Reportase: FREENOMICS

Juguran Syafaat dimulai dengan tadarus surat Al Waqiah secara tartil dipimpin oleh Kukuh. Dilanjutkan dengan suluk pembuka oleh Ujang dan wirid padhang bulan bersama-sama. Kukuh dan Karyanto membuka sesi awal dengan menyapa para sedulur yang telah hadir. Malam hari ini Juguran Syafaat kedatangan tamu spesial dari Yogyakarta, yaitu Harianto dari Nahdlatul Muhammadiyyin Jogja, Helmi Mustofa dari Progress Jogja dan perwakilan dari Penerbit Bentang Pustaka. Di sela-sela acara nanti akan diberikan sesi khusus bedah buku dari Emha Ainun Nadjib yang diterbitkan ulang oleh Bentang Pustaka Yogyakarta. Tampak hadir beberapa perwakilan dari elemen kampus dan organisasi kepemudaan yang sengaja diundang agar sesi diskusi nanti bisa lebih padat dan meriah.

Kukuh mengawali sesi pertama dengan bercerita tentang penelitiannya tentang ekonomi pertanian bertempat di beberapa kecamatan di kabupaten Banyumas.Hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa dalam sehari petani di Banyumas bisa hidup cukup dengan uang 10.000-15.000 rupiah. Ini dikarenakan mereka masih mempunyai cadangan beras hasil tani mereka, dan keperluan uang tersebut hanya untuk membeli lauk saja.“Bagi saya itu merupakan fenomena menarik. Ternyata hidup itu pada daerah tertentu tidak perlu dengan sumber dana yang besar. Atau bahkan jika itu dikelola lagi, keluarga petani itu bisa dalam sehari-hari tidak keluar uang sepeserpun.”, tambah Kukuh. Karyanto menambahkan bahwa kehidupan di desanyapun sama seperti yang diceritakan oleh Kukuh.

Nurhidayat dari Unsoed membagi pengalamannya sebagai mahasiswa perantauan bahwa kehidupan di desa bisa menjamin pangan untuk orang-orang yang hidup didalamnya melalui sistem kekeluargaan. Cipto dari Unsoed juga menambahkan pengalamannya di Lampung, dalam sistem perayaan hajatan, sistem sosial di Lampung sudah bisa menjamin pelaksanaan hajatan dari tratag tenda, makanan hingga penerimaan tamu tanpa memerlukan biaya yang besar bagi yang punya hajat.

Tim Musisi mempersembahkan satu nomor berjudul “Apa Ada Angin di Jakarta”, nomor ini adalah garapan Kiai Kanjeng yang mengadopsi dari puisi karya Umbu Landu Paranggi.

Menulis Menyerap Realitas

Kusworo memandu sesi diskusi kedua dengan mempersilakan tim Bentang Pustaka, Helmi Mustofa dan Harianto untuk mulai memaparkan materinya. Helmi Mustofa mengawali dengan memperkenalkan Bentang Pustaka sebagai anak dari Penerbit Mizan yang merupakan cikal bakal penerbit buku dalam bidang pemikiran Islam, salah satu penulis tetapnya adalah Cak Nun. Dan setiap buku yang diterbitkan Bentang ini, buku Cak Nun selalu menjadi best seller. Buku-buku Cak Nun sampai saat sekarang masih memiliki relevansi dan pandangan-pandangan yang tetap aktual. Buku-buku Cak Nun yang sudah diterbitkan ulang oleh Bentang Pustaka adalah “Arus Bawah”, “Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai” dan “Sedang Tuhanpun Cemburu”.

“Dalam buku ‘Anggukkan Ritmis Kaki Pak Kiai’ ini banyak sekali pandangan-pandangan tasawuf dan keberagaman yang kalau saya katakan dari situlah sebenarnya akar pemikiran Maiyah itu ada disitu. Tasawufnya, pemahaman mengenai hukum Islam, fikih, Islam sebagai kata kerja dan kata benda, semua ada disitu.”, ujar Helmi Mustofa.

“Untuk anda yang masih segar, ini adalah sebuah peringatan, bahwa 20 tahun lalu Cak Nun sudah melakukan proses berfikir, merenung dan menuliskannya. Dan sampai sekarang ternyata apa yang dilakukan oleh Cak Nun ini masih relevan dan sepertinya kok belum banyak anak muda yang menuangkan gagasan-gagasannya kedalam karya tulisan yang tidak harus mirip, tapi menjawab juga permasalahan disekitar kita saat ini.”, ujar Sholahudin dari Tim Bentang Pustaka.

Sholahudin bercerita bahwa tulisan-tulisan Cak Nun adalah tulisan yang bisa dibaca oleh manusia lain, tidak hanya untuk dirinya sendiri. Sholahudin juga mengajak teman-teman yang masih muda untuk segera sajamelakukan proses kreatif dalam bentuk tulisan. Secara simbolis Agus Sukoco perwakilan dari Juguran Syafaat menerima buku-buku terbaru dari Bentang Pustaka yang diserahkan oleh Sholahudin.

Rifangi dan Tim Musisi mempersembahkan nomor “Shalom Alaeheim”, nomor yang digarap khusus oleh Kiai Kanjeng. Pada malam hari ini juga diresmikan nama Tim Musisi Juguran Syafaat yang bernama “Ki Ageng Juguran”.

Harianto menuturkan bahwa manusia saat ini ketika menulis menggunakan motif ekonomi, sehingga yang terjadi bukan keabadian karya, tapi justru malah kesementaraan. Harianto menuturkan bahwa dalam Islam ada 3 level dari efek terjadinya sesuatu, dari manfaat, mashlahat hingga barokah. Barokah ini tidak bisa diukur secara materi, tapi secara rohani dan inilah yang bisa mengantarkan kita kepada keabadian.

“Seringkali budaya yang ada disekitar kita adalah budaya nge-fans. Jangan-jangan Maiyah nanti juga larinya ke Emhaiyah, ketika kita tidak benar-benar tahu persis proses Cak Nun bagaimana melahirkan pemikiran-pemikirannya. Nah buku-buku karyanya ini adalah bagaimana caranya kita bisa mengetahui prosesnya.Cak Nun bukan wali yang bersembunyi didalam goa, tapi beliau orang yang bersungguh-sungguh melakukan proses fikir, tulus mencari solusi dan mensikapi dalam bentuk karya.”, tambah Harianto.

Harianto menambahkan bahwa budaya “Iqro” itu tidak hanya sekedar membaca, tapi juga seharusnya menyambungkan karena berasal dari kata “Qoroah”, yang artinya menyambungkan. “Iqro” juga berarti menulis, menyambungkan huruf, kata hingga paragraf menjadi tulisan.

“Kenapa sampai saat ini yang digembor-gemborkan justru budaya gemar membaca? Karena sekarang ini, orang bodoh bukan karena minim informasi, tapi karena kebanjiran informasi. Orang sekarang dituntut untuk gemar membaca, maka orang yang menulis dengan berbagai macam kepentingan dan misi, inilah masa panennya.”, ujar Harianto.

Helmi Mustofa menuturkan beberapa proses menulis dari Cak Nun yang cukup mengagumkan. Cak Nun sanggup menulis disela-sela kesibukannya menerima tamu, event di panggung, hingga di kendaraan umum. Cak Nun dahulu masih menggunakan mesin ketik yang tidak ada fungsi delete didalamnya, disitulah kepiawaian menulisnya teruji. Beliau sanggup menuangkan fikirannya ke dalam kata-kata sehingga sangat jarang sekali dikoreksi.

“Proses menulis Cak Nun ini bukan proses menulis yang steril. Tapi beliau menulis ditengah masyarakat, melayani berbagai macam persoalan. Karya-karya beliau salah satu kekuatannya justru muncul dari situ. Maka setiap essai-essainya itu hampir semuanya memotret dari peristiwa yang beliau hadapi. Kenapa beliau bisa banyak sekali menulis? Karena memang supply persoalannya tidak pernah habis. Kenapa beliau begitu banyak persoalan, karena beliau terjun sebagai pelayan masyarakat.”, sambung Helmi Mustofa.

Helmi Mustofa menerangkan bahwa proses menulis Cak Nun bukan dalam rangka mengejar popularitas atau mencari motif ekonomi, tapi dalam rangka menjawab persoalan-persoalan yang terjadi dalam masyarakat. Yang bisa kita teladani adalah bagaimana kita menjadi manusia memiliki tanggungjawab kekhalifahan, dari situ kita memiliki peluang mendapatkan gagasan-gagasan untuk menulis. Sebagai penghangat suasana, Ki Ageng Juguran mempersembahkan satu nomor “Semau-maumu” dalam nuansa Reagge.

Melawan Ilusi Ekonomi

Rizky memberikan pengantar ke tema “Freenomics” dengan bercerita sedikit tentang perjalanan Juguran Syafaat 2 bulan sebelumnya. Dimana kita berhasil menemukan bahwa kita dikangkangi globalisasi melalui dua kaki, yaitu regulasi dan media massa.Yang bisa dilakukan kita berlindung dalam komunitas kita sendiri.

“Kalau kita merefleksikan pada perjalanan Cak Nun 20 tahun yang lalu adalah ini kita jadikan untuk latihan berfikir, karena ternyata selama ini kita memang sangat sedikit sekali berfikir. Kita terima jadi apa ayng sudah diproduksi dari luar. Fikih terima jadi, tafsir terima jadi, undang-undang terima jadi. Minimal kita mengasah cara berfikir kita. “, tambah Rizky.

Titut Edi menceritakan proses kreatifnya berkesenian teater yang baru saja kemarin mengadakan pertunjukan yang bertajuk “Garong bukan Akik bukan pula Begal”.

Agus Sukoco menyambung diskusi dengan menuturkan tentang level-level bahasa Tuhan, dari wahyu, karomah, maunah, fadilah dan ilham. Tuhan mengirimkan sinyal secara terus menerus, dan tinggal seberapa kuat kita menerima informasi-informasi tersebut. Apakah mampu sangat akurat atau justru malah terdistorsi?

“Sekarang itu ada hal-hal yang dulu kita tidak membutuhkan uang, tidak butuh biaya, sekarang harus ada biayanya. Pertemuan kemarin Togar mengatakan, orang mati tinggal mati saja. Tidak usah bingung. Sekarang membutuhkan biaya besar. Karena lingkungan pada saat itu masih terkait dengan komunikasi yang sifatnya kasih sayang, tidak transaksional. Masihada hubungan kemanusiaan. Ini yang membuat orang tidak terlalu ngoyo mencari uang, karena ternyata banyak hal juga yang tidak harus dengan uang. Nah sekarang, apa-apa harus dengan uang.”, tambah Agus Sukoco.

Agus Sukoco menuturkan bahwa biaya-biaya hidup kita sekarang diatur oleh ilusi-ilusi yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Bukan lagi pada azas manfaat atau fungsi atas apa saja yang kita keluarkan dengan uang, tapi juga pertimbangan lain yang sebenarnya merupakan ilusi saja.

“Saya punya analogi dalam menghadapi ilusi tersebut. Kita ini punya kampung halaman, kita diutus oleh Tuhan untuk tinggal di daerah tertinggal, yaitu dunia. Untuk memajukan daerah tertinggal itu. Kita datang ke dunia melalui mekanisme biologis yaitu kelahiran. Orang tertipu melihat ini karena pandangannya materialisme, dikira kita itu jasadiyah. Tahap biologisnya itu bayi, remaja, dewasa dan tua, tapi hakekatnya esensi kemanusiaan kita tidak urusan kecil, besar dan tua. Kita hadir ke dunia, disuruh untuk memajukan daerah tertinggal. Dimana yang disebut maju bukan seperti sekarang, gedung bertingkat dan sebagainya yang sangat materi, tapi justru maju adalah meningkat derajatnya dari materi menuju ke rohani. Ukuran modern seharusnya yang rohani, bukan ke materi.“, tambah Agus Sukoco.

Agus Sukoco menuturkan apabila kita bertemu dengan orang yang masih membangga-banggakan harta kekayaannya dalam bentuk materi, maka bisa jadi itu adalah penduduk asli bumi, daerah tertinggal ini. Yang sejatinya kita harus modernkan, harus kita majukan secara rohani, itu jika menggunakan analogi bahwa kita adalah utusan Tuhan.

Sebagai penyambung diskusi, Ki Ageng Juguran menampilkan nomor dari Koes Plus dengan judul “Diana” yang divokali oleh Arung Samudra.

Fikry menghubungkan penjelasan tentang siaran Tuhan dengan teori telekomunikasi, dimana semua sebenarnya bisa menangkap siaran tersebut, asalkan tidak terhalang oleh ‘obstacle’ dalam kehidupan. Jika ini bisa dilewati, maka kita bisa meningkat dari ilham ke fadilah ke maunah atau bahkan ke karomah.

Titut Edi mempersembahkan nomor lagu humornya diiringi oleh Ki Ageng Juguran, dengan judul “Sepur Logawa”, dan “Kintel-kintel Kluyuran”. Para sedulur juga disajikan multimedia berupa video pendek dari “The Arrival Series” yang membahas tentang kungkungan uang dalam kehidupan kita sehari-hari.

Harianto menyambung diskusi dengan menuturkan bahwa ekonomi dimulai dari ada kebutuhan dan ada alat pemenuh kebutuhan. Orang barat mengatakan bahwa alat untuk memenuhi kebutuhan kita itu sangat terbatas, dan kebutuhan manusia sangat tidak terbatas. Ini adalah konsep yang dibentuk pertama untuk muncul motif teori. Maka yang terjadi adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia, dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya untuk memenuhi kebutuhan sebanyak-banyaknya.

“Dalam Islam, teori tadi itu salah besar. Allah menciptakan semua alam seisinya ini sangat tidak terbatas. Maka teori Islam mengatakan, alat pemenuh kebutuhan itu sangat tidak terbatas, dan manusia harus membatasi kebutuhannya. Disinilah terdapat batasan akhlak, batasan bagaimana memperoleh, batasan bagaimana mekanisme ekonomi, dan sebagainya.”, ujar Harianto.

Harianto menuturkan bahwa saat ini sudah tidak mungkin hidup tanpa menggunakan uang sebagai alat tukar, yang terpenting adalah bagaimana kita meletakkan uang dalam konsep hidup kita. Harianto juga menyampaikan bahwa kata profesi itu muncul bukan dari kata profit, tapi dari kata profetik, yaitu kenabian. Maka profesi itu mengemban nilai kenabian didalamnya.

“Mengenai buku Cak Nun, kenapa sampai sekarang masih relevan, itu bukti bahwa belum ada perubahan di Indonesia sejak tahun 80an. Bahkan sejak reformasi, ini bukti nyata bahwa persoalannya tetap sama. Orang masih menganggap reformasi sudah berjalan, dan sekarang umurnya 17 tahun, tapi belum ada perubahan sampai saat ini.”, ujar Harianto.

Togar menceritakan tentang fenomena batu akik yang sekarang menjadi komoditas ekonomi. Menurut Togar, ada hal yang jauh lebih berharga daripada sekedar transaksi ekonomi, yaitu persaudaraan yang penuh cinta kasih. Jika hubungan manusia sudah terjalin dengan prinsip persaudaraan cinta kasih, maka sudah tidak ada lagi transaksi ekonomi didalamnya, ini bisa disebut dengan freenomics.

Agus Sukoco merespon bahwa uang sekarang sudah tidak menjadi alat tukar, tapi menjadi alat penjajahan. Menutur Agus, kita sudah tidak bisa memberontak melawan sistem ekonomi global yang sudah merajalelas seperti ini, yang bisa kita lakukan adalah penyadaran diri. Membentengi diri dengan cara berfikir yang jernih terhadap uang, sehingga kita tidak tertipu oleh ilusi-ilusi yang diciptakan oleh kecemasan-kecemasan global.

Agus menuturkan bahwa rejeki kita dijamin oleh Tuhan dengan mekanisme “min haitsu la yah tahsib”, jalan rejeki yang tidak terduga-duga. Sesuatu yang tidak terduga ini selama ini kita anggap sesuatu yang tidak pasti dan tidak bisa kita jadikan pegangan, padahal yang paling pasti dari Tuhan adalah sesuatu yang tidak terduga ini. Ilusi yang diciptakan adalah memasti-mastikan hidup melalui penumpukan harta, asuransi yang justru itu semua adalah bentuk ketidak percayaan kita kepada Tuhan.

Hadiwijaya, Seniman Banyumas, menutup dengan menyampaikan tafsir falsafah jawa “lewih becik mikul dawet karo rengeng-rengeng, tenimbang numpak mobil karo ngereng-ngereng” yang berarti bersyukur dalam setiap keadaan.

Acara malam hari ini diakhiri dengan salam-salaman melingkar diiringi satu nomor musik dari Ki Ageng Juguran berjudul “Kelayung-layung”. [] Hilmy/RedJS