Rancu Sejak dari Kata-Kata

Hari demi hari bangsa kita terus menghadapi kerancuan demi kerancuan. Seperti benang kusut yang sungguh putus asa untuk dibuat kembali terurai. Kerancuan yang berlapis-lapis, mulai dari kerancuan harga-harga, kerancuan kebijakan-kebijakan dan tanpa sadar, kita sebenarnya sudah rancu mulai dari hal yang paling dasar, kerancuan kita dalam memahami kata-kata dan istilah-istilah.

Orang Barat kagum kepada Indonesia, diantaranya karena mereka menyaksikan, bahkan seorang tukang becak yang notabenenya adalah kaum marginal dalam hidupnya ia mempunyai falsafah, “Sejatine, urip kuwi mung mampir wedangan”. Walau pada kenyataannya, sebagian kita yang merasa memiliki kasta di atas tukang becak juga tidak memiliki falsafah hidup seluhur itu. Falsafah luhur yang membuat ia setia mengayuh becak, tanpa dibebani depresi mental akibat tekanan sosial.

Jangankan memiliki falsafah hidup, bahkan membedakan antara mana falsafah, mana semboyan dan mana afirmasi saja sepertinya masih rancu. Kerancuan kita memahami istilah inilah bisa jadi yang menjadi pangkal dari segala kerancuan yang terjadi di bangsa ini secara berlapis-lapis hari ini.

Ada falsafah, ada prinsip, ada metode, ada semboyan atau moto, ada visi, ada misi, ada afirmasi dan lain sebagainya. Ketidakpekaan kita terhadap kata dan istilah membuat kita hanya mengenalinya sebagai pepatah, atau kata bijak atau kata mutiara.

Falsafah adalah sikap batin yang mendasar, ia berfungsi sebagai the deep of lifemap. Falsafah yang benar akan membuat cara kita memandang sesuatu menjadi lebih presisi. Orang yang mempunyai falsafah atau sikap batin yang menjadi dasar terhadap hidup adalah sebagai “mampir wedangan”, tentu akan beda improvisasi sikap hidupnya dengan orang yang memiliki sikap batin yang menjadi dasar bahwa hidup adalah ngobyek. Falsafah ngobyek namanya.

Pilihan sikapnya akan berbeda, kuda-kuda daya tahan hidupnya berbeda. Prinsip yang dipegang akan berbeda, metode yang ditempuh berbeda, visi yang dituju berbeda, slogan yang dibuat juga akan berbeda. Maka tidak ada salahnya kalau kita cek lagi apa falsafah hidup kita.

Kalau falsafah adalah sikap batin yang mendasar. Maka jangan keliru memilih sekedar pepatah untuk dijadikan falsafah. Ada pepatah “Mikul dhuwur, mendhem jero”, itu adalah jenis prinsip. Ada “Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”, itu adalah jenis metode. Ada “Sakinah, mawadah, warrohmah”, itu adalah visi. Ada “Bhineka tunggal ika”, itu adalah motto atau semboyan. Ada pula “Kegagalan adalah sukses yang tertunda”, itu adalah jenis afirmasi. Satu persatu kita urai kerancuan kita dalam memahami kata-kata, satu persatu kita tempatkan yang empan papan sehingga mereka menjadi memiliki fungsi dalam hidup kita.

Kalau falsafah hidup sudah diidentifikasi, selanjutnya kita cek dan temukan falsafah kita dalam berbangsa. Sudah benarkah sikap batin kita dalam memutuskan untuk hidup bersama menjadi sebuah bangsa? Kalau “Bhineka tunggal ika” adalah semboyan, lalu “Bela negara” adalah metode untuk mengerjakan misi dan mencapai visi “Membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”, lalu apakah falsafah kita dalam berbangsa?

Mari kita cek lagi sikap batin kita memandang keberbangsaan kita. Apakah bangsa hanyalah sekedar ampiran atau persinggahan? Ataukah bangsa adalah tempat berlindung dari ancaman bangsa lain? Atau bangsa adalah tempat membangun kekayaan mengungguli bangsa lain? Ataukah bangsa adalah tempat memperkaya segelintir orang dan memiskinkan sebagian besar lainnya?

Bangsa ini sejatinya adalah rumah tempat bernaung, atau sejatinya bangsa ini adalah perusahaan pemburu pendapatan? Mentang-mentang agenda dunia saat ini adalah urusan pasar, yakni pasar bebas lalu apakah serta merta kita memandang bangsa adalah lapak usaha? Sehinga falsafah salah kaprah kita adalah: Sejatinya membangun bangsa adalah membangun perusahaan.

Demi efisiensi perusahaan, subsidi untuk cabang produksi strategis yang signifikan bagi hajat hidup orang banyak harus dikurangi bahkan dicabut. Demi optimalisasi pendapatan perusahaan, tambang emas harus dinasionalisasi. Demi mengurangi kebocoran kas perusahaan, komisi pengembalian uang kas harus digenjot. Bukan semua itu jelek, tapi menjadi tidak tepat ketika sikap batin kita rancu. Akhirnya kita tidak bergerak kemana-mana.

Apa jadinya kalau kita tinggal bernaung di sebuah rumah, tapi kita abai dengan kondisi rumah karena disibukkan oleh papan nama usaha yang terpampang didepan rumah. Urusannya cuma laba, omset dan peluang. Lupa kalau rumah juga harus dijaga tatanannya dan terus dirawat. Itulah gambaran orang yang salah menaruh sikap batin sebagai dasar memandang kehidupan keberbangsaannya, salah memegang falsafah dalam berbangsa.[] Rizky Dwi Rahmawan