Reportase: SINAU RUMANGSA

Sebelum acara dimulai, beberapa nomor lagu dipersembahkan oleh Ki Ageng Juguran dengan vokal Tita dan Ujang. Ki Ageng Juguran kali ini tampil dengan konsep simpel akustik. Beberapa nomor garapan sendiri ditampilkan ditambah dengan beberapa nomor adaptasi dari Kiai Kanjeng.

Kukuh membuka dengan mengajak para sedulur untuk membaca Al Quran secara tartil terpimpin dengan membaca surat Al Fath. Dilanjutkan dengan wirid Padhang Mbulan yang dipimpin oleh Kukuh dan Karyanto. Kukuh membuka sesi pertama dengan mengajak berkenalan dengan sedulur yang hadir. Beberapa diantaranya berasal dari Cilacap, Banyumas, Banjarnegara dan Purwokerto. Dilanjutan dengan Ki Ageng Juguran menampilkan nomor “Marhaban” dan “Tuhan Aku Berguru”.

Kusworo membuka sesi diskusi pertama dengan menyampaikan bahwa yang hilang saat ini dalam keseharian kita adalah sikap rumangsa. Rizky menambahkan dengan perkenalan tamu yang hadir Juguran Syafaat kali ini yaitu Toto Rahardjo dan Harianto dari Progress Jogja. Rizky memotret fenomena saat ini dimana acara televisi paling banyak adalah acara ngobrol, ini adalah gejala semakin individualisnya kita, sehingga membutuhkan ruang untuk saling berbagi. Dalam forum ini semoga yang hadir tidak hanya menonton orang ngobrol, tapi ikut berbagi bersama.

Arif dari Purwokerto, memberikan penjelasanbahwa forum Maiyah seperti ini mengajak kita untuk lekat dalam diskusinya. Menurut Togar dari Purwokerto, suasana Juguran Syafaat dan obrolan yang substantif itulah yang membuat dirinya betah mengikuti forum ini dari awal hingga akhir.

Harianto menambahkan penuturan tentang logika kata istimewa. Masyarakat sekarang menganggap sesuatu itu istimewa tapi seperti terlepas dengan yang lain. Contohnya, hari Jumat kita anggap istimewa, tapi tentunya tidak ada hari Jumat kalau tidak didahului hari yang lain. Keistimewaan bukan terletak pada bendanya, tetapi pada bagaimana kita memandangnya.

“Ketika bertemu sesuatu, temukan keistimewaan dibaliknya. Ketika bertemu sesorang, maka carilah keistimewaannya, maka kita tidak punya hak sedikitpun untuk merendahkannya. Kenapa setiap orang istimewa, karena kita diciptakan sebagai makhluk yang sempurna. Tidak ada manusia yang tidak istimewa, cara memandangnya saja yang salah.”, kata Harianto.

Tentang Kepengasuhan

Toto Rahardjo menyampaikan bahwa Maiyah bersifat feminim. Ada unsur keindahan, kesejukan, kepengasuhan, kesetiaan di dalamnya. Yang utama dari sebuah kecenderungan feminim adalah kepengasuhannya.Toto mengambil contoh bahwa universitas adalah sebuah bentuk kefeminiman dimana menjalankan fungsi ibu didalamnya, yaitu kebersamaan dan kemanusiaan.

Toto juga bercerita tentang poster ‘dilarang merokok’ yang seharusnya bisa membuat orang disekitarnya berhenti merokok, tapi yang terjadi adalah orang tetap merokok saja. Ini dikarenakan sebenarnya ada kontrol diri yang lebih kuat apakah kita bersikap permisif terhadap rokok atau tidak. Dan poster tersebut adalah bentuk sosialisasi yang goalnya adalah mengorganisir pikiran.Kalau ditarik secara lebih luas, sekolah adalah ‘poster’ yang berfungsi untuk mengorganisir pikiran. Bisa jadi kenapa kita tidak menuai sesuatu dari sekolah, karena sekolah memang tidak menyenangkan. Sama seperti poster yang didesain dengan itdak menarik, maka pikiran kitapun tidak terpengaruhi.

“Nah, forum seperti ini adalah forum nguda rasa. Forum seperti ini harus indah, supaya pikiran kita bisa berfungsi lebih jernih dan maksimal. Mampu mengorganisir pikiran dan bisa sampai ke hati.”, tambah Toto.

Rizky menambahan bahwa rumangsa dalam khasanah Jawa adalah internal control system paling bagus. Kalau kita bisa rumangsa maka, segala sesuatunya menjadi terukur dan memiliki ketepatan.

Toto menjelaskan bahwa lawan dari segala bentuk ‘poster’ itu tadi adalah keinginan. Maka dalam beberapa ideologi tertentu ditekankan untuk jangan hidup hedonis karena berbiaya mahal. Hedonis sendiri menurut Toto adalah kumpulan dari keinginan-keinginan. Dan rumangsa adalah kontrol diri atas segala keinginan yang ada dalam diri kita.

Toto mencontohkan orang hamil yang dahulu menjadi tanggung jawab bersama, kini sudah menjadi tanggung jawab suami saja. Dalam sejarahnya, mitoni (upacara tujuh bulanan) digunakan sebagai bentuk peringatan atas sudah dekatnya waktu kelahiran dan ini diperingati oleh lingkungan sekitar. Mitoni disini bisa digunakan sebagai metode rumangsa yang diaktifkan dalam lingkungan bermasyarakat.

Dalan jeda diskusi, Ki Ageng Juguran mempersembahkan nomor “Sailing” yang dimedleykan dengan sholawat badar.

Pendidikan Yang Feminim

Kusworo menuturkan bahwa feminim maskulin bukan persoalan wanita atau pria, tapi lebih mengenai kecenderungan sifat. Dalam diri manusia terdapat dua kecenderungan sifat itu tadi. Harianto menambahkan dimana pendidikan adalah berdasar pada feminimitasnya. Dasarnya terhadap kepengasuhan terhadap orang lain. Kalau kita berbicara rusaknya pendidikan, maka akan menjadi putus asa. Tapi kalau kita rumangsa bahwa pendidikan bukan dilakukan oleh orang lain, kitapun bertanggungjawab atas pendidikan maka kita lebih belajar dan mempunyai harapan atas pendidikan dimasa depan.

Mengenai kepangasuhan, Harianto menambahkan, jiwa kepengasuhan itu akan muncul jika kita bersikap kepada apapun dan siapapun yang didepan kita adalah anak. Maiyah melihat segala persolan, baik Indonesia maupun dunia adalah sebagai anak. Harianto menilik kembali bahwa kepengasuhan dalam bahasa arab adalah rabbi, terdiri dari huruf ro dan ba yang secara bentuk seperti orang yng sedang menggendong anak.

Dalam surat Annas sendiri, Allah menjelaskan skema robbinnas, malikinnas, ilahinnas, yang pertama mengasuh, menguasai dan membuat peradaban. Ini adalah kunci dari Allah yang bisa kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Harianto menyayangkan yang terjadi saat ini pada beberapa aktivis dikalangan muda, dimana meraka hanya sekedar gencar memprotes kondisi sosial ini. Mereka menginginkan prubahan tapi sebenarnya tidak siap terhadap perubahan itu sendiri. Jika kondisi berubah yang terjadi, hanyalah memberikan cek kosong kepada orang lain. Lalu, kenapa tidak kita sendiri yang mengerjakan perubahan?

Rumangsa Rumangsani

Rizky menuturkan rumangsa adalah sikap menempatkan diri secara tepat terhadap apa yang terjadi sekarang. Dan mengenai penjelasan Toto Rahardjo tadi, Rizky mengambil kesimpulan bahwa rumangsa adalah bentuk mengatur keinginan diri. Setelah kita mampu mengidentifikasi diri maka selanjutnya adalah menempatkan diri, lalu bisa mengetahui orientasi diri.

Kusworo menambahkan, rumangsa berkaitan dengan limitasi diri, istilah jawanya ngukur awake dewek. Tapi juga rumangsa bisa berarti mengetahui kalau kita diberi kemampuan lebih tapi tidak memaksimalkannya. Agus Sukoco menarik gagasan bahwa segala yang kita kejar di dunia ini adalah yang substantif. Sama analoginya seperti ketika kita datang ke Juguran Syafaat yang utama bukan karena snack nya tapi karena kehangatan diskusinya. Kalau kita sudah menemukanyang substantif maka tujuan materi sudah bukan menajdi yang utama lagi. Ini terjadi kebalikannya dengan pembangunan nasional kita, dimana orang mengejar snack-snack saja, bukan menemukan hal yang lebih substantif seperti jati diri bangsanya.

Dalam hal pendidikan, Agus Sukoco urun rembug bahwa Tuhan sudah menunjuk pengasuh terbaik kita dalam hidup di dunia, yaitu orang tua yang melahirkan kita. Maka guru utama kita adalah orang tua kita. Institusi pendidikan adalah bentuk peran lanjut keorangtuaan kita di dunia. Maka dipesantren dahulu, ada akad yang jelas antara orang tua yang menitipkan anaknya ke Kiai. Ini tidak berlanjut sampai sekarang, dimana akad pendidikan sekarang penuh dengan ancaman akan tarif pendidikan yang mahal. Sehingga tujuan pendidikan menjadi tidak tercapai karena akad diawal yang sudah batal.

Harianto mengambil cuplikan kisah Nabi Musa yang berperjalanan menuju ke majmaal bahrain, pertemuan dua lautan. Disitulah kemudian ikan mati yang dibawanya hidup kembali. Allah memberikan penjelasan melalui amsal ini, bahwa dibalik majmaal bahrain maka segala sesuatunya menjadi hidup. Majmaal bahrain dalam kehidupan kita sehari-hari bisa diartikan sebagai benturan hidup. Maka orang yang mengalami benturan hidup, bisa mencapai pikiran yang lebih hidup. Ada istilah lain, orang kepepet lebih kreatif menjalani hidup.

Toto Rahardjo menambahkan bahwa kata Maiyah dalam Al Quran tertulis sebanyak 162 kali. Ini menjelaskan bahwa kalimat ini begitu penting karena disambungkan dengan Allah, Rasul, orang beriman, dan lain-lain. Maiyah sendiri berarti kebersamaan. Dalam konteks lokal, Toto melihat bahwa fungsi kepengasuhan sesuai dengan watak orang Banyumas yang setia dan mengabdi kepada nilai luhur. Dalam istilah banyumasan terdapat kata, kebo cinancang dadung emas, adalah bentuk kesetiaan masyarakat Banyumas terhadap nilai.

Hadiwijaya menuturkan bahwa orang Banyumas kalau sudah dikat dengan sesuatu yang berharga maka akan menjai kekuatan, pamong untuk para ksatria atau pemimpin.

Rumangsa itu harus mengalami. Tidak bisa berfungsi hanya sebagai ilmu pengetahuan.”, ujar Toto. Dilanjutkan oleh Toto, bahwa Banyumas ini diidentikan bukan sebagai pembantu tapi sebagai pengasuh. Pengasuh itu adalah orang yang dibelakang layar. Menurut Toto, kepengasuhan lebih tinggi derajatnya dari para ksatria.

Hadiwijaya menjelaskan ungkapan tadi adalah pemberian dari Keraton Solo sebagai bentuk kepatuhannya terhadap penguasa kala itu. Ditambahkan dengan simbol daerah Banyumas yang terkenal yaitu tokoh wayang Bawor yang merupakan punakawan atau pamomong para kstaria Pandawa. Hadiwijaya menambahkan terjadinya polemik yang terjadi saat ini adalah ingin mengganti simbol Bawor menjadi Bima, karena beberapa kalangan merasa inferior terhadap dirinya. Tapi yang berkembang dimasyarakat kelas bawah, petani, buruh dan pedagang kecil, merasa Bawor lebih tepat karena hidupnya lebih merdeka.

Agus Sukoco menambahkan lagi perihal pendidikan, dimana pendidikan yang substantif adalah pengenalan dirinya. Dengan pengenalan dirinya maka orang bisa tepat menempatkan dirinya dalam kondisi masyarakat setelah itu baru bisa mengasuh orang lain untuk bisa menemukan diri mereka. Menurut Agus lagi, dalam wayang Bima juga dikisahkan sebagai kstaria yang selalu berusaha mengenal dirinya sendiri melalui lakon Bima Suci.

Hadiwijaya mengkisahkan bahwa kisah wayang yang diciptakan sebagai asal mula kehidupan berasal dari telur. Dimana disitu terdapat tiga bagian yang kemudian menjadi ismaya (semar), tejamaya (togog), dan juga manikmaya (betara guru). Yang dalam kisah wayang, mereka bertiga adalah seorang pemomong diwilayahnya masing-masing.

Rizky mengulang kembali bahwa yang terjadi sekarang ada desainer soialnya. Maka kita juga memerlukan sikap skeptis terhadap simbol, slogan dan lain sebagainya. Rizky berkaca pada Walisongo, Sunan Gunung Jati yang beliau adalah pengasuh sekaligus sebagai penguasa kerajaan.

Respon Diskusi

Ari dari Purwokerto meneceritakan pengalamannya berkeliling dunia sebagai pelaut, dimana dia banyak belajar bahasa bangsa lain. Ari menemukan tidak ada bangsa yang memiliki khasanah kekayaan seperti khasanah Jawa, dimana terdapat kata rumangsa, manunggaling kawulo gusti, tut wuri handayani. Ndaru dari Purwokerto menanggapi bahwa menurut dia yang cocok menjadi simbol orang Banyumas adalah tetap Bawor, karena kesederhanaan hidup Bawor yang sangat menginspirasi.

Harianto merespon dengan menceritakan kisah Habil Qabil dimana kedua anak Adam Hawa itu berebut istri yang cantik kemudian diselesaikan solusinya melalui persembahan yang terbaik kepada Tuhan. Dalam rangkaian ayat berikutnya dalam Al Maidah, Allah menuliskan tentang kebingungan kaum Musa selama berpuluh-puluh tahun. Yang pada akhirnya disuruh untuk kembali mengambil pelajaran dari kisah Habil Qabil ini. Maka ini menjadi amsal yang menarik, jika kita mengalami kebingungan, maka yang kita lakukan adalah persembahan yang terbaik kepada Allah dalam bentuk apapun. Maka Maiyah diharapkan menjadi pengorbanan atas diri kita ditengah kebingungan panjang bangsa Indonesia ini.

Rizky mnyampaikan bahwa salah satu cara mengukur limitasi adalah dengan percaya diri untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi, yang nanti kita akan mencapai garis mentok. Dan itu bisa kita artikan sebagai limitasi.

Agus Sukoco menganalogikan orang yang menggunakan teknolgi berbeda dengan penemu teknologi. Penemu teknologi dia menjalani hidupnya dalam ketakjuban atas teknologi apa yang dia capai dari dulu hingga kini. Tetapi pengguna teknologi biasa saja melihat perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepatnya. Ini bisa diluaskan menjadi manusia dalam kehidupan di dunia. Apakah kita menjadi pelaku kehidupan atau pengguna/korban kehidupan yang setiap harinya tidak melihat ketakjuban-ketakjuban atas kehidupan.

Faisal dari Purwokerto, menyampaikan bahwa ungkapan-ungkapan seperti kebo cinancang dasung, adoh ratu cerek watu adalah bentuk identifikasi penguasa terhadap orang Banyumas. Ini adalah sebuah mitologi yang menidentikkan masyarakat Banyumas oleh masyarakat dari luar Banyumas. Sama seperti bahasangapak, masyarakat kita sendiri tidak mengenal kata ngapak. Tapi orang luar Banyumaslah yang mempopulerkan kata bahasa ngapak di kalangan masyarakat luas. Karena kita sendiri hanya mengenal bahasa banyumasan.

Toto Rahardjo menjelaskan bahwa rumangsa bukan hanya kata, tapi juga sikap kepribadian kita. Ada dimensi yang luas yang mencakup dalam istilah rumangsa ini tadi. Lalu Toto menarik ke pembahasan dimana kalau Maiyah melakukan gerakan sosial apakah sama dengan gerakan sosial yang terjadi saat ini?

“Tentu beda, kalau Maiyah itu merumangsani ada Tuhan dibalik kita semua. Sedangkan gerakan sosial yang terjadi saat ini bersikap sekuler. Bahkan meniadakan Tuhan. Padahal Tuhan berada dalam hukum sebab akibat terhadap apa yang terjadi saat ini. Tapi selama ini kita hanya mengamini bahwa Tuhan hanya bekerja pada wilayah sebab.”, ujar Toto.

Sebuah nomor musik dari Ki Ageng Juguran dengan judul “Kehidupan yang Hilang” dibawakan apik secara akustik.

Alex dari Purwokerto mengambil kesimpulan bahwa rumangsa bisa menjadi motivasi diri agar kita berbuat sesuatu tapi juga pengerem diri karena tahu diri atas limitasi kita masing-masing. Arif dari Purwokerto menambahkan pengalamannya hidup didaerah wetan sebagai orang Banyumas asli. Dalam kesehariannya dahulu, dia merasa inferior terlebih atas bahasa banyumasan yang dia pakai.

Rizky percaya bahwa Bawor adalah Dewa yang menyamar menjadi pamong raja. Sehingga pada kenyataan setiap lakon wayang, Bawor tidak pernah kalah dalam berperang meskipun lawan terberat seperti apapun.

“Tapi yang harus digarisbawahi adalah, kita musti percaya pada kesejatian bawor, bukan percaya pada penyamarannya. Kalau kita percaya pada penyamarannya, maka kita menjadi inferior, rendah diri ditengah kondisi sosial saat ini.”, tambah Rizky.

Hadiwijaya menambahkan cerita sejarah dimana masyarakat Banyumas memiliki tokoh nasional seperti dr Angka dan dr Gumbreg yang sebenarnya berperan sama dengan dr Sutomo, tapi tidak muncul dalam sejarah. Hal ini dikarenakan mereka merasa inferior atas bahasa yang mereka gunakan sehari-hari.

Agus sukoco mematangkan diskusi dengan menjelaskan bahwa orang yng sudah matang hidupnya tidak memerlukan simbol untuk mengangkat dirinya. Simbol bawor atau apapun itu, diperlukan oleh masyarakat kelas bawah untuk menstigma dirinya, agar lebih percaya diri dalam menghadapi hidup.

Diskusi diakhiri pukul 2:45 diakhiri dengan salam-salaman dengan diiringi sholawat Hasbunallah dan Puji-pujian. [] RedJS