Reportase: KOTAK

Kemandegan Dana Kas Masjid

Hujan yang mengguyur wilayah Purwokerto dan sekitarnya tidak mengurangi semangat para penggiat dalam mempersiapkan Juguran Syafaat edisi Februari ini. Edisi kali ini, tema yang dibahas adalah “KOTAK”. Cukup berbeda dengan edisi – edisi sebelumnya, kali ini dilengkapi dengan beberapa multimedia untuk menambah khasanah berfikir sedulur yang hadir.

Tepat pukul 21.00 acara dimulai dengan membaca Al Quran secara tartil dan dipimpin oleh Kukuh. Dilanjutkan dengan wirid Padhang mBulan bersama-sama. Kukuh membuka diskusi sesi pertama dengan memaparkan riset para penggiat selama sebulan terakhir tentang kemandegan dana kas masjid di Kabupaten Banyumas. Kukuh menuturkan motivasi awal riset ini adalah karena kegelisahannya melihat orang-orang disekeliling masjid, yang konon merupakan jamaah masjid, tetapi secara ekonomi kurang diperhatikan. Sedangkan masjid terus saja menumpuk hasil infak dan digunakan untuk membangun secara fisik saja.

Kegelisahan ini dijawab dengan riset awal penggiat Juguran Syafaat dalam bentuk mengumpulkan data-data tentang kas masjid diseluruh Kabupaten Banyumas. Karyanto, salah seorang penggiat yang juga sebagai ketua takmir masjid di desanya, menuturkan bahwa di masjidnya hampir setiap bulan tidak ada pengeluaran yang cukup berarti kecuali rutin untuk kebersihan.

Kukuh menyambung dengan presentasi hasil riset para penggiat Juguran Syafaat, tentang beberapa sampling informasi kas masjid di Kabupaten Banyumas. Yang cukup mencengangkan adalah bahwa dana kas masjid di seluruh Kabupaten Banyumas itu seperempat dari dana pembangunan APBD Kabupaten Banyumas dan 5 kali dari pembayaran premi Kabupaten Banyumas untuk BPJS Kesehatan rakyat miskin.

Melihat jumlah dana yang cukup fantastis, Kukuh menyampaikan bahwa sebenarnya ada potensi yang cukup apik yang hadir dari kalangan internal masjid itu sendiri dalam hal penanganan permasalahan umat. Selama ini pengeluaran dana kas masjid hanya digunakan sebatas untuk pembangunan fisik yang notabene sudah tidak begitu diperlukan lagi. Yang kemudian perlu kita cari kembali adalah tafsir dari memakmurkan masjid itu apa yang sejatinya.

Hadir juga Arif Suyitno dari Pengurus Ranting NU Purwokerto Wetan yang sedang mulai mengaktifkan kembali dana infak masjid tidak hanya sebagai sarana pembangunan fisik, tapi juga untuk dana sosial kemasyarakatan. Arif menyampaikan bahwa memakmurkan masjid saat ini hanya sekedar membangun infrastruktur masjid secara fisik, yang arahnya justru kemubadziran.Sebagai jeda diskusi, musik disuguhkan secara apik oleh tim musisi Juguran Syafaat mengambil nomor “I am Sailing – Sholawat Badar”.

Pribadi Universal

Kusworo mengambil alih sesi diskusi berikutnya setelah tadi pemaparan hasil riset para penggiat oleh Kukuh. Kusworo menyapa beberapa sedulur yang hadir seperti Titut Edi dari Cowongsewu, Bilwan dari Baturraden Adventure Forest dan beberapa sedulur yang lainnya. Rizky memberikan mukadimah tentang tema Juguran Syafaat kali ini yang berangkat dari pengkotak-kotakan dana infak yang ada disebut uang dunia dan ada uang akhirat.

Agus Sukoco menuturkan bahwa kotak dalam perspektif sosiologis disebut dengan primordial yang lawan katanya adalah universal atau rahmatan lil alamin.

“Manusia hidup itu harus mampu membebaskan dari penjara primordialisme. Dia harus keluar dan menjadi diri universal. Ketika dia orang Jawa, ketika dia berada dalam fanatisme primordialisme maka tidak menunjukkan output sikap universalitasnya. Tidak mengkespresikan output sosial yang rahmatan lil alamin. Maka dia menjadi bagian dari kotak itu.”, tambah Agus Sukoco.

Agus menambahkan bahwa menurut dia Kristen, Hindu dan Budha itu bukan saingan Islam. Tapi mereka adalah kotak-kotak kecil yang Islam menjadi kotak besar yang menampung semuanya itu. Ini adalah prinsip rahmatan lil alamin. Juguran Syafaat mencoba untuk membebaskan diri kita, dari prinsip-prinsip primordialisme seperti itu.

“Orang sekarang bersemangat membangun kotak-kotak. Karena ini menjadi komoditas politik. Ada yang berkepentingan dalam memainkan dan membentur-benturkan kotak-kotak ini. Orang harus mampu keluar dari itu semua, menemukan diri universalnya. Yaitu sebagai manusia hamba Tuhan. Jika sudah ditemukan, maka kita bukan hanya orang Jawa, orang Indonesia, tapi adalah penduduk bumi, penduduk alam semesta. Maka Amerika bukan orang lain, Australia bukan orang lain, mereka sama seperti kita. Inilah Islam sebagai rahmatan lil alamin.”, sambung Agus Sukoco.

Karyanto merespon pemaparan hasil riset tadi dengan menceritakan bahwa konsep masjid jaman dahulu sudah terwakili dengan konsep RT (Rukun Tetangga) jaman sekarang, sedangkan masjid sekarang hanya bentuk bangunan fisik saja, bukan bentuk sistem sosial. Kusworo menambahkan bahwa agama itu letaknya didapur, dan yang kita suguhkan sebagai produk makanan di etalase itu bukan simbol-simbol agama, tapi output sosialnya.

Bilwan dari Baturraden Adventure Forest menceritakan awal mulanya datang ke Purwokerto itu dikarenakan sudah tidak betah tinggal di kota besar yang sangat bising. Bilwan menganggap bahwa perjalanannya ke Purwokerto adalah sebuah perjalanan spiritual mencari Tuhan. “Dan yang paling penting adalah, kita harus bisa mencari jawaban atas apa tugas kita di dunia ini.”, tambah Bilwan.

Dalam Juguran Syafaat kali ini diputar juga cuplikan film PK, dari India, film yang bercerita tentang pertanyaan-pertanyaan dasar manusia akan beragama dan bertuhan. Film ini diharapkan bisa menjadi pemantik agar diskusi ini berkelanjutan dan lebih penuh khasanah. Dalam film itu diceritakan bagaimana kita dikotak-kotakkan dalam simbol agama yang justru semakin menjauhkan diri kita terhadap kemanusiaan yang universal.

Titut merespon dengan bercerita bahwa dia pernah memerankan tokoh Yesus dalam sebuah teater, dan bagi dia itu hanyalah peran. Salah satu kawan dari Titut yang berbisnis konveksi mengalami usahanya bubar karena melayani seragam dari gereja. Ini dikarenakan kedangkalan berfikir, tidak bisa membedakan mana muamalah, mana akidah. Tim Musisi menyambung dengan nomor musik “Neng Ndunyo Piro Suwene – Change”. Rayung menyumbangkan satu nomor lagu dari Ebiet G Ade berjudul “Mimpi di Parangtritis”.

Kusworo menyampaikan bahwa pembangunan saat ini hanya menggunakan 20% dari dana yang dianggarkan. Jika ini terjadi di Korea atau Jepang maka yang terjadi adalah kekacauan masyarakat, tapi jika di Indonesia ini akan tetap baik-baik saja. Ini bukti bahwa sebenarnya masyarakat bergerak hampir tidak terpengaruh oleh apa yang dilakukan oleh pemerintah kita. Rizky menyambungkan bahwa ada beberapa masjid yang sudah sangat baik dalam pengelolaan dana kasnya, yang perlu kita lakukan adalah mempelajari kesana dan mengimplementasikannya ditempat masing-masing.

Sistem Rusak-rusakan

Agus Sukoco menyambungkan dengan sistem Qurani / Madani yang saat ini digembor-gemborkan tapi sebenarnya tidak terjadi. Kalau memang ini sedang berlangsung, seharusnya orang bekerja keras, jujur, baik itu akan mendapatkan balasan yang setimpal di dunia (tidak hanya di akhirat), tapi pada kenyataannya sekarang tidak. Justru mereka yang bekerja keras, jujur, baik hanya hidup biasa-biasa saja. Ini pasti ada sistem yang salah, yang berarti sistem sekarang belum Qurani / Madani.

Satu sholawat “Ya Imamar Rusli” dipersembahkan oleh Rifangi dan tim Musisi. Bilwan merespon tentang banyak sekali parameter lain selain uang dalam hal indeks kemakmuran masjid. Rizky menambahkan bahwa ini sebuah riset jangka panjang, dan edisi kali ini hanya riset awalan yang digunakan untuk mendkonstruksi paradigma kita tentang dana kas masjid.

Arung Samudra menyumbangkan satu nomor “Kolam Susu”, lagu dari Koes Plus. Gilang dari Purbalingga, menuturkan bahwa kita ini seperti anak burung yang lahir didalam sangkar, kita tidak punya imajinasi akan alam semesta yang sebenarnya karena kita dibelenggu oleh sistem dan pikiran kita sendiri. Arif dari Purwokerto, bercerita bahwa dia mengajak teman-temannya untuk bisa ikut forum ini, tapi mereka merasa kotor dan tidak aman berada di lingkungan ini yang notabene mereka adalah “anak-anak nakal” secara sosial.

Agus Sukoco merespon bahwa dalam ucapan assalamualaikum itu tidak hanya berupa sapaan seperti selamat pagi selamat siang, tapi didalamnya terdapat ikrar untuk saling memberi kasih sayang diantara mereka.

“Kalau dalam mereka sudah saling memberi kasih sayang, maka ada pekerjaan selanjutnya yaitu mengerjakan rahmat menjadi barokah. Rahmat itu anugerah Tuhan yang langsung. Tugas kita adalah mentransformasikan rahmat menjadi barokah. Menjadi fungsi-fungsi sosial yang lebih mashlahat. Pohon itu rahmat, dan kursi meja itu adalah barokah.”, tambah Agus Sukoco.

Tim Musisi kembali menambahkan satu nomor “Imagine Medley”, sebagai penghangat suasana. Togar dari Sokaraja merespon diskusi Juguran Syafaat dengan melontarkan bahwa bisa jadi sistem sosial kita jaman dahulu sudah mampu mensejahterakan masyarakat tanpa adanya campur tangan dari siapapun. Dalam sistem sosial di desanya, Togar bercerita bahwa anak yatim sudah dijamin oleh tetangga-tetangganya. Dalam upacara kematianpun, sudah tidak perlu memikirkan biaya lagi, karena tetangga-tetangga menanggung semua biayanya. Berbeda dengan orang luar negeri yang untuk upacara kematian saja butuh jasa pihak ketiga yang tentunya perlu biaya besar. Titut Edi menambah gayeng acara malam hari ini dengan satu nomor lagu yang spontan berjudul “Balapan Tengu”.

Agus Sukoco merespon bahwa cara berfikir Togar adalah cara berfikir yang berada diluar kotak. Artinya orang ini sudah mempunya jiwa universalitas yang membuat dia mampu memperlakukan kotak Banyumas, kotak Jawa dengan otentisitas kulturalnya. Jika orang belum mampu transenden berada pada kesadaran universal, maka dia akan gagal memperlakukan kotak, maka kotak hanya melahirkan fanatisme, hanya melahirkan semangat primordialisme.

Kusworo mengakhiri diskusi dengan menekankan bahwa pertemuan-pertemuan seperti ini sangat urgent, karena disini kita belajar melihat tidak hanya dengan mata fisik tapi juga melihat sesuatu yang lebih esensial.

Acara malam ini diakhiri pukul 02.30 dini hari dengan bersholawat “Alfu Salam” bersama-sama. [] RedJS