Gemrengseng

GEMRENGSENG, begitu orang Jawa menyebut bunyi dari dalam panci saat mendidihkan air. Ketika air di dalam panci belum matang betul, akan terdengar bunyi gemrengseng. Bunyi yang sama seperti ketika kita membuka jejaring sosial di internet.  Bunyi gemrengseng itu pasti berasal dari balik akun-akun yang belum matang betul.

Tentu saja kita tidak bisa menggugat agar sumber bunyi gemrengseng itu dienyahkan dari jejaring sosial. Karena jejaring sosial dan internet adalah hak setiap orang untuk berada di dalamnya. Kalau memang kita terganggu dengan bunyi gemrengseng itu, ya sudah tidak usah coba-coba bergabung di dalam jejaring sosial. Atau kalau tetap ingin berada di dalam kancah jejaring sosial, benarkan dulu cara berpikir kita agar tidak terganggu oleh suara gemrengseng itu.

Benahi cara berpikir kita, bahwa yang ribut-ribut, adu argumen, berpolemik, voters vs haters, pro vs kontra, mereka yang menjadi sumber suara gemrengseng itu adalah mereka yang belum matang betul dalam memproses dirinya. Persis seperti air di dalam panci yang belum mendidih itu.

Kalau orang sudah matang semua, jejaring sosial bisa-bisa tidak ramai lagi. Kabar yang penting mendesak sudah bisa tersampaikan oleh kentongan. Informasi kegiatan dan undangan sudah terkabarkan melalui uleman. Pengumuman dan sayembara warga dipampang di kantor kelurahan atau kecamatan. Berita seputar warga sudah dapat ter-update di setiap acara kenduren. Paling-paling yang belum terakomodir adalah berita para bintang film dan politisi. Tentu saja orang-orang yang matang sudah tidak membutuhkan kabar dari para aktor dan aktris itu. Baik aktor dan aktris televisi, maupun aktor dan aktris senayan.

Entah berapa siklus Pilpres lagi untuk dapat tercapai kondisi itu, kondisi dimana semua orang sudah matang semua. Sehingga tidak ada lagi suara gemrengseng atas isu demi isu. Bahkan mungkin tidak ada lagi jejaring sosial sebagaimana digambarkan di atas. Daripada putus asa menunggu saat itu tiba, lebih baik kita luaskan cakrawala berpikir kita saja. Perluas cakrawala bahwa pergaulan bukanlah hanya di jejaring sosial di dunia maya.

Kalau jejaring sosial adalah halaqoh para kaum gemrengseng, maka pasti ada suatu tempat dimana menjadi majelisnya para kaum matang. Dimanakah tempat-tempat seperti itu berada? Menemukan tempat itu, dan memilih untuk kita bergaul disana, berharap disana kita bisa terbawa matang pula keilmuan kita. Percayalah, dunia tidak hanya seluas layar ponselmu. [] Rizky Dwi Rahmawan