Berforum di Tepi Sawah

Musisi KAJ Accoustic di minggu pagi (31/7) berkesempatan mendampingi santriwan-santriwati Pesantren An-Nahl menerima serombongan tamu pemuda-pemudi dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Purbalingga.

Dengan semangat ber-paseduluran tanpa tepi, pemuda-pemudi yang terwadahi oleh CMC dan KKP datang untuk bertamu. CMC dan KKP adalah unsur non-struktural GKI yang membidangi urusan sosial dan kemasyarakatan.

Forum digelar santai di tepi sawah di halaman utara Pondok Pesantren An-Nahl. Kyai Fitron selaku pimpinan pondok menyambut hangat rombongan yang dipimpin oleh Pendeta Manurung tersebut. Dalam sambutannya Kyai Fitron menyampaikan bahwa hendaknya falsafah lebah bisa kita jadikan falsafah pembelajaran kita semua. Ini sesuai dengan arti dari nama pondok, yakni An-Nahl. Pendeta Manurung merespon dengan akrab dan menyampaikan bahwa tujuan dari kunjungannya adalah mengajak pemuda-pemudi untuk belajar memberi kasih dan menerima kasih. Pendeta Manurung berharap, ketika anak-anak muda yang berbeda keyakinan dipertemukan sejak dini, ketika tumbuh dewasa nanti mereka menjadi pribadi-pribadi yang tidak mudah termakan provokasi pemecah-belahan.

KAJ kemudian menyejukkan suasana dengan membawakan lagu-lagu pilihan dan memandu ber-sholawat. Kemudian para pemuda gereja juga tidak mau kalah membawakan sebuah lagu berjudul “Kasih Pasti Lemah Lembut”. Sekitar 150 orang yang berkumpul nampak gembira bersama-sama.

Usai sambutan dan masuk, tibalah pada inti acara yakni olahraga bersama. Meja pingpong, raket, bola volley, papan catur yang telah tersedia langsung diserbu oleh para santri dan para pemuda gereja, mereka bermain dan berolahraga bersama. Sementara itu mereka yang tidak ikut berolahraga, mereka melantunkan tembang-tembang pilihan bersama-sama.

Forum yang di dalamnya berbaur para santri dan pemuda gereja bukanlah forum yang lazim di Purbalingga. Namun hal ini dibuat lazim di Pesantren An-Nahl. Pesantren An-Nahl telah selangkah lebih maju dalam praktek kerukunan umat beragama. Ketika diluar sana kerukunan umat beragama baru dibincangkan dalam forum-forum, tetapi Kyai Fitron dan Pendeta Manurung mengejawantahkannya dalam praktek berkegiatan, yakni kegiatan olahraga bersama yang sifatnya muamalah.

Kedua pemuka agama tersebut sebelumnya telah kerap berinteraksi bersama dalam wadah forum Paseduluran Tanpa Tepi. [] RedJS