Gelas-Gelas Retak

KALAU GELAS MULAI retak dan air di dalamnya terancam untuk tumpah, insting akan menggerakkan kita untuk mencari wadah pengganti yang memadai untuk menampung. Tidak mungkin  kita  memindahkan air tersebut dengan menuangkannya ke dalam gelas yang retak pula. Tetapi jika wadah yang memadai memang tidak ada, sementara air di dalam gelas harus diselamatkan, maka seterpaksa apapun benda bisa dijadikan pilihan wadah untuk dituangi.

Jiwa manusia seringkali pada batas tertentu mengalami retak-retak karena tumpukan persoalan hidup makin menyesakinya. Pada saat dada makin sumpek, pikiran makin kalut, hati seperti tersayat-sayat oleh berbagai lilitan problem sehari-hari, secara psikologis, orang akan membutuhkan tempat mengaduh dan berbagi rasa. Wadah tempat menuangkan berbagai rasa sumpek tersebut bisa sebuah lembaga atau seorang sosok yang dipercaya.

Ada semacam keremangan sosial yang disebabkan oleh degradasi peran lembaga negara dan krisis keteladanan sosok panutan. Pada kondisi demikian, tumbuhlah berbagai mitos yang kemudian menjadi sasaran di benak para ‘gelas retak’ berharap bisa ditumpahi isi jiwa dan harapan-harapannya.

Mitologi menjadi tumbuhan yang subur di atas lahan keputusasaan, kekecewaan, dan kegelapan harapan. Jalur-jalur

rasional seperti terputus oleh berbagai trauma pe-yatim-an negara atas rakyatnya. Pemilu hanya sekedar menjadi ‘pasar’ untuk menggelar janji-janji politik yang dengan ringan hati dilupakan dan dingkari.

Keahlian kita selama ini dalam bernegara dan bermasyarakat hanya bisa mempermasalahkan setelah ‘air tumpah’ itu berceceran memenuhi lantai ruangan rumah. Tradisi kita adalah mengutuk air tumpah di lantai sebagai kotoran yang mengganggu kenyamanan tanpa pernah sebelumnya merasa berkewajiban  menyediakan wadah penampungan untuk persiapan  jika sewaktu-waktu gelas-gelas menjadi retak. Fenomena munculnya berbagai aliran alternatif yang ternyata mendapat banyak pengikut adalah bukti bahwa institusi keagamaan yang sudah ada dan juga lembaga–lembaga negara belum hadir sebagai baskom penampungan. Para ‘gelas retak’ yang sedang merindukan wadah untuk dituangi air kegelisahan, merasa mendapat harapan baru setiap ada wadah alternatif yang ditawarkan melalui kehadiran pihak yang dirasakan lebih nyata.  Meskipun pada hakekatnya hampir setiap pengalaman hadirnya wadah baru itu selalu berangkat dari jualan mitos.

Wadah baru itu bisa berupa partai politik, ormas, sempalan, sekte, aliran kepercayaan atau sosok spiritual yang hampir kesemuanya itu berdiri di atas pondasi mitos. Baik mitologi modern ekspor bernama demokrasi atau mitos-mitos domestik dari klenik masa silam. Dalam kondisi hidup yang penuh tekanan dan goncangan, orang yang mengaku sebagai pendidik bangsa dan melantik diri sebagai tokoh agama belum menemukan formula dakwah yang mampu mengawal akal sehat masyarakat. Agama masih dihadirkan secara doktriner

dan bukan disuguhkan sebagai metode yang memungkinkan manusia memasuki ruang-ruang ketercerahan baru. Pada konteks tertentu bahkan dakwah agama seringkali dirasakan sebagai ancaman tambahan berupa beban-beban kewajiban dan informasi mengerikan tentang laknat dari Tuhan.

Munculnya aliran alternative sepertihalnya kasus Gafatar yang sempat ramai beberapa saat lalu terus berulang terjadi. Ini menjadi pelajaran penting bagi negara dan institusi agama untuk mulai memiliki kepekaan terhadap berbagai keluhan dan kegelisahan di masyarakat. Sudah saatnya pemerintah dan ulama menyediakan diri dengan sepenuh hati untuk menjadi baskom yang siap di tuangi seluruh problem isi jiwa umat. Bukan sibuk mengurusi segala sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan problem mendasar dan darurat masyarakatnya.

Di tengah kehidupan yang atmosfir kesadaran masyarakatnya didominasi kecenderungan mitologi, ketika ada orang tiba-tiba mengaku nabi, satria piningit, dewa, malaikat atau bahkan mengaku  tuhan sekalipun akan dipercaya. Irasionalitas dan degradasi akal sehat itu tidak disebabkan oleh siapa-siapa, tetapi dari kegagalan kita bersama dalam menjalankan peran negara dan lembaga agama secara sehat. Kebodohan atau bahkan kejahatan kita akan makin sempurna apabila kita cenderung melengkapinya dengan menghardik mereka dengan tuduhan kafir dan sesat.

Seharusnya dari setiap fenomena yang terjadi di bangsa ini, kita harus bersungguh-sungguh memetika pelajarannya. Dari fenomena Gafatar misalnya, kita bisa mempelajari betapa tekad mereka dalam mencari impian idealnya dengan hijrah ke tempat yang jauh dari keluarga dan kampung halamannya

adalah sebuah semangat idealisme yang mengagumkan di tengah masyarakat yang cenderung makin pragmatis dan oportunitis. Bahwa keyakinan mereka berbeda dengan kita, itu persoalan yang menyangkut pilihan pribadi dan urusan hidayah.

Apa yang sedang diyakini oleh mereka? Dari mana mereka memperoleh kebulatan hati sedemikian rupa hingga berani se-ekstrim itu dalam mengambil keputusan.  Apakah kita yang merasa sedang berada di dalam kebenaran iman sanggup untuk memilih sepi di tengah kenikmatan dalam keramaian ini? Lepas dari benar dan salah secara keyakinan iman, keberanian mental mereka tampaknya harus kita akui sebagai sesuatu yang diam-diam membuat imaginasi kita terbang ke peristiwa hijrah di awal-awal lahirnya Islam. Kita mungkin bisa menyembunyikan keringkihan mental kita dengan mengatakan bahwa mereka telah berbuat konyol.

Jika suatu saat saya diminta untuk bicara iman dihadapan mereka, saya akan memilih menolak, karena apapun jenis iman yang sedang meraka genggam di hati, sudah terbukti mampu memproduk keberanian untuk menjauh dari kemapanan. Sementara saya masih sedemikian romantik dan cengeng jika harus meninggalkan  segala  kenangan indah di kampung halaman.

Untuk sekedar mengutuk sesuatu, tidak dibutuhkan ilmu. Untuk hanya menghardik tidak diperlukan kualitas diri. Untuk mengatakan dan menilai pelacur itu kotor, anak SD juga sangat fasih dan artikulatif. Tetapi untuk menolong mereka dari perilaku melacur itu yang membutuhkan ilmu dan kearifan. Banyak hal yang bisa kita pelajari dan menjadi bahan instropeksi.[] Agus Sukoco