Mukadimah: SINAU RUMANGSA

Leluhur Jawa memiliki pesan bijak “Aja rumangsa bisa, nanging bisa rumangsa”. Kurang lebih makna dari pesan itu adalah: Jangan merasa bisa, tapi bisalah mawas diri. Orang yang tidak bisa mawas diri akan susah hidupnya. Tidak bisa mawas diri bisa berakibat “Besar pasak daripada tiang”. Bila dalam ekonomi berarti seseorang yang besar pasak daripada tiang, dia memiliki pengeluaran yang tidak seimbang dengan pemasukannya. Sedangkan bila dalam pergerakan, berarti adalah seseorang yang lebih besar ambisinya dibanding ukuran kapasitas kemampuan dirinya.

Lebih luas lagi, kita juga harus memegang “Aja rumangsa nduweni, nanging nduwenia rumangsa”. Lihat saja spanduk-spanduk dan baliho calon pemimpin di pinggir jalan itu, memangnya mereka itu siapanya pemilik Tanah Indonesia kok rumangsa nduweni Indonesia dan berambisi kepengin menguasai Indonesia dengan kedok ingin ikut dandan-dandan? Mereka yang membuat partai-partai baru itu, mereka keponakannya pemilik Indonesia, apa sepupunya apa cucunya? Apa jangan-jangan cuma sekedar orang lewat di jalan sejarah Indonesia?

Di sisi sebaliknya, diantara kita ini jangan-jangan ada yang sebetulnya adalah bagian dari yang nduweni Indonesia, hanya saja tidak rumangsa. Sehingga kita tidak terbetik handarbeni atau rasa memiliki. Juga tidak terbetik rasa untuk ikut andil memperbaiki. Padahal mungkin Indonesia menagih dan menyeret-nyeret kita sambil berkata “Rumangsamu, kalau bukan kamu memangnya siapa lagi yang bisa mengerjakan?”.[] RedJS