Jenderal Soedirman Tidak Mati

Pengajian Haul Jenderal Soedirman di Pondok Pesantren An Nahl Purbalingga, 20 Februari 2016

Langit mendung menaungi Purbalingga sedari sore. Tarub dan panggung sudah disiapkan panitia bahkan sejak siang. Sound system dicoba kualitasnya. Karpet-karpet digelar. Panganan jajanan pasar tersedia di meja disudut tarub.

Beberapa pemuda memang yang manggawangi teknis acara ini. Mereka adalah Garda Community. Kelompok pemuda pemudi yang berasal dari Purbalingga ini sudah berkumpul melingkar sejak 2011. Sejak awal persentuhan dengan Maiyah sudah mempengaruhi cara berfikir dan bertindak mereka. Komunitas ini beranggotakan 200 an pemuda pemudi yang hampir sebagian besar bekerja menjadi buruh pabrik rambut di kisaran Purbalingga. Militansi mereka sudah tidak diragukan lagi. Hampir setiap bulan mereka menyisihkan penghasilannya barang 5000-10000 rupiah untuk kas komunitas ini. Dan ini diperuntukkan untuk kegiatan sosial seperti santunan anak yatim, pengajian rutin hingga tanggap bencana.

Acara ini selain rutinan dari Pondok Pesantren An Nahl, yaitu pengajian selapanan malam ahad manis juga diikuti dengan Haul Jenderal Soedirman. Tepat pukul 19.30 WIB, acara dimulai dengan sholawat dan pembacaan maulid Simtudurror. Acara dilanjutkan dengan pentas seni oleh santriwan santriwati dari Pondok Pesantren An Nahl.

Jam menunjukkan pukul 22.00 WIB. Seolah menyambut kegiatan malam hari ini, gerimispun ikut merespon. Acara ini dihadiri oleh 300an orang dari sekitar kawasan Pondok Pesantren. Memasuki acara utama, Ki Ageng Juguran membuka dengan dua nomor Bangbang Wetan dan Senandung Desa. Para tamu undangan dari pengasuh Pondok Pesantren, unsur Muspika Kecamatan Kutasari, Camat, Danramil dan Kepala Desa turut hadir dan berada di panggung. Hadir juga Agus Sukoco yang kali ini mewakili Lakpesdam NU Purbalingga.

Kiai Fitron, pengasuh Pesantren menyambut dengan kebanggan bersama bahwa para panitia kali ini berasal dari kalangan pemuda Purbalingga. Camat Kutasari ikut menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini adalah hal positif untuk anak muda dibandingkan hanya nongkrong tidak jelas di pinggir jalan hingga narkoba. Agus Sukoco, ikut menambahkan bahwa kebanggaan rakyat Purbalingga adalah menjadi tanah kelahiran pahlawan besar Indonesia Jenderal Soedirman. Agus berpendapat bahwa leluhur kita yang sudah meninggal itu tidak benar-benar tiada. Ini sesuai dengan janji Allah. Maka dengan penyelenggaraan Haul Jenderal Soedirman seperti ini diharapkan Jenderal Soedirman tetap hidup dan mendampingi anak cucunya di Purbalingga dalam bentuk spirit juang dan semangat positif. Membahas hukum saat ini, Agus ikut menerangkan bahwa hukum itu seperti pagar bagi orang yang tidak memiliki batasan diri secara internal.

“Seharusnya orang sudah memiliki akal sehat dan hati nurani sudah tidak memerlukan hukum dalam praktek kehidupan sosial dan budaya. Orang tidak perlu hukum untuk tidak mencuri. Karena akal sehatnya menolak itu semua.”, tambah Agus.

Danramil Kutasari ikut memberikan perspektif tentang perjalanan hidup Jenderal Soedirman. Menurutnya, Jenderal Soedirman adalah bapak dari TNI yang merupakan pencipta dari taktik perang gerilya. Jika dikaitkan dengan sejarah Islam, maka Jenderal Soedirman sebenarnya mengadopsi teknik perang dari Rasulullah.

“Allahu Rabi”, sebuah tembang sholawat ikut menghiasi jeda antar sesi diskusi. Ustadz Jendro dari Purbalingga ikut menyajikan sebuah tembang mocopat Pangkur yang berisi tentang syair perjuangan. Selain itu, dijelaskan pula arti kata An Nahl, yang artinya lebah. Dimana lebah tidak menyukai bunga yang terbuat dari plastik. Sama seperti santri An Nahl ini, tidak menyukai kepalsuan-kepalsuan dunia karena mencari kesejatian hidup. Ki Ageng Juguran mempersembahkan nomor syahdu Hasbunallah.

Tepat pukul 24.00 WIB, acara diakhiri dengan sholawat Tarhim oleh Ujang KAJ. Doa bersama dipandu oleh Kiai Fitron. Cahaya ilmu dan pemahaman memasuki ubun-ubun yang hadir selaras dengan niat ikhlasnya bersilaturahmi dan mencari ilmu. Hadirin pulang satu persatu membawa semangat juang nasionalisme Jenderal Soedirman ke dalam aktifitas mereka esok hari. [] Hilmy Febrian Nugraha