Maiyah tapi Arogan

Pada saat pertama ber-Maiyah kita akan mendapatkan ketenangan hati. Ketenangan hati didapat karena kita dibuat untuk bisa memiliki cara berpikir yang berbeda. Diantara cara berpikir yang berbeda adalah cara pandang kita terhadap kebahagiaan. “Kita bahagia itu terserah-terserah kita, yang membuat kita bahagia itu bukan orang lain”, banyak yang bilang seperti itu. Misal kita sudah lelah-lelah kerja tapi kita anggap kelelahan itu adalah nikmat. Jadi bahagia itu ada di dalam cara berpikir kita.

Ber-Maiyah bukan hanya sebatas membangun kemampuan berpikir berbeda, tetapi juga membangun cara berpikir yang lebih mendalam. Sehingga dalam peristiwa keseharian, kita mengalami apa saja mampu menemukan kedalaman. Dari peristiwa sedang duduk di dalam bus misalnya, ketika melihat ada satu buah salak yang menggelinding ke depan melewati kaki temanku, selang beberapa menit salak kembali lagi kebelakang dan terhenti tepat dikaki temanku. Iya, rejeki ya seperti itu tanpa kita sibuk berebut tapi akan datang sendiri seperti salak yg menggelinding tadi tapi tidak akan terjadi jika tidak menaiki bus itu. Dapat menemukan, melihat apa saja, ada sesuatu dibalik setiap peristiwa atau yang disebut hikmah.

Apakah berhenti hanya disitu, dengan kenikmatan batin kita sendiri. Ternyata ada tahap berikutnya, kita perlu membaca hukum sosial yg berlaku dan menerapkan kadar yang pas antara cara pandang dengan hukum yg berlaku. Contohnya, sebenarnya sudah cukup bagi kita dengan kenikmatan batin dapat melihat Allah, melihat kedalaman hikmah di dalam segala sesuatu. Mau orang lain menganggap kita terasing dan aneh juga tidak apa-apa. Tapi ada hukum yang berlaku dimana orang asing akan sulit membuat perubahan. Maka kita cari duit, menjadi kaya, agar disegani, agar tidak dianggap asing. ‘Tangi gasik’ agar dianggap sregep dan tidak aneh, menjadi orang wajar.

Mengikuti hukum sosial yang berlaku. Tapi tetap dalam kesadaran kenikmatan batin. Jangan sampai larut dalam kenimatannya sendiri dan tidak mau memahami hukum yang berlaku. Karena itu namanya arogansi ber-Maiyah.[] Hirdan Ikhya