Batik Kini

Batik itu mempesona. Di kurun waktu terakhir semua mata terpikat oleh pesona orisinil Nusantara yang satu ini. Monumentalisasinya adalah dengan ditetapkannya 1 diantara 365 hari yang ada sebagai hari batik nasional.

Begitu besar permintaan akan batik. Baik permintaan yang lahir alamiah, maupun permintaan yang lahir karena pengkondisian-pengkondisian dan pewajiban-pewajiban yang dilakukan di banyak tempat dan instansi.

Pesona besarnya pangsa pasar batik bahkan mengalapkan pesona motif-motifnya. Sekalipun pelajaran muatan lokal tak absen diajarkan di sekolah-sekolah, tapi coba disurvay berapa banyak anak-anak yang paham akan makna motif atas batik yang mereka pakai.

Sayangnya, sebab mata kita terlalu sipit melihat potensi ekonomi di tengah derasnya batik campaigne ini, maka kelompok lain diantara kita yang justru lebih melek menguasai rantai perdagangan batik.

Seniman batik pun berubah menjadi buruh batik. Karya seni motifnya berubah sebatas komoditas. Nyerok, mbatik, nerusi, ngelir, mepe tidak lagi penting tumakninah mengerjakan proses-proses itu. Target, target dan target penjualan adalah hal yang lebih penting.

Sedekat apa kita bercengkerama dengan pusaka leluhur berupa batik. Seberapa faham atas motif yang kita pakai. Atau seberapa kuat alasan harus memilih memakai atau tidak memakai batik.

Jika mengenakan batik non-tulis, berarti sama saja telah melarisi komoditas yang telah dikuasi sekelompok orang itu, yang telah berhasil menguasai tata niaga batik.

Akan tetapi, kalau memakai batik tulis. Ah, mahal sekali. Rasa-rasanya urusan sandang tak harus semahal itu. Merawat sandang martabat yang justru harus lebih mahal.

Maka, benar saja tatanan di masa lalu, batik peruntukannya hanya bagi kaum bangsawan dan priyayi saja. Yakni bagi mereka yang cashflow pribadinya tetap setimbang meski telah nembelanjakan untuk memiliki busana-busana mahal.[] Rizky Dwi Rahmawan