Reportase: MEMULAI PUTUS ASA

Pendidikan Putus Asa

Sejak pukul 20.00 malam, para sedulur sudah mulai memadati Pendopo Wakil Bupati Banyumas. Beberapa diantaranya mengobrol satu sama lain, membaca buletin dan ada yang ikut membantu sedulur menyiapkan acara. Tepat pukul 21.00 WIB, acara dimulai dengan dibuka oleh Kusworo sebagai moderator.Kukuh memandu para sedulur untuk membaca surat Al Ankabut secara tartil dan terpimpin. Dilanjutkan dengan Wirid Padhang Mbulan bersama-sama dipimpin oleh Rifangi.

Seusai wiridan, Kukuh meminta Al Fatihah para sedulur untuk Gus Dur, karena malam hari ini bertepatan dengan digelarnya Haul Gusdur di Purwokerto. Kemudian Kusworo memulai sesi perkenalan dengan para sedulur yang hadir dari sekitar Purbalingga, Majenang, Cilacap dan Banyumas. Juguran Syafaat malam ini kedatangan tamu spesial, yaitu Toto Rahardjo, sesepuh Maiyah, sahabat dekat Cak Nun, yang beberapa hari yang lalu menyediakan waktunya untuk mengisi workshop keorganisasian untuk Penggiat Juguran Syafaat. Toto Rahardjo datang bersama Harianto, yang merupakan ISIM Maiyah dan juga Sekretaris Nahdlatul Muhammadiyyin.

Sebagai pengantar Rifangi memimpin sholawat “Duh Gusti” yang diiringi oleh sedulur pemusik dari Purbalingga. Juguran Syafaat kali ini adalah penyelenggaraan ke-22, dan mengambil tema “Memulai Putus Asa”. Acara malam hari ini adalah rangkaian terakhir dari “Workshop Internal Keorganisasian Penggiat Maiyah Juguran Syafaat” yang dipandu oleh Toto Rahardjo, di Purbalingga. Rizky melanjutkan dengan menjelaskan sedikit pengantar tentang Maiyah, kota-kota simpul Maiyah dan juga mata air Maiyah, yaitu Cak Nun.

“Tema ini terinspirasi dari Pak Toto Rahardjo, beliau tokoh pergerakan di Indonesia yang sudah terbukti melakukan banyak hal, suatu ketika saya dengan lugunya meminta tips bagaimana untuk melakukan pergerakan merubah Indonesia, dan beliau menjawab bahwa beliaupun sudah putus asa”, awal Rizky.

“Tetapi setelah mengikuti workshop kemarin selama tiga hari, ternyata definisi putus asa-nya Pak Toto ini berbeda 195 derajat dengan definisi putus asa yang kita kenal sebelumnya.”, tambah Rizky.

Toto Rahardjo usai menerbitkan satu bukunya mengenai sekolah yang didirikannya di Yogyakarta, berjudul “Sekolah Biasa Saja”. Buku ini merupakan refleksi cara pandangnya melihat pendidikan alternatif atas carut marutnya pendidikan saat ini.

“Pendidikan saat ini yang primer bukan lagi di keluarga, tapi malah di sekolah. Salah satu bentuknya, masih kecil sudah masuk PAUD. Disadari atau tidak disadari, anak-anak mengenal dunia atau kehidupan tidak melalui lingkungan keluarga, tetapi melalui apa yang diformatkan atau diajarkan di sekolah. Dan itu saya kira belum tentu sejalan dengan nilai-nilai keluarga.”, sambung Kusworo.

“Orang kadang merasa sehat, karena orang tidak pernah mendiagnosa dirinya. Hidup seperti baik-baik saja, begitu didiagnosa ternyata sama sekali tidak sehat. Barangkali apa yang kita alami sekarang menurut mainstream ini wajar-wajar saja, sistem sekolah, pendidikan dan di bidang-bidang lain. Padahal belum tentu pas untuk hidup kita sebenarnya.”, tambah Kusworo.

Demas, penggiat pendidikan Banyumas, bercerita tentang pengalamannya mengajar di desa Kemawi, Banyumas. Demas menceritakan bahwa di sekolahnya hampir 50% pengajarnya mengajar mata pelajaran yang tidak sesuai dengan studi-nya. Murid-muridnya harus menempuh 1 jam perjalanan dengan jalan kaki untuk menuju sekolahnya, karena tidak ada angkutan umum yang lewat. Demas memperkenalkan komunitas yang didirikannya yang berkumpul membahas alternatif-alternatif apa yang bisa dipakai sebagai media pendidikan anak-anak.

Toto Rahardjo merespon sharing dari yang tadi berbicara dengan sebelumnya menyapa para sedulur yang sudah hadir.

“Pendidikan sekarang ini kan seperti benang kusut. Untuk mengurainya itu seperti apa? Itu kan malah merusak saja, untuk menjahit sudah tidak bisa. Kalau gitu kan ganti saja benangnya. Saya sebenarnya sedang menelusuri sejak kapan sekolah menjadi ajang kompetisi. Padahal latar belakangnya beda, gizinya beda, fasilitasnya beda. Itu sebenarnya tugas negara. Kalau sekarang saya melihat belum ada yang kita lihat sebagai harapan.”, awal Toto.

“Saya kira kalau mau ngomong putus asa itu akarnya dari sini. Tapi putus asa bisa dimaknai yang positif. Artinya, kalau anda putus asa, berarti anda sedang gelisah dan sedang mencoba melihat, mencari kasunyatan-kasunyatan yang mungkin bisa menjadi pencerahan anda semua.”, sambung Toto.

“Kalau anda melihat globalisasi itu sebenarnya sudah ada sejak orde baru ada, sejak presiden Soeharto menandatangani kesepakatan didalam globalisasi. Globalisasi itu adalah pasar bebas. Ada tiga jalur menuju globalisasi, yang pertama dimana aparatus pasar bebas bekerja melalui mempengaruhi regulasi. Bagaimana supaya undang-undang diubah sesuai dengan pasar bebas. Ketika itu negara menandatangani kesepakatan tentang pasar bebas, implikasinya negara harus membuat undang-undang yang memperbolehkan pasar bebas, negara tidak boleh lagi memberikan subsidi. Kalau sekarang negara sudah tidak memberikan subsidi, terus apa guna negara? “, tambah Toto.

“Salah satu larangan dari pasar bebas adalah negara dilarang memberikan subsidi kepada petani. Inilah yang menyebabkan harga cabai melambung tinggi. Anda pernah dengar istilah Good Government? Good Government itu adalah pemerintah yang baik yang tidak ikut mengurusi urusan dasar masyarakat, biar diurusi pasar saja.Maka salah satu yang terjadi mahalnya harga itu karena itu. Kalau di Amerika, justru mereka mensubsidi pangan. Ini kan kurang ajar! Mereka menyuruh kita tidak boleh mensubsidi pangan, tetapi mereka sendiri mensubsidi pangan. “, ujar Toto.

“Selanjutnya swastanisasi, dan juga tidak adanya proteksi, perlindungan. Kalau sekarang sekolah disuruh bertanding, itu karena kita disuruh untuk tidak rukun. Kalau perlu, bayi lahir itu disuruh bertanding. Masalahnya kompetisi ini adalah kompetisi bebas. Kalau di tinju ada sistem kelas tanding, disini tidak. Benar-benar bebas bertanding. Ellyas Pical berlatih seharian disuruh bertanding dengan Mike Tyson yang tanpa latihan, sudah pasti Ellyas kalah. Sama seperti kondisi sekarang. “, kata Toto.

“Kalau ada penelitian, kenapa petani miskin, maka akan dijawab karena mereka malas. Padahal yang membuat petani tercukupi hidupnya itu adalah luas tanah. Lah, sekarang luas tanahnya saja tidak seberapa, kalau petani disuruh mencangkul dari shubuh hingga shubuh lagi maka tidak akan mempengaruhi apapun. Gandhi pernah mengatakan bahwa bumi ini cukup untuk semua manusia, tapi tidak cukup untuk seorang yang serakah. Berarti sekarang ini ada keserakahan, ada monopoli yang membikin kemiskinan itu terjadi. “, sambung Toto.

“Nah apa harapan kita selanjutnya, kalau ada tiga jalur globalisasi masuk ke kehidupan kita, Negara, pasar dan komunitas? Ya pasti komunitas.Padahal komunitasnya sendiri, masyarakat kita sudah mengambil alih cara berfikir global. Globalisasi sekarang sudah hampir menyaingi gusti Allah, ada tapi tidak kelihatan. Hanya bisa dirasakan. Dan kita semua mengamini. Orang kalau mandi tidak pakai sabun saja sudah di omong tetangga. Dibilang terbelakang. “, tambah Toto.

Toto menambahkan bahwa saat ini pasar bebas menghendaki semua masyarakat menjadi konsumen ats industrialisasi. Bahkan kita dibuat tidak percaya diri atas produk bikinan sendiri.

Meta dan sedulur musisi Purbalingga mempersembahkan sebuah nomor lagu “Keagungan Tuhan” sebagai penyegar suasana.

Niteni Kasunyatan

Harianto menceritakan tentang kata dalam jawa “Titenono”. Ada strategi bahasa yang digunakan oleh orang tua kita jaman dulu dalam menggunakan kata “Titenono”. Kalau kepada yang muda yang sedang belajar semangatnya adalah semangat ‘niteni’.

“Saya melihat Allah selalu menekankan dalam setiap firmannya, justru untuk ‘niteni’, mengamati, selalu tidak kagetan. Karena sudah tahu sebelumnya, sudah niteni. Sama seperti petuah orang tua kita dalam idiom “Titenono”. Kalau dalam Al Quran ada kata “Afala” yang cukup mendominasi. “Afala” itu artinya apa kamu tidak. Ada apa kamu tidak berfikir, apa kamu tidak renungkan, apa kamu tidak melihat. Ini kan konteksnya pendidikan.”, sambung Harianto.

“Dalam teori sosial, kompetisi adalah tahap kedua setelah konflik. Dahulu ketika masyarakat masih tenang, kita dibikin konflik. Bangsa barat menemukan cara supaya kita tidak konflik tanpa aturan, dibuatlah aturan main. Hadirlah kompetisi. Tapi hakikat sebanarnya tetap bertanding. Setelah masyarakat berkompetisi, berkembang menjadi masyarakat yang kooperatif. Masyarakat yang sadar peran.”, tambah Harianto.

“Kaya dan miskin sampai hari ini kita pahami sebagai kelas. Pintar dan bodoh, berpendidikan tinggi da berpendidikan rendah. Padahal tidak. Kaya dan miskin itu adalah peran. Sebenarnya fungsi pendidikan adalah menyadarkan peran ini tadi. Tapi pendidikan sekarangpun dibikin kelas. SMP lebih tinggi daripada SD, dan seterusnya.Saya membayangkan, pendidikan yang paling utama itu adalah mengenalkan orang untuk menjadi orang. Bagaimana manusia menjadi manusia. Kalau dibuat urutan umur, umur 0-15 tahun itu lingkaran dalam, lingkaran dalam itu pendidikannya tentang rumah tangga dan rukun warga, karena jangakauannya ya sebatas itu. Dia belajar khusus tentang keluarga, kebutuhan rumah tangga, bagaimana akur, tercukupi kebutuhannya. Dan melebar ke rukun warga apa yang terjadi di lingkuangan sekitar. Disini anak belajar juga tentang matematika, geografi.”, jelas Harianto.

Kenapa pendidikan lepas konteks dengan kehidupan karena sejak awal, sejak SD SMP, itu tidak dikenalkan tentang keluarganya tentang rumah tangga, tentang rukun warga.Lingkaran menengah 15-20, ini usia pengembaraan, ini adalah usia berburu ilmu. Anak sudah bisa menentukan apa yang mau dipelajari, kebutuhan akan belajarnya. Misal mau belajar tentang batu akik. Anak sendiri yang menentukan ukuran berapa lama dia harus belajar, karena dia sudah pra dewasa.Lingkaran luar setelah 20 tahun, setelah mendapatkan bahan yang banyak, saatnya dia kembali ke rumah tangga dan ke rukun warga tadi. Melakukan pengabdian. Kenapa sekarang kampus tidak melakukan pengabdian, karena sewaktu kecil sudah dipisahkan dengan rumah tangga dan rukun warga.”, ujar Harianto.

Harianto menjelaskan bahwa kita tidak bisa merubah orang lain, yang bisa kita lakukan adalah merubah diri kita sendiri. Logikanya seperti ketika kita meminta orang lain menampar kita, itu tidak bisa. Yang bisa kita lakukan adalah meludahi mereka, maka kita akan ditampar oleh mereka. Sebuah perubahan tidak akan terjadi kalau kita tidak melakukan kerja perubahan pada diri kita sendiri.

Meta, fasilitator Sekolah Alam Baturraden, bercerita tentang beberapa kebijakan menteri pendidikan sekarang yang tidak sesuai dengan permasalahan yang sebenarnyaterjadi. Meta sharing tentang sekolahnya yang susah mendapatkan ijin karena tidak memiliki gedung sekolah.

“Hakikat belajar itu bukan membaca dan menulis terus-terusan. Hakikat belajar adalah setiap apapun yang teman-teman alami, itu adalah sedang belajar. Itu yang saya tanamkan ke anak-anak di sekolah saya.”, ujar Meta.

Toto Rahardjo menambahkan dengan bercerita tentang bentuk-bentuk asuransi sosial yang berlaku pada masyarakat kita. Seperti contoh ibu hamil, dimana orang bahu membahu memperhatikan ibu hamil dalam masyarakat desa, dari 7 bulan, hingga persiapan kelahirannya. Tetapi lama-lama bentuk seperti semakin hilang, hingga yang menanggung beban hanya ibuyang hamil itu saja.

“Yang bisa kita lakukan adalah membuat tatanan kesepakatan didalam komunitas terkecil kita. Kita merasa putus asa, berarti kita merasa gelisah melihat keadaan. Yang repot adalah, kita itu tidak tahu, tetapi kita tidak mengerti kalau kita tidak tahu.”, kata Toto.

“Melihat kasus diatas, segala bentuk program yang dilakukan masyarakat adalah bentuk keputusasaan. Kita hidup bersama dengan negara atau penyelenggara kekuasaan publik, tapi fasilitas hidup tidak disediakan oleh negara. Maka bentuknya adalah membangun kemandirian komunitas, yaitu membuat kesepakatan-kesepakatan sosial. Pola seperti ini yang bisa diterapkan di komunitas dimanapun. Nah yang miris kan kalau komunitas itu berkumpul justru bukannya memproduk sesuatu tetapi mengkonsumsi sesuatu.”, Rizky merespon.

Isma, dari Purwokerto, sharing tentang pengalaman susahnya mencari pekerjaan yang sesuai dengan minatnya.

“Sekolah sekarang diminta untuk menyediakan tenaga kerja. Ini salah. Sekolah ya sekolah, belajar hidup, supaya memahami potensi dirinya. Maka sekarang yang muncul adalah sekolah vokasi, padahal inipun sudah gagal. Arti sekolah sesungguhnya itu adalah mengisi waktu luang. Tapi kenapa sekarang menjadi penting sekali, kan aneh ini. Tiba-tiba sekolah menjadi penentu jaman. ”, Toto merespon.

Toto bercerita tentang tahun 80an dimana dia berkenalan dengan pemikiran dari Paulo Freiere, Ivan Illich yang kemudian membuat dia memutuskan untuk berhenti sekolah.

Sebagai pengahangat suasana, Tri dan sedulur musisi Purbalingga mempersembahkan musik karya sendiri berjudul “Koruptor Si Perut Setan”.

Membangun Ukuran Sendiri

Agus Sukoco menyambung diskusi sebelumnya dengan menceritakan tentang perubahan dalam sudut pandang Al Quran. Dimana cerita Nabi Musa dan Nabi Harun dalam membawa nilai Islam kepada Firaun, yang akhirnya Firaun gagal diberi tahu (dirubah). Sejatinya Firaun memang tidak bisa dirubah, dan Nabi Musa paham itu, tapi dia hanya menjalankan perannya saja sebagai Nabi.

“Kita dulu mengenal yang namanya takhayul itu ketika duduk dipintu, sehingga susah mendapat jodoh. Tapi kalau kita gali, kita akan menemukan filosofi-filosofi dari yang kita anggap takhayul. Dan ternyata itu malah bukan takhayul. Yang saya rasakan sebagai takhayul yang nyata adalah ukuran-ukuran yang sekarang berada di kehidupan kita. Bahwa yang bagus, yang modern, yang hebat itu harus yang seperti ini. Tahun 80an orang yang cantik itu yang kriting. Tahun 2000an itu yang cantik itu yang lurus. Dan kita berbondong-bondong ke salon.Kita tidak sadar bahwa selera kita dikendalikan entah oleh siapa. Nah, disitulah ketidak merdekaan kita. Kita tidak tahu mana primer mana sekunder. Jadi kalau kita ke swalayan, ke supermarket, kita bisa niat beli odol, begitu kita kesana semua menjadi seperti penting semua. Malah odol tidak jadi dibeli.”, sambung Agus.

Menanggapi perubahan yang dikemukakan oleh Harianto, Agus menceritakan pergaulannya dengan teman-teman Purbalingga dimana mereka sanggup merubah ukuran-ukuran hidupnya, tidak dipengaruhi oleh mainstream. Apabila orang lain bangga bisa makan enak, teman-teman malah malu, dan sebisa mungkin menghindar ketika ketahuan makan enak. bahkan teman-teman mengurangi tidur, ada ukuran tersendiri jika tidur terlalu cepat setiap harinya.

Harianto menjelaskan konsep kedaulatan dalam surat An Nas yang terdapat idiom Robbinnas, Malikinnas, dan Illahinnas. Peradaban yang menyeluruh atau tata kelola sosial dalam AnNas disebutkan dengan kata Illahinnas. Sebelum mencapai Illahinnas, maka yang harus diupayakan adalah Malikinnas, ini adalah kekuasaan, kemandirian atau kedaulatan. Dan yang sering kita lupakan adalah idiomRobbinnas sebelum Malikinnas, ini adalah pengasuhan, pengabdian, atau pelayanan. Maka jika umat Islam ingin berkuasa, yang dilakukan bukanlah merebut kekuasan, yang harus dilakukan adalah pelayanan, pengabdian. Maka jika ini sudah dilakukan, maka secara otomatis kekuasaan akan tercapai.

“Kenapa Amerika hari ini sangat menguasai dunia? Karena mereka bersungguh-sungguh melakukan pelayanan. Mereka berfikir bagaimana supaya orang tidak kerepotan dalam melakukan perjalanan jauh, melahirkan pesawat. Mereka berfikir orang membutuh komunikasi jarak jauh, mereka melahirkan telepon. Terlepas motivasinya apa, karena kita tidak bisa mengukur dan menghakimi motivasi.”, tambah Harianto.

Rizky menceritakan apa saja yang didapat dalam workshop bersama Toto Rahardjo kemarin seperti agenda penggiat Maiyah yang berperan untuk niteni / riset dalam kehidupan sehari-hari. Ini berfungsi untuk mendiagnosa permasalahan apa saja yang terjadi di sekitar lingkungan kita dengan lebih terstruktur.

Berbagi Kasunyatan

Syiir Tanpo Waton dipersembahkan oleh Rifangi dan sedulur musisi Purbalingga, menyambut peringatan Haul Gus Dur pada malam hari ini. Azmy dari Gusdurian Purwokerto, menyempatkan datang ke Juguran Syafaat seusai acara dari tempat lain dalam peringatan Haul Gus Dur. Azmy bercerita tentang proses perkenalannya dengan Gus Dur melalui pemikirannya terhadap kemanusiaannya.

“Negara sampai sekarang belum mampu memanusiakan manusia. Terbukti sampai sekarang masih ada konflik SARA, sektarian dan lain sebagainya. “, tambah Azmy.

Toto Rahardjo menambahkan tentang ketidakadilan dalam dunia ini yang dahulu hanya masalah kelas majikan dengan buruh sekarang menyebar menjadi jenis kelamin, usia, sampai ke pengelolaan sumber daya alam.

“Ini tidak bisa dilakukan solusi kecuali melalui pendidikan kemanusiaan di usia dasar. Nah kita pikir pendidikan itu hanya di sekolah, padahal pendidikan itu ya dari rumah sampai ke negara. Kalau kita luput memahami kemanusiaan ini, maka ketidakadilan itu yang akan terjadi“, tambah Toto.

Toto mengingatkan bahwa dalam Maiyah kita bahkan diwajibkan untuk menafsirkan sesuatu. Meskipun tafsir kita berbeda-beda karena perbedaan cara pandang, pengalaman hidup dan pendidikan masing-masing orang. Yang menjadi masalah adalah orang yang meng-klaim bahwa tafsirnya yang paling benar.

Toto melihat sejarah bahwa jaman penjajahan dahulu kita dibuat sama atau seragam oleh Belanda, agar kita mudah diatur. Perlawanan terhadap keseragaman ini ditolak habis-habisan oleh Ki Hajar Dewantoro maupun Budi Oetomo.

“Kalau tadi mengatakan bahwa sekarang mobil sudah menjadi kelas sosial, yang padahal fungsi sejatinya sebagai angkutan transportasi, sekarang justru lebih ngawur lagi. Bahkan manusia modern menggunakan simbol-simbol spiritualisme sebagai ukuran-ukuran kelas sosial agar dihormati oleh orang lain.”, respon Agus.

Togar dari Sokaraja, bercerita tentang kesulitannya mencari buruh tani tanam untuk sawahnya. Usia-usia buruh tani rata-rata 40 tahun ke atas. Ini menjadi ancaman tersendiri tidak adanya regenerasi buruh tani di desanya. Togar juga melihat bahwa universitas tidak bisa menyediakan orang-orang yang mumpuni di bidang pertanian, meskipun dia sarjana pertanian.

“Pendidikan saat ini mengajarkan hal yang tidak-tidak kepada peserta didik. Bukan berbasiskan kasunyatan atau kenyataan hidup. Kalau memang daerah tersebut daerah pertanian, maka seharusnya pendidikannya ada hubungannya dengan pertanian. Pendidikan malah menjauhkan manusia dengan realitas sosialnya.”, sambung Toto.

“Tiba-tiba desa menjadi kelas yang paling direndahkan dalam kehidupan. Padahal kalau kita telusuri, asal kata dari desa adalah merdesa, artinya sejarhtera dan patut. Patut dalam ekonomi, sosial, politik maupun kebudayaan. Kalau kita terlusur bahasa yang lain menjadi paradesa, kalau di Inggris menjadi paradise, yang artinya surga. Dulu-dulunya desa diletakkan tinggi derajatnya. Orang jaman dahulu membayangkan surga itu ya seperti desa.”, sambung Toto.

Toto menganalisis bahwa petani sekarang pun membunuh karakter petani itu sendiri dengan menyekolahkan anak-anaknya tidak di bidang pertanian, karena diam-diam mereka sendiri tidak yakin terhadap keberlangsungan hidupnya. Masalah ini sudah menjadi problem sistematis yang susah diurai.

Suasana makin gayeng ketika Rifangi mempersembahkan sholawat Ya Imamar Rusli diiringi musisi Purbalingga.

Hilmy sharing tentang pengalamannya mengikuti workshop dengan Toto Rahardjo kemarin yang membukakan mata bahwa ada banyak masalah sosial yang terjadi dilingkungan terdekat kita sekalipun. Meskipun kita tidak bisa mencari solusinya, minimal kita ssadar dan mampu menganalisis apa yang terjadi.Yudha dari Purwokerto bercerita tentang pengalamannya menjual beras hasil dari sawahnya sendiri. Yudha kesulitan menjual beras agar bisa sesuai dengan biaya produksi yang ada. Rifangi menambahkan bahwa hidup bertani itu sangat indah, jauh lebih indah daripada menjadi pekerja di pabrik bulu mata di Purbalingga.

Arif dari Purwokerto, membagi pengalamannya bekerja disalah satu supermarket terbesar di Purwokerto. Dalam sistem pemasaran supermarket tersebut memang sudah didesain sedemikian rupa agar kita sebisa mungkin membeli barang-barang mereka meskipun sebenarnya tidak kita butuhkan. Konspirasi Pemasaran ini mulai dari penempatan iklan baliho di sudut-sudut kota yang strategis hingga penempatan barang pada etalase supermarket. Ini sebuah upaya menggiring kita menuju ke konsumerisme pada produk-produk industrialisasi.

Rizky menyambung bahwa solusi atas permasalahan yang terjadi mungkin bentuknya tidak selalu benda konkrit yang berbentuk dan mampu dilihat oleh kasat mata, tapi bisa jadi dalam bentuk nilai dan prinsip hidup.

Para sedulur yang hadir memungkasi acara dengan bersholawat “Ya Nabi Salam Alaika” bersama-sama dipandu oleh Rifangi. Diakhiri dengan para sedulur saling bersalaman melingkar. [] Hilmy/RedJS

Mukadimah: MEMULAI PUTUS ASA

Dalam satu dekade terakhir, obat herbal tradisional tumbuh subur. Jamu yang biasanya hanya ditumbuk didesa, kini sudah dipabrikasi, terjual laris hingga ke mancanegara. Tumbuh suburnya obat herbal non-kimia bisa terjadi karena orang putus asa dengan obat-obat modern berbahan kimia. Yang menjanjikan kesembuhan di satu sisi, tapi menjadi ancaman tersendiri bagi ginjal.

Di bidang lain, sistem ekonomi tanggung renteng yang ber-ruh gotong royong juga sudah lahir kembali. Sistem yang lebih win-win solution ini lahir setelah orang putus asa dengan sistem dan lembaga keuangan kapitalistik yang menguntungkan satu golongan tapi menghisap habis golongan lain.

Hadirnya tradisi obat herbal di era modern, kembalinya spirit  gotong royong dalam berbagai aplikasi sistem ekonomi tanggung renteng di tengah zaman yang sangat individualistik tidak lain merupakan produk-produk kongkrit dari orang-orang putus asa. Putus asa dari cara hidup yang didikte dan disuapi habis-habisan oleh entah siapa ini.

Lalu sudahkah kita melahirkan sebuah produk kongkrit? Kalau belum ada produk kongkrit yang kita hasilkan, jangan-jangan karena kita belum mencoba-coba untuk putus asa. Belum putus asa melihat sebegitu seringnya pengajian yang hanya deklamasi, sekolah yang hanya komoditasi dan pembangunan yang ternyata cuma eksploitasi.

Di ujung batas keputusasaan, ide brillian seseorang bisa terdorong keluar, kekuatan tersembunyi seseorang bisa mendadak muncul,lucky factor bisa mencuat, pertolongan ajaib bisa datang. Kecuali memang kita belum benar-benar yakin bahwa cara hidup yang didikte dan disuapi entah siapa kepada kita ini adalah jalan buntu. Jika begitu, tak ada salahnya untuk kita timbang dan ukur lagi potensi kemungkinan kemajuan dan hadirnya solusi dari cara hidupmainstream kita itu, barangkali memang kita belum harus putus asa. [] RedJS

Meneguhkan Mabdâ Maiyah, Merumuskan Keteraniayaan

(Panduan Maiyah 17 Juli 2014)

Semakin Canggihnya Bentuk Penjajahan
Panduan ini berlaku universal sekaligus kontekstual melalui terapan pola komprehensi berpikir Maiyah, tanpa tergantung bagaimana keadaan yang yang segera akan berlangsung, juga tidak berubah oleh siapapun yang berkuasa dan tidak berkuasa.

Setelah berempati, mengamati, mengalami, menyelami dan merenungi tahap-tahap proses Pileg dan Pilpres NKRI 2014, Masyarakat Maiyah dengan kecerdasan akal, kepekaan batin dan kewaskitaan membedakan antara yang tersurat dengan yang tersirat — telah memperoleh pembelajaran sejarah yang sangat besar, sehingga Masyarakat Maiyah semakin memahami dan mengerti:

  1. Semakin transparan dan semakin canggihnya bentuk-bentuk penjajahan baru, yang ujung tombaknya adalah penjajahan informasi, dengan hulu ledak rekayasa penguasaan atas Negara dan Bangsa, yang mesiunya adalah manipulasi, tipudaya dan dis-informasi, dan yang sasaran ledaknya adalah pembodohan absolut dan keterjajahan total.
  2. Semakin kasat-matanya ancaman-ancaman global dan nasional, yang menjaring masyarakat untuk disandera oleh sihir kata-kata, gambar, warna dan bunyi, ditelan oleh egosentrisme dan kesepihakan, dipenjara oleh ketidakmengertian yang akhirnya dikonsumsi dan diyakini sebagai kebenaran, serta dikungkung oleh fakta aktual firaunisme di dalam setiap diri, yang mewujud oleh akumulasi kebohongan dan kepalsuan.
  3. Fakta-fakta politik yang menunjukkan betapa kekuatan-kekuatan besar global, yang mempekerjakan kekuatan-kekuatan nasional, semakin keras berusaha tidak membiarkan NKRI benar-benar merdeka dalam arti yang sebenarnya, termasuk kenyataan independen atau tidaknya pelaksanaan pergantian kekuasaan.

Peta dan Tekstur Kejahatan atas Bangsa
Besertaan dengan itu, khusus yang berkaitan dengan persoalan kebangsaan, Masyarakat Maiyah juga mendapatkan bahan-bahan pembelajaran yang melimpah untuk meneruskan dan mematangkan proses pemikirannya tentang Bangsa dan Negara.

  1. Bagaimana semestinya Negara dan bagaimana seharusnya Pemerintah. Termasuk kewaspadaan untuk tidak menyangka Perusahaan sebagai Negara, Penjajahan sebagai Demokrasi, Eksploitasi sebagai Kemajuan, atau Tipudaya Neo-kolonialisme sebagai Pemilu.
  2. Kekuatan dan kelemahan Demokrasi, terutama proporsinya: di mana, dalam bidang dan konteks apa ia baik untuk diterapkan, juga bagaimana menentukan batas kemerdekaan dan kemerdekaannya.
  3. Manfaat dan mudlaratnya media informasi, mulia dan jahatnya berita-berita, termasuk bagaimana seharusnya hubungan timbal balik antara Negara dan Institusi Media, terutama kewajiban dan haknya.
  4. Betapa bangsa ini, bahkan kaum intelektualnya, sangat tidak memiliki pertahanan terhadap arus dusta sejarah yang melindasnya, terhadap praktek-praktek sangat terang benderang menyebarkan kebohongan dan pemalsuan.
  5. Kenyataan-kenyataan sangat transparan tentang eksploitasi dan manipulasi atas nilai-nilai, logika, Agama, bahkan Tuhan, untuk mencapai kepentingan yang sangat rendah derajatnya.
  6. Degradasi atau kemerosotan yang luar biasa hampir di segala bidang aktivitas manusia, masyarakat, bangsa dan Negara. Kemerosotan nilai, moral, mental, organisasi sosial, bahkan mungkin saja sesungguhnya sedang terjadi kemusnahan spiritual.

Semakin Melimpah dan Panjang Rizki Perjuangan
Semua itu memperjelas bahwa Allah swt menganugerahkan kepada Masyarakat Maiyah rizki yang berupa peluang dan medan perjuangan, yang semakin melimpah tantangannya serta semakin panjang waktunya.

  1. Bahwa urgensi untuk merombak prinsip ketatanegaraan, konstitusi, hukum dan aturan-aturan, dari tingkat dasar filosofi hingga aplikasi-aplikasi pragmatiknya – semakin jauh dari harapan untuk dirintis pelaksanaannya.
  2. Bahwa seluruh peristiwa dan dinamika pergantian kekuasaan yang gegap gempita itu para pelakunya, termasuk kadar pengetahuan dan kemampuan para calon penguasanya: jauh dari memenuhi syarat untuk akan mampu mengatasi komplikasi masalah-masalah kenegaraan dan kebangsaan yang Masyarakat Maiyah sudah lama secara bertahap merumuskannya.
  3. Dengan demikian apabila Masyarakat Maiyah masih terpenjara dan mandeg pemikirannya di dalam kurungan kecil yang memenuhi kepalanya dengan pertanyaan “A atau B kah yang berkuasa”, maka ia bersabar untuk membaca kembali kitab alam nilai Maiyah dari lembaran pertama.
  4. Masyarakat Maiyah semakin dikepung oleh kenyataan-kenyataan yang makruh dan yang haram, yang masyarakat umum dan mayoritas bangsa melihat intervalnya justru antara wajib dengan haram, dengan sebagian mewajibkan yang haram dan mengharamkan yang makruh, sementara sebagian lain mewajibkan yang makruh dan mungkin memakruhkan yang haram.
  5. Sehingga diperlukan ilmu dan energi untuk bersegera menentukan maqam dan sikapnya: seberapa besar energi harus disiapkan untuk situasi makruh yang penuh ujian, atau seberapa besar harus disiagakan untuk kenyataan haram yang penuh kebingungan, jebakan dan penderitaan batin.
  6. Bahkan Masyarakat Maiyah perlu menyiagakan diri untuk hadirnya situasi-situasi brubuh yang dalam ghirrah perjuangan sangat menggairahkan, namun secara batin sangat memberi cekaman, tikaman dan kesengsaraan, bahkan secara fisikpun tidak ringan untuk ditanggung.

Tahlukah dan Mabdâ Maiyah
Masyarakat Maiyah dianjurkan untuk semaksimal mungkin melakukan beberapa hal mendasar:

  1. Melaksanakan lebih lanjut Wirid Tahlukah secara bertahap atau sekaligus, secara sendiri atau bersama, tetapi dilandasi dengan pemaknaan baru, penglihatan dan kesadaran yang lebih meluas dan mendalam, serta dengan dambaan dan pengharapan yang lebih tepat dan terukur kepada Allah swt.
  2. Memenuhi diri dengan rasa syukur tak terhingga kepada Allah swt atas anugerah-Nya kepada seluruh Masyarakat Maiyah berupa kecerdasan yang jernih, kearifan yang dewasa, kesabaran yang tepat sasaran, serta tenaga batin yang luar biasa besar untuk tetap bertahan menyayangi dan mengayomi bangsa Indonesia.
  3. Masyarakat Maiyah, setelah sekian lama belajar kepada Allah dan Rasulullah seharusnya sudah memiliki kecerdasan sosial untuk menyadari kemurahan Allah dengan anugerah alam Indonesia, dan karena itu mensyukuri dan mengapresiasi dengan tidak membiarkannya dieksploitasi dan dieksplorasi oleh pasukan-pasukan Dajjal MataSatu, pada saat yang sama juga menyadari bahwa membiarkan semua itu terjadi adalah termasuk menganiaya diri sendiri.
  4. Masyarakat Maiyah, setelah ditempa oleh berbagai pengalaman dari peristiwa-peristiwa sejarah, baik oleh Rencana Allah sendiri maupun oleh rekayasa pasukan dajjal matasatu, seharusnya sudah memiliki kesadaran politik untuk tidak mudah dibohongi dan dipecundangi oleh anak-anak bangsa sendiri yang, karena hati mereka telah dbutakan oleh Allah maka perbuatan mereka yang sia-sia dan merusak dianggapnya baik (al-akhsariina a’maala ~al-kahf).
  5. Masyarakat Maiyah melalui ‘i’tikaf’ maiyah, do’a-do’a tahlukah, wirid, shalawatan dll ritual Maiyah kiranya Allah swt dan Rasulullah saw menegaskan petunjuk-Nya kepada seluruh Masyarakat Maiyah agar melakikan antisipasi dan identifikiasi tanda-tanda zaman dimana Allah mengisyaratkan untuk segera menerima amanah dari Allah menjaga dan memelihara bumi Allah sokoguru khatulistiwa.
  6. Masyarakat Maiyah meneguhkan kembali Mabdâ Maiyah, prinsip nilai Maiyah, hulu keberangkatan Maiyah, perspektif peletakan diri Maiyah, serta posisi dan sikap Maiyah, di tengah beragam konteks, tema kenyataan dan peta komplikasi masalah bangsa dan masyarakat Indonesia. Yakni :
  7. Masyarakat Maiyah menyusun dan meningkat pertahanan pribadi dan bersama dari kontaminasi yang bersumber dari arus besar dusta politik, kebohongan informasi, manipulasi fakta, kejahatan nasional-maksimal yang lahir dari nafsu berkuasa, kelicikan komunikasi, pemutar-balikan makna, eksploitasi Tuhan, Nabi dan Agama, yang seluruhnya sudah dan sedang berlangsung secara sangat ekstrem dan total. Jika kadar kejernihan dan independensi berpikir Masyarakat Maiyah lebih kecil atau lemah dibanding kadar kontaminasi dan kete-racun-annya, maka Maiyah telah tergeser ke wilayah mudlarat, dan justru menjadi manfaat kalau dibekukan, dihentikan, untuk sementara waktu atau selama-lamanya.
  8. Kalau ternyata anti-toxin Maiyah atas kondisi bangsa yang diayominya malah menjadi racun bagi Masyarakat Maiyah, maka pembekuan Maiyah menjadi keharusan. Apalagi jika Masyarakat Maiyah menjadi lupa dan kehilangan kesadaran terhadap posisi dan ‘nasib’ mereka sendiri sebagai kaum ghuraba di tengah mainstream sejarah yang kini sedang menyelenggarakan peralihan kekuasaan itu.
  9. Pesan minimal saya adalah Masyarakat Maiyah menyiapkan sebagian besar tenaga batinnya untuk mengalami kekecewaaan demi kekecewaannya atas kondisi apapun sesudah peralihan kekuasaan bangsa yang diayominya itu. Pesan maksimal saya adalah penumbuhan kesadaran bahwa mainstream atau arus utama sejarah bangsa yang disayangi dan diayominya itu sebagian besar meremehkan fakta Masyarakat Maiyah, menganggapnya tidak ada, tidak pernah sungguh-sungguh perduli terhadap apa yang dilakukannya, disepelekan dan direndahkan oleh media-media arus besar itu, sebagian kecil hanya menikmatinya secara konsumtif namun tidak mengimbanginya secara rasional tatkala mereka berpikir kebangsaan dan kepemimpinan.
  10. Karena di tengah totalitas manusia menempuh perjalanan abadi menuju akhirat, Allah menganjurkan agar manusia tidak melupakan “nasibnya di dunia”, maka secara pribadi saya sendiri sedang pelan-pelan menghitung, mengidentifikasi, mengkronologi, menyusun dan merumuskan keteraniayaan dan ketertindasan sejarah saya pribadi di tengah bangsa yang saya cintai dan di dalam kekuasaan arus besar pelaku-pelaku sejarah “Dajjal Mata Satu” yang sangat mengutamakan kecurangan, ketidakadilan, kelicikan, pembunuhan eksistensial dan pemusnahan historis yang sangat tertata rapi formula dan strateginya. Hal itu saya lakukan, sampai saat ini, tanpa menuntut Masyarakat Maiyah untuk berempati atau membela saya dari era demi era penganiayaan atas diri saya. Masih terus akan saya biarkan Masyarakat Maiyah tidak memperdulikan sejarah keteraniayaan saya, sampai nanti akan tiba suatu momentum dengan takaran nilainya, di mana konteks ‘shadaqah’ saya itu berubah menjadi “penganiayaan saya atas diri saya sendiri”.
  11. Akan tetapi di dalam diri saya tidak mungkin saya izinkan Masyarakat Maiyah tidak menghitung nasibnya sendiri, mengkalkulasi ketertindasannya oleh arus besar yang menguasai bangsa yang Masyarakat Maiyah mengayominya, dengan berbagai metodologi dan cara pandang, sudut pandang, sisi pandang maupun jarak pandang. Dan kalau pesan ini kemudian tidak melahirkan penyadaran, upaya formulasi dan langkah-langkah aplikasi yang memadai pada perjalanan Masyarakat Maiyah, maka kenyataan itu akan memberi hak kepada saya untuk secara bertahap mengalihkan konsentrasi saya pada perjuangan Maiyah saya secara pribadi.
  12. Setelah seluruh gegap gempita Juli-Oktober 2014, Masyarakat Maiyah sebaiknya merenungi, mencari, kemudian menemukan perubahan-perubahan berbagai kadar dan tingkat yang harus dilaksanakannya dalam skala pribadi, kebersamaan Maiyah maupun kemasyarakatan, kebangsaan dan kemanusiaan. Masyarakat Maiyah berhutang kepada Allah swt dan Rasulullah Muhammad saw untuk lebih bersegera mereformulasikan dirinya dan menata kembali kematangan dan kedewasaan langkah-langkah perjuangannya.

Ahmad Fuad Effendy
Nursamad Kamba
Muhammad Ainun Nadjib
Kadipiro 17 Juli 2014

Workshop Keorganisasian Penggiat Maiyah Juguran Syafaat

Workshop Keorganisasian bagi penggiat Maiyah ini merupakan rangkaian tidak terpisah dari kegiatan Silaturahmi Penggiat Maiyah yang berlangsung tanggal 5-7 Desember 2014 yang lalu di Baturraden. Toto Raharjo hadir langsung menggawangi workshop ini dengan didampingi oleh Harianto. Acara berlangsung pada 7-10 Januari 2015 di Padamara, Purbalingga.

Refleksi dari Silaturahmi Penggiat Maiyah lalu diantaranya adalah bahwa ketika kita hendak berbicara mengenai keorganisasian Maiyah adalah bahwa kita harus terlebih dahulu menemukan karakteristik otentik dari organisasi Maiyah itu sendiri. Seperti kita tahu bahwa organisasi Maiyah memiliki perbedaan karakter dengan organisasi mainstream yang ada saat ini. Perbedaan itu terlihat diantaranya bila pada organisasi mainstream, pendatang baru diharuskan beradaptasi dengan kebiasaan dan culture yang ada di organisasi tersebut, sementara di maiyah yang bentuk organisasinya begitu cair, pendatang baru mau tidak mau harus membangun kebiasaan dan culture-nya sendiri.

Hal ini berlaku bukan hanya bagi para pendatang baru, akan tetapi juga berlaku bagi para penggiat organisasi yang sudah kadung lama berada di dalam organisasi Maiyah tetapi hanya pasif pada proses pencarian dan pembangunan kebiasaan dan culture-Nya. PR para penggiat untuk menemukan karakteristik organisasi Maiyah menjadi oleh-oleh tiap-tiap simpul untuk dikerjakan bersama-sama. Menariknya dari perhelatan Silaturahmi Penggiat Maiyah yang lalu adalah tiap-tiap simpul Maiyah harus merumuskan sendiri PR-nya.

Juguran Syafaat sendiri memilih merumuskan PR-nya dalam dua pekerjaan aksi: 1) Pendalaman ilmu, 2) Kesetiaan tauhid dalam jangka waktu yang tidak pendek. Dua hal tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari Mabda Maiyah. Secara operasional pendalam ilmu dilakukan dengan menemukan metodologi atau alat yang dapat digunakan untuk mendefinisikan karakteristik organisasi Maiyah itu sendiri. Sedangkan kesetiaan tauhid dilakukan dengan meneruskan dan mengistiqomahi upaya untuk melakukan tafsir kontekstual atas setiap konsep dan gagasan yang disampaikan oleh beliau Cak Nun, Mursyidnya Maiyah.

Untuk keperluan PR No. 1 tersebut, secara khusus Toto Raharjo, SIFAT Maiyah, menyediakan diri untuk memberikan pembekalan kepada para penggiat Juguran Syafaat. Tentu hal ini menjadi kesempatan besar bagi penggiat Juguran Syafaat untuk menemukan otentisitas Maiyah, serta membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan besar yang terlontar dalam berbagai diskusi penggiat antar simpul, diantaranya : 1) Apa bedanya bagi dirimu ada Maiyah dan tidak, 2) Apa yang Maiyah tuntut kepadamu, 3) Kalau keorganisasian sudah terdefinisikan, lalu untuk apa?

Dalam proses workshop yang diikuti lebih kurang oleh 15 penggiat Juguran Syafaat ini, setidaknya ada tiga pointer inti yang dapat dicatat.

Pertama : Daur Belajar yang dinamis dalam bermaiyah

Penggiat mempelajari tentang alat intervensi sosial untuk mengangkat suatu persoalan, menstrukturkannya, kemudian memobilisasi persoalan tersebut hingga pada posisi persoalan itu mampu diselesaikan bersama. Ini merupakan paket lengkap dari penyusunan konsep perencanaan riset hingga detail yang paling teknis adalah mengenai perencaan media. Yang menarik adalah, kegiatan riset ini dirancang untuk bisa dikerjakan sebagai bagian dari laku kehidupan sehari-hari, TIDAK bermindset proyek temporal dan terpisah jauh dari kasunyatan.

Kedua : Identifikasi embrio perangkat adat Maiyah

Berangkat dari refleksi satu suku adat di pedalaman Indonesia Timur, Penggiat mempelajari perangkat sebuah sistem adat. Sistem adat merupakan sebuah padatan di atas kesepakatan di dalam sebuah komunitas. Sementara Maiyah yang masih dalam proses menuju padatan ini, sudah dapat mulai mengidentifikasi embrio-embrio dari perangkat adat Maiyah sendiri.

Lebih lanjut embrio perangkat adat tersebut kemudian dikategorisasi, mana yang merupakan kategori nilai, mana prinsip dan mana tindakan. Kategori nilai dan prinsip dapat di-copy-paste dari suku adat yang ada yang sudah membuktikan kekuatan otentisitasnya dari gerusan zaman, sementara kategori tindakan haruslah dirumuskan sendiri. Diantara kesemua itu, mana yang toto (tatanan nilai dan prinsip) dan mana yang coro (cara bertindak) akan rancu kalau terbolak-balik.

Ketiga : Mewaspadai perilaku penjinakan yang dilakukan oleh maistream

Kebutuhan kita untuk menjadi anti-mainstream memiliki alasan karena mainstream memiliki kepentingan yang amat kuat untuk menjinakkan manusia sebagaimana sekolah gajah menjinakkan gajah. Penggiat dibuat sadar dan paham akan pentingnya merumuskan sendiri segala konsep mulai dari konsep pendidikan, konsep ceramah, konsep gaya hidup. Fenomena mainstream menjadi ladang riset yang luas untuk menemukan setiap kepentingan dibalik yang mainstream tanamkan.

Ketiga pointer tersebut bermanfaat untuk menterjemahkan empat butir rekomendasi Silaturahmi Penggiat Maiyah dari bahasa kesepakatan menjadi bahasa operasional. Bentuk kontekstualisasi dari empat butir rekomendasi tersebut adalah:

  1. Penggiat adalah pelaku daur belajar atas permasalahan yang dialaminya sendiri dimana masalah itu berhubungan dengan permasalahan simpul Maiyah atau permasalahan lingkungan terdekatnya
  2. Simpul Maiyah menyempurnakan embrio perangkat adatnya menjadi perangkat pembentuk adat yang lengkap dan kokoh.
  3. Antar simpul Maiyah menjadi narasumber satu sama lain.
  4. Wilayah kerja penggiat Maiyah adalah pada pembangunan kekuatan komunitas, sebagai benteng terakhir dari pendudukan globalisasi.

Workshop ini memiliki arti penting pada tahapan menuju padatan Maiyah, dengan tetap menjaga Maiyah tidak terjebak pada dualitas mainstream: menjadi organisasi yang tergadai nilai-nilainya atau menjadi organisasi sufistik yang terpisah dari akar masyarakatnya.

Workshop ini menjadi penting artinya bagi seluruh rangkaian agenda pelayanan yang menjadi salah satu butir utama pada Piagam Penggiat Maiyah yang dirumuskan di Baturraden. Mengapa? Karena berangkat dari workshop ini, para penggiat menemukan cara pandang baru terhadap persoalan masyarakat, serta memperoleh bekal metode dan perangkat utama sebagai panduan menentukan arah, dan memulai langkah awal pelayanan yang otentik dan konkrit. Otentik dan konkrit artinya langkah awal ini dimulai dari kegelisahan terhadap kondisi masyarakat sekitar yang secara nyata dihadapi sehari-hari dan dialami oleh penggiat baik secara langsung maupun tidak langsung.

Langkah awal, menjadi tahap yang paling menentukan bagi keberlanjutan pelayanan. Melalui metode dan perangkat yang diperoleh dari workshop ini, penggiat mampu merumuskan langkah awal tersebut. Sekaligus menjadi media sinergi antar simpul Maiyah dan sebagai media pembelajaran bersama. [] RedJS

Sumber : https://www.caknun.com/2015/workshop-keorganisasian-penggiat-maiyah-juguran-syafaat/