JS Kemarin

Awale Mung Kumpul Bocah

Sekumpulan pemuda ini rata-rata berumur 28 tahun. Hampir seumuran. Berbagai pekerjaan dijalani, ada yang wiraswasta, kantoran, pedagang, freelance, pengangguran, petani hingga masih mahasiswa. Berkumpul menjadi hal yang merekatkan mereka sejak tahun 2005. Beberapa diantaranya persambungan karena kawan lama sejak SMA, ada juga yang lebih lama yaitu kawan sejak SMP, atau pertemuan-pertemuan khusus seperti di kampus. Sejak 2005 akhir mereka membuat komunitas pemuda yang mempunyai mimpi untuk ikut support anak muda dalam hal perubahan motivasi dan orientasi hidup.

Dengan bekal seadanya, mereka membuat media berbentuk koran yang ditempel di dinding sekolah, disingkat kording. Pertama kali terbit pada 12 Desember 2006. Kording ini jauh dari kaidah etika jurnalistik, bisa dikatakan modal nekat miskin ilmu. Tapi untuk urusan semangat belajar dan militansi jangan ditanya. Kording ini berisi muatan tentang motivasi belajar dan bercita-cita. Beberapa ditulis sendiri oleh tim redaktur, dan yang lain adalah comotan dari internet. Jangkauan sebarnya meliputi SMP dan SMA di 4 kabupaten yaitu Banyumas, Purbalingg, Cilacap dan Banjarnegara.

Kording ini bertahan tertempel selama 2 tahun lebih. Dari media Kording inilah, mereka berupaya untuk bertransformasi ke pelatihan. Tahun 2008, lagi-lagi berbekal nekat dan doa, mereka menawarkan pelatihan di sekolah-sekolah untuk persiapan mental menghadapi Ujian. Beberapa sekolah menerimanya dengan senang hati, sebagian besar yang lain menolaknya dengan halus. Bukan karena apa-apa, mungkin memang timming saat itu belum ramai pelatihan motivasi menghadapi ujian. Ada juga pelatihan public speaking dan softskill untuk guru-guru. Beberapa kali juga mereka merambah kota-kota di Jawa Tengah untuk mengadakan tour pelatihan ini. Sebuah potret bahwa yang mereka lakukan sudah melampaui jamannya.

 *  *  *

Diskusi ke Diskusi

Diskusi selalu berjalan, bahkan sejak sebelum penciptaan Kording. Hampir setiap hari mereka berkumpul di rumah kontrakan di jantung kota Purwokerto yang mereka anggap sebagai markas. Berbicara ngalor ngidul, membahas fenomena sosial, pengembangan diri, agama, hingga asmara pun tak lepas setiap waktunya. Selain diskusi, mereka rajin untuk saling sambang satu sama lain. Sehingga keluarga besar mereka makin erat persaudaraannya.

Selain diskusi, mereka rajin mengikuti pelatihan-pelatihan dari wirausaha, pengembangan diri sampai yang berbau-bau agama. Rasa haus akan ilmu menjadi sandaran dalam mereka mengikuti pelatihan. Dari Jakarta hingga Malang mereka buru dengan serius. Katanya untuk keberkahan ilmu, semua dikejar meski jauh. Guru-guru terbaik tanah air pun mereka temui. Proses ini ada pada periode tahun 2008-2010.

Tapi nampaknya semua perjalanan belum menyembuhkan dahaga mereka. Masih ada yang kurang dalam hidup. Pencarian akan jati diri belum usai. Melihat kondisi dunia yang penuh carut marut ini, harus kemana lagi akan melangkah. Usia menuju 25 adalah masa-masa penuh dengan pertanyaan hidup dan perjuangan memepertahankan idealisme.

Hingga pada suatu ketika, internet pada kontrakan mereka menyentuh youtube dengan kata kunci “Cak Nun”. Dari situ mereka sangat tertarik dengan apa yang Cak Nun sampaikan di forum-forumnya. Segar, membuka pikiran dan mencerahkan. Tafsir-tafsir yang kontekstual. Bahasa yang ringan mudah dimengerti. Meski tak jarang bahasa melangit, tapi dalam beberapa kali berfikir akhirnya bisa dicerna juga. Beberapa diantaranya tertarik dengan musik Kiai Kanjeng yang dimotori oleh Cak Nun itu sendiri. Musik yang kaya dan berisi terlihat dari setiap pementasannya.

Diskusi terus berlanjut. Sehabis menonton youtube Cak Nun, mereka berdiskusi dari hasil apa yang mereka tonton bersama. Ada juga seorang yang mulai mengumpulkan buku-buku Cak Nun dan membacanya satu persatu. Memperkaya diri dengan khasanah pemikiran Cak Nun. Ada juga yang mulai men-downloadlagu-lagu Kiai Kanjeng dan tentunya diperdengarkan bersama.Dari situlah, pemikiran Cak Nun mulai mempengaruhi sekumpulan pemuda ini.

 *  *  *

Setia Hadir

Dan tumbu temu tutup. Pada 28 Oktober 2010, seorang kawan mengabarkan bahwa ada pengajian Cak Nun Kiai Kanjeng di Desa Kalisalak, Kebasen yang jaraknya sekitar 15 KMdari Purwokerto. Berangkatlah mereka dengan semangat ekstra. Meski hujan sejak sore tidak menyurutkan stamina belajar mereka menuju ke tempat acara. Berhujan-hujanan, setia dalam beceknya lapangan desa terobati ketika bisa mengikuti ceramah Cak Nun langsung disertai iringan musik Kiai Kanjeng yang syahdu dan rampak.

Sesudah itu, para pemuda itu menjadi rajin mengikuti Maiyah Mocopat Syafaat di Bantul, Yogyakarta. Sudah seperti wajib rasanya, setiap tanggal 17 pasti menjadi agenda rutin mereka untuk setia hadir “berziarah” ke Yogyakarata. Pemikiran mereka menjadi makin meluas dan mendalam. Dalam beragama menjadi semakin dewasa. Tidak egois. Melihat masyarakat menjadi lebih peduli. Berpolitik menjadi punya pijakan kaki. berkesenian menjadi punya makna tujuan. Dan disitulah nampaknya pertanyaan-pertanyaan hidup sekumpulan pemuda ini terjawab satu persatu.

Selama hampir 3 tahun setia mengikuti kajian-kajian di forum Maiyah di berbagai tempat seperti Mocopat Syafaat, Gambang Syafaat dan beberapa forum di sekitaran Jawa tengah, maka mereka mempunyai inisiatif baru. Mereka mencoba untuk ikut berperan aktif bermaiyah dengan menggagas forum seperti yang mereka ikuti sebelumnya. Dengan berkiblat ke Kenduri Cinta, Jakarta, mereka menyelenggarakan forum maiyah ini perdana pada Sabtu, 13 April 2013. Lagi-lagi hanya bermodal nekat dan doa, forum ini berjalan lancar dengan peserta 50-an orang hingga pukul 01.00 dini hari. Forum ini dinamakan Juguran Syafaat. Yang mempunyai arti “Juguran” adalah duduk-duduk santai, tongkrongan, ngariung. Dan “Syafaat” sendiri adalah pertolongan istimewa dai Kanjeng Nabi. Mereka berharap bahwa melalui forum ini dengan format santai duduk-duduk juga bisa saling sharing pemahaman yang mengantarkan merka mendapatkan pertolongan istimewa dari Kanjeng Nabi Muhammad.

Pada penyelenggaraan kedua, mereka dipertemukan dengan sedulur Maiyah dari Purbalingga. Dengan dipandegani Agus Sukoco, sedulur Maiyah Purbalingga ternyata sudah lama melingkar bersama dalam berproses. Mereka sudah sejak 2006 mengikuti Forum Maiyah Mocopat Syafaat. Disehari-hari, mereka bekerja sebagai karyawan swasta, buruh pabrik, pedagang, petani hingga penganggur. Pertemuan rutin mereka setiap malam Jumat, bersholawat bersama di belakang rumah Agus Sukoco. Selain itu juga mencoba menggali lebih dalam apa yang sudah disampaikan oleh Cak Nun ditempat lain.

Diam-diam mereka sudah bergerak. Dalam kesunyian, forum-forum sholawat mereka gagas dari rumah ke rumah. Dari desa ke desa. Hingga pada Desember 2012, sedulur Purbalingga ini bisa meminta Cak Nun dan Kiai Kanjeng untuk mengaji bersama di Karanggambas, Purbalingga. Prestasinya kala itu adalah Cak Nun berjabat tangan terlama selama perhelatan Cak Nun dan Kiai Kanjeng selama ini. Selain rajin bersholawat dan kecil-kecilan berdiskusi, sedulur Purbalingga rajin berziarah dan laku tirakat. Jika diskusi sudah mentok, maka wirid dan tirakat menjadi andalan utama. Demikian falsafahnya. Dan itu menjadi tradisi hingga saat ini.

Sedulur Purbalingga ini sangat senang sekali bisa bertemu dengan teman-teman Purwokerto. Seperti saudara lama yang dipertemukan kembali. Sejak 2006 berproses hingga 2013 bertemu di Juguran Syafaat, tidak pernah mereka berani untuk membuat forum terbuka seperti ini. Dan Juguran Syafaat inilah jawaban atas kegelisahan sedulur Purbalingga selama ini. Yang dari Purbalingga memahami betul aspek spiritualitas, sedangkan dari Purwokerto kaya akan khasanah modern ilmiah. Bersatu berproses bersama, saling mengisi saling melengkapi. Setiap person, paham kerja dan wilayahnya masing-masing.

 *  *  *

Dari Juguran ke Juguran

Hingga saat ini Juguran Syaafat memasuki edisi ke 35. Setiap hari Rabu mereka masih berkumpul rutin untuk membicarakan ngalor ngidul, fenomena sosial, pengembangan diri, agama hingga asmara. Masih sama seperti 6 tahun yang lalu. Hanya saja kerangka diskusinya ada pada garis besar Maiyah. Cara pandang mereka sudah berubah. Sudut pandang terhadap maslah jadi lebih luas. Malam Jumat setia berkumpul dengan sedulur di Purbalingga ikut bersholawat dan membahas kedalaman Maiyah bersama.

Evaluasi-evaluasi selalu dijalankan sesudah penyelenggaraan forum. Dari konsep acara, tema, pengisi acara, sesi diskusi, musik pengisi, sound system hingga sekedar penyajian makanan kecil dan kopi. Setiap detail mereka perhatikan. Pelan-pelan berlatih berdiskusi dengan tujuan lebih spesifik yaitu penentuan tema diskusi untuk Juguran Syafaat bulan depan. Juga pembagian kerja dari pra acara hingga setelah acara. Pengalaman menyelenggarakan event menjadi bekal tersendiri dalam penyelnggarakan forum Juguran Syafaat ini.

Salah satu yang menjadi kebanggan mereka adalah mampu menjadi tuan rumah pada Silaturahmi Penggiat Nasional pada 4-6 Desember 2014 di Baturraden. Dimana pesertanya adalah semua simpul Maiyah Nusantara dari Lampung hingga Surabaya. Rasa-rasanya baru kemarin Juguran Syafaat perdana terselenggara. Dan April besok ternyata sudah 3 tahun berproses. Pelan-pelan mereka mengistikomahi proses perjalanan bermaiyah ini. Satu-satunya tujuan cuma satu, ikut bisa nyicil ngrewangi Mbah Nun dandan-dandan peradaban. [] RedJS