktek belaka.

Di lingkup yang lebih luas, seringkali sengaja sesuatu hanya ditonjol-tonjolkan malprakteknya, atau kedatangan suatu hal baru yang sebetulnya membahayakan secara keseluruhan hanya dikatakan sebagai malpraktek. Sudut pandang kita menjadi sepenggal tentang segala sesuatu, kita diam-diam menyingkirkan apa-apa yang sebenarnya lebih sesuai dengan modalitas kepribadian kita.

Kejawen itu baik atau jelek, kita menghakimi berdasarkan contoh-contoh malpraktek orang dalam berkejawen. Apakah filsafat itu jelek, kita pun menilai berdasarkan pengenalan kita yang sepenggal tentang filsafat.. [] RedJS