Menyalahgunakan Nama Cak Nun untuk Akun Media Sosial Tidaklah Bertanggungjawab

Beberapa hari lalu, Progress dan Redaktur Maiyah ngobrol bersama Cak Nun seputar media sosial, sehubungan dengan adanya nama Cak Nun atau Emha Ainun Nadjib yang banyak dipakai sebagai nama akun oleh orang lain, baik di Facebook, Twitter, Youtube, dll.

Tentu sangat menyedihkan bahwa orang menggunakan atau mengatasnamakan nama Cak Nun untuk akunnya sendiri. Yang lebih menyedihkan lagi adalah kalau hal itu dilakukan oleh Jamaah Maiyah. Mengapa mereka tidak memakai namanya sendiri, sedangkan menggunakan nama anak kita saja, misalnya, itu sama sekali tidak bertanggungjawab.

Selain digunakannya nama Cak Nun untuk akun secara tidak bertanggung jawab itu, kita juga menemukan tayangan-tayangan khususnya di Youtube yang memuat potongan-potongan kalimat Cak Nun yang sebagai akibatnya dapat menimbulkan bias dan lepas konteks, misalnya potongan yang dihadirkan untuk mengadudomba atau memversuskan pendapat Cak Nun dengan pendapat orang lain.

Maka saat ini hentikan dan belajarlah berdaulat untuk dirimu sendiri.

(Toto Rahardjo/Dewan Redaksi CakNun.com/Progress)


Dibawah ini beberapa contoh akun yang mengatasnamakan Emha Ainun Nadjib/Cak Nun.

Akun Palsu Facebook


Akun Palsu Twitter

Akun Palsu Youtube

Sumber : https://www.caknun.com/2015/menyalahgunakan-nama-cak-nun-untuk-akun-media-sosial-tidaklah-bertanggungjawab/

Rancu Sejak dari Kata-Kata

Hari demi hari bangsa kita terus menghadapi kerancuan demi kerancuan. Seperti benang kusut yang sungguh putus asa untuk dibuat kembali terurai. Kerancuan yang berlapis-lapis, mulai dari kerancuan harga-harga, kerancuan kebijakan-kebijakan dan tanpa sadar, kita sebenarnya sudah rancu mulai dari hal yang paling dasar, kerancuan kita dalam memahami kata-kata dan istilah-istilah.

Orang Barat kagum kepada Indonesia, diantaranya karena mereka menyaksikan, bahkan seorang tukang becak yang notabenenya adalah kaum marginal dalam hidupnya ia mempunyai falsafah, “Sejatine, urip kuwi mung mampir wedangan”. Walau pada kenyataannya, sebagian kita yang merasa memiliki kasta di atas tukang becak juga tidak memiliki falsafah hidup seluhur itu. Falsafah luhur yang membuat ia setia mengayuh becak, tanpa dibebani depresi mental akibat tekanan sosial.

Jangankan memiliki falsafah hidup, bahkan membedakan antara mana falsafah, mana semboyan dan mana afirmasi saja sepertinya masih rancu. Kerancuan kita memahami istilah inilah bisa jadi yang menjadi pangkal dari segala kerancuan yang terjadi di bangsa ini secara berlapis-lapis hari ini.

Ada falsafah, ada prinsip, ada metode, ada semboyan atau moto, ada visi, ada misi, ada afirmasi dan lain sebagainya. Ketidakpekaan kita terhadap kata dan istilah membuat kita hanya mengenalinya sebagai pepatah, atau kata bijak atau kata mutiara.

Falsafah adalah sikap batin yang mendasar, ia berfungsi sebagai the deep of lifemap. Falsafah yang benar akan membuat cara kita memandang sesuatu menjadi lebih presisi. Orang yang mempunyai falsafah atau sikap batin yang menjadi dasar terhadap hidup adalah sebagai “mampir wedangan”, tentu akan beda improvisasi sikap hidupnya dengan orang yang memiliki sikap batin yang menjadi dasar bahwa hidup adalah ngobyek. Falsafah ngobyek namanya.

Pilihan sikapnya akan berbeda, kuda-kuda daya tahan hidupnya berbeda. Prinsip yang dipegang akan berbeda, metode yang ditempuh berbeda, visi yang dituju berbeda, slogan yang dibuat juga akan berbeda. Maka tidak ada salahnya kalau kita cek lagi apa falsafah hidup kita.

Kalau falsafah adalah sikap batin yang mendasar. Maka jangan keliru memilih sekedar pepatah untuk dijadikan falsafah. Ada pepatah “Mikul dhuwur, mendhem jero”, itu adalah jenis prinsip. Ada “Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”, itu adalah jenis metode. Ada “Sakinah, mawadah, warrohmah”, itu adalah visi. Ada “Bhineka tunggal ika”, itu adalah motto atau semboyan. Ada pula “Kegagalan adalah sukses yang tertunda”, itu adalah jenis afirmasi. Satu persatu kita urai kerancuan kita dalam memahami kata-kata, satu persatu kita tempatkan yang empan papan sehingga mereka menjadi memiliki fungsi dalam hidup kita.

Kalau falsafah hidup sudah diidentifikasi, selanjutnya kita cek dan temukan falsafah kita dalam berbangsa. Sudah benarkah sikap batin kita dalam memutuskan untuk hidup bersama menjadi sebuah bangsa? Kalau “Bhineka tunggal ika” adalah semboyan, lalu “Bela negara” adalah metode untuk mengerjakan misi dan mencapai visi “Membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”, lalu apakah falsafah kita dalam berbangsa?

Mari kita cek lagi sikap batin kita memandang keberbangsaan kita. Apakah bangsa hanyalah sekedar ampiran atau persinggahan? Ataukah bangsa adalah tempat berlindung dari ancaman bangsa lain? Atau bangsa adalah tempat membangun kekayaan mengungguli bangsa lain? Ataukah bangsa adalah tempat memperkaya segelintir orang dan memiskinkan sebagian besar lainnya?

Bangsa ini sejatinya adalah rumah tempat bernaung, atau sejatinya bangsa ini adalah perusahaan pemburu pendapatan? Mentang-mentang agenda dunia saat ini adalah urusan pasar, yakni pasar bebas lalu apakah serta merta kita memandang bangsa adalah lapak usaha? Sehinga falsafah salah kaprah kita adalah: Sejatinya membangun bangsa adalah membangun perusahaan.

Demi efisiensi perusahaan, subsidi untuk cabang produksi strategis yang signifikan bagi hajat hidup orang banyak harus dikurangi bahkan dicabut. Demi optimalisasi pendapatan perusahaan, tambang emas harus dinasionalisasi. Demi mengurangi kebocoran kas perusahaan, komisi pengembalian uang kas harus digenjot. Bukan semua itu jelek, tapi menjadi tidak tepat ketika sikap batin kita rancu. Akhirnya kita tidak bergerak kemana-mana.

Apa jadinya kalau kita tinggal bernaung di sebuah rumah, tapi kita abai dengan kondisi rumah karena disibukkan oleh papan nama usaha yang terpampang didepan rumah. Urusannya cuma laba, omset dan peluang. Lupa kalau rumah juga harus dijaga tatanannya dan terus dirawat. Itulah gambaran orang yang salah menaruh sikap batin sebagai dasar memandang kehidupan keberbangsaannya, salah memegang falsafah dalam berbangsa.[] Rizky Dwi Rahmawan

HAKEKAT PENDIDIKAN

Secara bahasa, sejarah berasal dari kata ‘sajaroh’ yang berarti ‘pohon’. Istilah sejarah selama ini dimaknai secara umum hanya sebatas informasi tentang fakta masa silam. Padahal jika sejarah diartikan pohon, masa silam itu baru mewakili bagian ‘akar’. Sementara pohon sendiri terdiri dari akar, batang, dahan, daun dan buah. Komposisi ke-semuanya itulah disebut ‘sajaroh’. Dengan demikian, sejarah atau sajaroh merupakan formula anatomi tentang kehidupan yang terdiri dari akar masa silam, batang masa kini serta dahan/daun/buah masa depan. Masa kini yang terpenggal dari masa silam tidak akan pernah menghasilkan daun dan buah masa depan, karena batang pohon telah tidak memiliki ketersambungan dengan akar masa silam.

Sebagai sebuah pohon, kebudayaan kita hari ini telah berdiri tidak di atas ketersambungan akar masa silam. Batang pohon peradaban bangsa kita sama sekali bukan lahir dari perspektif otentik dan filosofi orisinal ‘akar’ nilai leluhur sendiri. Maka yang terjadi adalah kerusakan anatomi ‘sajaroh’ yang berimplikasi pada kebimbangan mengelola masa kini sehingga kehilangan presisi dalam memproduk langkah-langkah masa depan .Hampir di setiap ranah dan segmentasi kebudayaan kita menjadi rancu dan distortif. Peradaban yang dikonstruksi dengan landasan nilai yang diproduksi oleh ‘dismanagemen sejarah’ akan membuat umat manusia kehilangan kiblat orientasinya. Indikator ketersesatan kebudayaan manusia modern adalah terjadinya proses sekulerisasi kehidupan. Salah satu out-put dari sekulerisme kebudayaan modern adalah kerancuan dunia pendidikan yang sedang bersama-sama kita selenggarakan.

Tujuan Pendidikan

Dalam islam dikenal tarbiyah. Merupakan bentuk masdar dari kata robba-yurabbi-tarbiyyatan, yang artinya pendidikan. Menurut istilah, tarbiyah adalah suatu tindakan mengasuh dan memelihara serta mendidik. Peran kepengasuhan sesungguhnya merupakan tugas primer yang diamanatkan kepada orang tua atas anak-anaknya. Setiap anak tidak memiliki otoritas untuk memilih dilahirkan dari orang tua siapa. Kedatanganya ke muka bumi melalui mekanisme biologis bernama kelahiran, merupakan hak mutlak Tuhan dalam memilihkan pihak yang menjadi orang tuanya. Dalam konteks ‘tarbiyah’, ketetapan seperti ini mengandung makna bahwa, setiap orang tua adalah ‘guru’ paling tepat bagi kebutuhan ‘kepengasuhan’ anak-anaknya. Siapapun dan bagaimanapun keadaan orang tua kita, mereka adalah pihak yang dipilih oleh Tuhan untuk menjadi ‘pengasuh’ terbaik kita. Setidaknya, tarbiyah di tahap paling awal.

Setiap anak yang lahir adalah manusia baru dengan perjanjiannya masing-masing. Orang tua hanya medium bagi kehadiran ‘manusia baru’ itu di muka bumi. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa, janin di kandungan akan ditiupkan ‘ruh’ di bulan ke empat dengan empat perjanjian otentik mengenai nasib, ajal, amal dan rejeki. Perjanjian otentik itu secara umum adalah sebentuk peran khusus kekholifahan yang sudah ditetapkan sejak sebelum ‘manusia baru’ itu dihadirkan ke dunia. Kemudian di surat An Naml ayat 78 disebutkan, ‘Dan Allah mengeluarkan dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, serta hati agar kamu bersyukur’. Artinya setiap anak atau manusia baru yang lahir itu ‘lupa’ dengan perjanjian otentiknya, sehingga ia harus ‘diingatkan’ kembali tentang siapa dirinya supaya mengerti jenis tugas ke-khalifahanya. Proses mengingatkan kembali itulah dinamakan ‘tarbiyah’. Maka Nabi mengatakan, ‘Man arofa nafsahu faqod arofa rabbahu’, disitu yang dipakai kata rabbahu bukan illahu. Kalau yang dipergunakan adalah kata rabbahu berarti parallel dengan tarbiyah. Jadi tarbiyah, menurut hadist tersebut aksentuasinya adalah ‘pengenalan diri’.

Yang dimaksud dengan pengenalan diri tentu bukan pengetahuan tentang siapa namanya, dimana alamat rumah dan tempat kerjanya. Pengenalan diri sama sekali tidak terutama terkait dengan segala ornament social-budayanya, tetapi pengetahuan mengenai diri esensialnya, jati diri atau diri sejatinya. Lalu bagaimana seharusnya orang tua atau institusi pendidikan menjalankan peran tarbiyahnya?. Karena yang tahu ‘perjanjian otentik’ setiap anak dengan Tuhannya hanya Tuhan sendiri, sementara tidak satu orangpun di dunia ini yang diberi hak untuk ‘mengintip’ catatan rahasia itu, maka kewajiaban orang tua dan sekolah hanya bagaimana menciptakan situasi kondusif bagi setiap anak untuk tumbuh dengan dinamika dan kecenderungan personalitasnya. Bukan malah memenjarakan anak atau manusia baru itu dalam kerangkeng system pendidikan yang mengeneralisir setiap kecenderungan anak dengan kurikulum seragam.

Jika manusia telah mengenali dirinya sendiri, maka ia akan menemukan potensi otentik yang dipinjami Tuhan untuk menjalankan fungsi dan peran ke-khalifahan sesuai dengan perjanjian otentiknya. Tugas orang tua atau sekolah selanjutnya adalah menyediakan ‘ruang tumbuh’ bagi potensi otentik setiap anak untuk berkembang dan menyempurna. Apabila orang tua atau sekolah gagal mengawal dalam proses tarbiyah, maka dampaknya bagi anak adalah ia akan menjadi manusia yang tidak mengerti modal otentiknya dan tidak tahu orientasi hidupnya. Ibarat seseorang yang sesungguhnya dibekali alat berupa Sabit ketika ditugasi kerja bakti di perkebunan, tetapi karena tidak pernah mengenal fungsi Sabit, maka ia akan menggunakan Sabit untuk memotong kayu hanya karena kebanyakan orang yang dilihatnya sedang memotong kayu, padahal orang-orang yang sedang memotong kayu memang mereka membawa alat gergaji. Dan inilah fenomena yang lazim terjadi, pilihan fakultas hanya dimotivasi oleh kecenderungan trend dan peluang ekonomi. Yang lebih aneh lagi adalah orang tua dan sekolah menyelenggarakan jenis ‘ketersesatan’ seperti ini.

Pemantul Hidayah dari Tuhan

Ada semacam proses reduksi dalam kebudayaan modern yang merupakan implikasi dari fenomena sekulerisme. Ilmu adalah hidayah dari Allah SWT. Dan hak prerogratif Allah untuk memberi hidayah. Selama ini yang dimaksud hidayah hanya berlaku dan diterapkan di ranah agama formal, misalnya pada kejadian-kejadian yang menyangkut perilaku moral keagamaan. Ketika ada orang dari gemar berjudi tiba-tiba berubah menjadi rajin sholat, seketika masyarakat akan dengan mudah memaknainya sebagai peristiwa hidayah. Tetapi ketika ada anak dari belum paham 4+4 = 8 kemudian menjadi mengerti setelah belajar matematika, jarang orang menafsiri bahwa pengetahuan tentang matematika juga sebuah fenomena hidayah. Seolah-olah ilmu matematika, biologi, fisika dan lain-lain bukan merupakan ’ilmu’ yang bersumber dari Tuhan. Sikap memisah-misah seperti itu merupakan cara berpikir sekuler, karena menganggap ada hal yang bisa lepas dari keterkaitannya dengan Tuhan.

Tetapi yang harus menjadi perhatian khusus para pelaku pendidikan adalah ketika Tuhan menghadirkan otoritasNya sedemikian mutlak dalam konteks ‘hidayah’. Hal ini bisa kita ketahui melaui FirmanNya surat Al-Zumar(35), ‘ Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorangpun yang bisa member petunjuk baginya. Dan barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang bisa menyesatkannya. Bukankah Allah maha perkasa lagi mempunyai kekuasaan untuk mengazhab’. Ada dua sifat Tuhan yang berposisi dialektis dalam konteks ini. Yaitu Tuhan bersikap menyesatkan dan Tuhan berperilaku memberi petunjuk. Fenomena pertama, Tuhan bersikap menyesatkan. Ini tentu berlaku ketika ada suatu sikap, akhlak dan moral serta pola perilaku tertentu yang menciptakan logika untuk disesatkan. Sebaliknya, fenomena berikutnya adalah ketika Tuhan menghendaki untuk memberi petunjuk atau hidayah. Ada suatu kecenderungan dan perilaku tertentu yang membuat seseorang atau sebuah masyarakat berada pada ‘posisi’ dan kondisi yang tepat untuk mendapatkan hidayah dari Tuhan. Dalam konteks ilmu, dua fenomena itu juga berlaku. Artinya, ketika seseorang mendapatkan suatu ilmu, dia berada pada himpitan dua kecenderungan dialektis sifat Tuhan itu. Ilmu yang diperoleh berkemungkinan ‘penyesatan’ dari Tuhan atau sebaliknya, sebuah hidayah. Banyak orang makin menguasai ilmu justru semakin jahat dan destruktif. Ilmu yang merupakan ‘hidayah’ adalah ketika berdampak kepada peningkatan moralitas dan peran konstruktif pemiliknya.

Dari uraian di atas, maka institusi pendidikan, sekolah, pesantren, dan universitas-universitas merupakan tempat bagi anak-anak bangsa menerima hidayah. Peran lembaga pendidikan berada pada suatu kondisi yang ‘rawan’ karena proses transfer ilmu berkemungkinan sebagai petunjuk atau terpeleset menjadi penyesatan. Maka institusi pendidikan harus dibangun di atas logika sikap, akhlak dan moral yang relevan untuk berposisi mendapat hidayah. Ada beberapa factor mendasar dalam membangun moralitas dan akhlak institusi pendidikan yang harus diperhatikan.Pertama ; Jika orang tua merupakan ‘guru’ paling tepat dalam proses ‘tarbiyah, maka institusi pendidikan harus hadir sebagai ‘pengganti’ orang tua yang menjalankan fungsi kepengasuhan lanjutan. Dengan kata lain, hubungan orang tua dan lembaga pendidikan harus dibangun berdasarkan ‘akad’ yang jelas. Akad inilah yang menentukan ‘ke-halal-an’ institusi pendidikan sebagai pengganti orang tua. Kita bisa belajar dari sejarah penyerahan anak dari orang tua kepada kyai di pesantren jaman dulu. Seorang Kyai di pesantren benar-benar menjalankan dan menggantikan peran orang tua. Hampir seluruh hidup sang Kyai di dedikasikan untuk jenis pengabdian kepengasuhan seperti itu. Akad yang dibangun bukan berdasarkan kesepakatan transaksional, tetapi saling rela dan merelakan.Jika serah terima antara orang tua dan lembaga pendidikan masih menyisakan ‘keluhan’ diantara keduanya, maka proses ‘tarbiyah’ menjadi batal nilai. Kedua ; Di surah Yasin ayat 21, Tuhan menginformasikan, ‘ Ikutilah orang yang tidak meminta balasan kepada kalian, mereka adalah orang-orang yang diberi petunjuk’. Dalam konteks pendidikan, ilmu yang bermakna ‘hidayah’ hanya bisa didapatkan dari orang-orang yang tanpa pamrih dalam mengajarkanya. Orang yang ikhlas dalam dunia pendidikan modern sekarang direpresentasikan oleh sebuah institusi. Artinya, institusi pendidkan harus benar-benar setepat mungkin dalam memposisikan diri secara moral sebagai pihak yang menjalankan peran ‘kepengasuhan’, agar seluruh proses belajar-mengajar berlangsung sebagai sebuah peristiwa ‘transfer’ hidayah. Karena kegagalan membangun ketepatan pola perilaku dan logika akhlak, institusi pendidikan akan kehilangan ‘presisi’ dalam merespon dialektika dua sifat Tuhan, Al mudzil dan Al Haadi. Sehingga lembaga pendidikan hanya akan memproduk ‘calon-calon’ pelaku destruksi kehidupan. Dengan kata lain, seluruh proses belajar-mengajar akan kehilangan ‘substansi’ tarbiyah, karena yang terjadi berkemungkinan perwujudan fenomena Tuhan sebagai Al Mudzil.

Institusi pendidikan harus memulai berbenah diri dengan cara menciptakan kultur masjid di dalam seluruh aktifitas pembelajarannya. Hubungan orang tua, murid, dan sekolah dikontruksi sedemikian rupa sebagaimana hubungan antara warga dan masjid. Seluruh kebutuhan operasional peribadatan di masjid diurus oleh takmir masjid dengan cara merundingkanya secara transparan dengan warga. Sehingga meskipun secara financial warga ‘wajib’ berkontribusi tetapi tdak sedang dalam rangka ‘membayar’ ketika akan sholat. Diantara warga dan masjid terbangun hubungan moral, bukan transaksional. Demikian seharusnya sekolah atau institusi pendidikan dalam membangun hubungan dengan masyarakat. Jika masyarakat masih mengalami ‘kecemasan’ ketika akan menyekolahkan anak-anaknya ,karena terancam oleh ‘tarif’ pendidikan, maka lembaga pendidikan belum merepresentasikan diri sebagai ‘orang yang tanpa meminta balasan’ sebagaimana disebutkan dalam surat yasin ayat 21 di atas.

Manusia Seutuhnya

Di lembaga pendidikan paling transaksional dan atheis-pun, orang bisa belajar ilmu biologi, fisika, matematika, kedokteran dan segala jenis ilmu yang kesemuanya itu hakekatnya bersumber dari Tuhan. Tetapi seluruh ilmunya tidak akan menjadi ;tharekat’ kehidupannya. Ilmu yang merupakan fenomena hidayah akan menjadikan para ‘pemiliknya’ menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang dengan ilmu yang dikuasainya itu menemukan ‘jati dirinya’. Seorang dokter yang ilmu kedokteranya merupakan hidayah, akan menemukan kenikmatan berjumpa dengan ‘kebenaran dan kebesaran Tuhan’ ketika bisa menyembuhkan orang. Dokter yang menjadikan ilmunya sebagai ‘tharekat’ hidupnya, maka kesembuhan pasien adalah fenomena menakjubkan bagi penglihatan batin dan intelektualnya. Sehingga kesadaran pribadinya akan dipenuhi oleh energy dan semangat menolong orang lain, karena ia merasa berjumpa Tuhan ketika sedang mempraktikan ilmunya. Sebaliknya, jika ilmu kedokteranya merupakan fenomena ‘idzlal’, maka ia hanya akan menjadi ‘pemeras’ yang oportunistis, sakitnya orang lain akan dianggap ‘jalan’ dan kesempatan untuk memperkaya diri. Kondisi dan kualitas manusia sangat dipengaruhi oleh seluruh proses ‘tarbiyahnya’. Ketika proses belajar-mengajar ‘me-negasi-kan’ faktor-faktor spiritualitas, maka pembelajaran telah kehilangan ‘esensi’ tarbiyah. [] Agus Sukoco

Reportase: MAMPIR MEDANG

JUGURAN SYAFAAT EDISI Desember 2015 kembali menempati tempat yang baru, yaitu Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Purwokerto. Dengan lokasi pendopo Jawa yang cukup lapang, Juguran Syafaat dimulai dari pukul 21.00 WIB. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan Al Quran surat Al Mudatsir. Dilanjutkan dengan wirid Padhang mBulan dan Hasbunalloh bersama-sama. Sesi awal dipandu oleh Karyanto, Kukuh dan Hilmy. Karyanto diawal atas nama penggiat memohon maaf atas perpindahan tempat penyelenggaraan Juguran Syafaat. Kukuh menyampaikan bahwa Juguran Syafaat kali ini adalah putaran bulan ke 33 kalinya. Hilmy dan Kukuh memandu sebelumnya yang dilakukan adalah perkenalan satu persatu. Sesi awal ini diharapkan bisa mengetahui maksud dan harapan datang ke forum ini. Beberapa yang ikut urun rembug menyampaikan keinginannya bergabung dengan forum ini karena forum yang berbeda dari biasanya. Rasa penasaran dan mengikuti lini masa di jejaring maya adalah beberapa alasan dari sedulur yang hadir.

Satu nomor dari Ki Ageng Juguran dengan sholawat“An-Nabi” menghangatkan suasana forum. Dilanjutkan masih dengan perkenalan dan testimonial dari beberapa sedulur yang hadir. Beberapa yang tertarik ikut Juguran Syafaat karena sudah mengikuti di fanpage facebook Maiyah Nusantara dan Juguran Syafaat.

Sebuah Pengantar

Kusworo mengambil alih peran moderasi di diskusi sesi kedua dengan meminta beberapa penggiat untuk ikut maju kedepan dan berbagi awal mulanya ada forum Juguran Syafaat. Kemudian Fikry menceritakan latar belakang perkenalan dengan Maiyah, dimana dimulai dengan komunitas“Semangat Donk” yang sejak tahun 2006 sudah melingkar bersama menggarap media dan pelatihan untuk sekolah-sekolah di 4 kabupaten sekitar Banyumas. Fikry menyambung dengan penjelasan tentang standar kebaikan yang harus dimiliki oleh masing-masing manusia.

“Pertama, ternyata kok yang namanya konsep kebenaran itu banyak bangetmaka saya membuat fatwa untuk diri saya sendiri bahwa setiap orang itu harus punya standar kebaikan dirinya sendiri, itu pertama. Kedua setiap orang boleh mengadopsi standar kebaikan dari orang lain. Ketiga setiap orang tidak boleh memaksakan standar kebaikan dirinya terhadap orang lain.”, sambung Fikry.
Fikry menambahkan bahwa kita harus memiliki sikap yang tepat melihat kebenaran, yaitu terhadap Tuhan, terhadap diri kita, dan terhadap orang lain. Jika terhadap Tuhan, sebenar apapun kita, maka dalam diri kita tetap memiliki rasa sesat dan inilah koridor ‘ihdinas sirotol mustaqim’. Lain terhadap diri kita sendiri, kita boleh fanatik dengan meyakini kebenaran yang kita peroleh. Namun lain lagi jika sikap kita terhadap orang lain, kita tidak boleh memaksakan kebenaran yang kita peroleh. Fikry menambahkan contoh nyata dimana dia mencoba menerapkannya kepada sikap parenting-nya kepada anak.

Kusworo merespon dengan menyampaikan tema besar Maiyah adalah ‘mencari apa yang benar, bukan siapa yang benar’. Ini adalah bentuk pencarian akan kebenaran yang sejati. Kalau menggunakan analogi dari Sabrang MDP maka proses ini adalah memotret gajah dengan lebih tajam pixel-nya dan banyak angle-nya, sehingga kita bisa semakin jelas mendapatkan kebenaran dari gajah tersebut.

Satu nomor Ki Ageng Juguran dengan vokal Tita berjudul ‘Bunda’ dibawakan dengan apik secara akustik. Hilmy menambahkan sedikit reportase penyelenggaraan Silaturahmi Penggiat Maiyah Nasional kedua di Magelang tanggal 4-6 Desember kemarin. Kegiatan tersebut mempertemukan penggiat Maiyah seluruh nusantara dengan Dzat Maiyah yaitu, Syeh Nurshamad Kamba, Cak Fuad dan Cak Nun.

Rizky memberikan penjelasan tentang mukadimah tema kali ini “Mampir Medang”, berasal dari falsafah Jawa yang sangat tenar yaitu “Urip Mung Mampir Ngombe”. Rizky menarik kembali ke bahasan apa beda antara falsafah, motto, jargon, slogan dan lain sebagainya. Hal ini diperuntukkan agar tidak salah menempatkannya dalam setiap konteks pembahasan.

SK dari Tuhan

Agus Sukoco mengawali dengan ungkapan nelangsa-nya karena Juguran Syafaat berpindah tempat beberapa kali. Agus mengambil sebuah analogi dimana kucing sebelum melahirkan dia harus berpindah tempat sebanyak tujuh kali. Yang menarik tentunya, kucing ini adalah binatang kesayangan Rasulullah, sehingga sampai sekarang dilindungi sedemikian rupa oleh masyarakat.

“Mampir Medang, kalau mampir berarti kita berangkat dari satu titik keberangkatan menuju satu titik tuju. Mampir sejenak di dunia yang disebut sebagai orang Jawa sebagai ‘mampir ngombe’.Artinya kata ‘mampir’ ini bukan berdiri sendiri tetapi ada makna dimana kita sedang melakukan perjalanan dari dan akan ke. Sekarang kita sedang berada di dunia yang hanya berderajat mampir, nah dari mana kita sebenarnya?”, sambung Agus.

Dalam penuturannya, Agus menjelaskan tentang awal mula penciptaan manusia yang ditugaskan menjadi khalifah di bumi. Kalau diibaratkan dengan SK (Surat Keputusan) maka manusia mempunyai SK berupa ayat Allah yang berbunyi “Wa-idz qala Rabbuka lil malaa-ikati innii jaa’ilun fil ardi khaliifah”. Jika manusia mempunyai kesadaran bahwa dia mempunyai SK dari Tuhan, maka dia berderajat lebih tinggi dari malaikat, tetapi jika tidak mempunyai kesadaran ini maka ayat ‘Ulaika kal an’am balhum adzal’ berlaku, yaitu kita lebih rendah dari binatang.

“SK tadi bersifat kualitatif. Kalau manusia mampu membangun kesadaran spritualnya, membangun prinsip-prinsip teologisnya sedemikian kuat di dalam dirinya maka dia ber-SK, kalau dia ber-SK maka berlaku prinsip mandat dan dimandati. Letak kekuatan orang yang disuruh terletak pada yang menyuruh, maka kita menjadi berlipat-lipat kekuatan, kita punya ekstra kekuatan artinya kita berpeluang lebih selamat.”, tambah Agus Sukoco.

Agus menganalogikan kalau SK Pegawai bisa digadaikan atau menjadi jaminan hutang ke bank, maka SK dari Tuhan adalah bentuk jaminan kita kepada Tuhan bahwa kita akan mendapatkan grujugan “Min Haitsu La Yah Tasib”, rejeki dari yang tak diduga-duga dari Tuhan melalui bendaharawan surganya. Manusia Jawa mengerti persis bahwa kehidupan kita di dunia ini hanya sekedar mampir, ibarat kita pergi dari Purbalingga akan menuju ke Jakarta kemudian mampir di Tegal. Maka ketika mampir kita tidak akan terpengaruh dengan kondisi yang terjadi di lokalan Tegal. Kita akan disuguhi air putih atau kopi, kita tetap tahu bahwa Tegal bukan tujuan utama.

“Nah banyak orang yang tidak memposisikan peristiwa mampir sebagai mampir. Seolah-olah itu tujuan sehingga ia sangat terikat secara batin, secara perasaan maka apapun yang terjadi menjadi sedih, karena dia tidak ngerti bahwa sesungguhnya perjalanan masih harus diteruskan.Nah banyak orang bahkan tidak sempat melanjutkan perjalanan karena di situ kepencut bahkan mbojo sisan nang kono.”, imbuh Agus.

Agus menuturkan bahwa dunia ini cukup dipacari saja, jangan dinikahi. Karena kalau dinikahi akan menjadi beban berat dan keterikatan batin yang kuat, hingga lupa bahwa ini sebenarnya hanya ampiran saja. Falsafah Jawa ini menjadi obat yang mujarab ditengah kesumpekan hidup kita, kalau ada masalah apa-apa kita menjadi enteng menghadapinya dengan berepdoman bahwa “urip mung mampir ngombe”.

Dalam kesempatan ini, Agus Sukoco membacakan puisi tentang “Kata-kata” yang tadi baru saja ditampilkannya di Pertunjukkan Komunitas Seni Purbalingga. Ki Ageng Juguran menyambung dengan vokal Tita mempersembahkan nomor “Tuhan Berguru”.

Kusworo merespon lagu yang baru saja ditampilkan karya Kiai Kanjeng yang liriknya ditulis oleh Cak Nun, bahwa perjalanan hidup manusia sangat panjang dan kita terus berguru dari titik awal hingga titik tuju. Kusworo juga menambahkan bahwa gerakan revolusi mental yang didengungkan pemerintah sekarang belum menyentuh pada perubahan cara berfikirnya yang sangat dasar. Sesuai dengan penjelasan Cak Nun bahwa mental adalah output dari cara berfikir. Dan inilah yang selalu digarap oleh forum-forum Maiyah, mencari ketepatan cara berfikir.

Arif dari Purwokerto, merespon dengan penjelasan bahwa kalau menurut surat Al Hajj ayat 47 dimana disebutkan satu hari di akhirat dalam hitungan Tuhan itu seperti seribu tahun dalam perhitungan kita di dunia. Maka dalam beberapa penafsiran mengatakan kalau satu jam di akhirat sama dengan 41,6 hari. Maka kalau umur manusia 63 tahun itu setara dengan 1,5 jam di akhirat. Dan ini bentuk relevansi falsafah Jawa “Urip mung mampir ngombe” tadi dengan ayat Al Quran.

Rizky menarik kembali dengan respon bahwa falsafah dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berarti sikap batin yang mendasari.Rizky juga merespon kondisi aktual sekarang ini, yaitu Hari Belanja Online Nasional dimana dalam situs-situs belanja online banyak sekali kata-kata yang dipelintir sehingga banyak pelanggan yang tertipu karena promo yang tidak jujur. Rayung dari Purwokerto kali ini ikut kembali mempersembahkan suaranya dalam nomor tembang ballads “Saksikan Bahwa Sepi” dari Ebiet G Ade.

Menjamaahkan Jamaah

Agus Sukoco menuturkan kondisi masyarakat yang gampang sekali berbenturan karena perbedaan. Agus mencontohkan dalam pertandingan sepakbola, antar RT bisa jadi ajang benturan, tapi ketika naik ke antar desa, musuh yang tadi berlawanan menjadi kawan dan siap memusuhi lawan desa lain. Ini terus naik hingga dalam urusan bangsa, agama dan lain sebagainya.

“Manusia harus mengerti, sesungguhnya manusia tidak bisa disempitkan oleh peristiwa primordialisme bahkan disempitkan oleh peristiwa nasionalisme. Jadi nasionalisme itu sesungguhnya masih sebuah kesempitan karena kalau sudah ngomong manusia, dimanapun manusia itu berada di negara apapun, dia tetap manusia. Dan dia tetap sama dengan kita. Maka tidak ada orang lain. Kalau masih nasionalisme, orang Malaysia adalah orang lain. Apalagi kalau masih antar kabupaten, maka kabupaten lain adalah orang lain, tapi kalau sudah manusia mana yang akan kita orang lainkan?”, sambung Agus Sukoco.

Agus Sukoco menambahkan penjelasan tentang berjamaah dimana sampai Rasulullah memberikan aksentuasi khusus terhadap sholat berjamaah hingga Allah ‘memaksa’ lelaki harus berjamaah seminggu sekali dalam sholat Jumat. Latar belakang pewajiban ini letaknya bukan pada persitiwa sholat berjamaahnya, tetapi sholat berjamaah hanya media untuk memaksa manusia bertemu muka kemudian bersatu bersama.
“Masa Tuhan hanyaseneng melihat kebersamaan gerak, saya kira letaknya bukan pada sholatnya itu, tetapi sholat dipakai oleh Tuhan oleh Islam untuk menggiring manusia disatukan targetnya yaitu penyatuan tadi. Yang terjadi sekarang adalah sholat bareng tapi dewek-dewek hanya kebersamaan tempat tapi sesungguhnya hatinya berkeping-keping dan terpecah-pecah tercerai-berai.”, sambung Agus Sukoco.

Dalam penjelasannya, Agus mengisahkan asal mulanya Rasulullah memaksa umatnya untuk sholat berjamaah sampai mengatakan kalau orang islam yang tidak sholat berjamaah termasuk kaum munafik. Peristiwanya karena pada saat itu Rasulullah sangat sulit mengidentifikasi mana sesungguhnya umat Islam yang punya loyalitas terhadap perjuangannya. Ada sebagian umat yang mengaku Islam tapi tidak mau ngeton di masjid dan masih punya kepentingan dengan Abu Jahal. Keadaan sekarang mulai sudah kehilangan esensi jamaah dan masjid-masjid sudah dikuasai oleh ustad-ustad penguasa masjid.

“Maka saya dan temen-temen bikin ide makan malam berjamaah. Jadi di RT temen-temen itu ada kita kumpulin uang. Habis ‘isya kita kumpul makan malam artinya makan malam kita pakai ditengahsholat sudah tidak bisa kita pakai untuk mewujudkan esensi jamaah. Lho sekarang kan habis sholat sudah sendiri-sendiri bahkan salaman saja dilarang, jadi interaksi sosial bener-bener dihalangi. Apalagi gendu-gendu rasa apalagi membicarakan hal-hal yang sifatnya sosial dan kehidupan sehari-hari sudah hilang,wong salaman saja dilarang.”, ujar Agus Sukoco.

“Kita harus tetep membangun esensi jamaah sesuai dengan aksentuasi pesan Islam kehidupan bersosial. Maka makan malam berjamaah nanti kita tunggu donaturnya di tempat masing–masing kalau ada makan malam kumpul.Di situ guyub terjadi senda gurau kemudian yang tidak akrab jadi akrab maka di situ mulai terjadi rempugan-rempugan tentang urip mulai mendengar kabar bahwa si A sakit, si B sedang menderita, si C sedang kesulitan dengan biaya sekolah, mulai terdengar dari rengeng-rengeng diacara makan bersama, karena rengeng-rengeng sosial sudah tidak terdengar di dalam masjid-masjid yang sunyi dan penuh para malaikat yang bersorban itu.”, sambung Agus Sukoco.

Fikry merespon bahwa ditempat tinggalnya masih menemukan jamaah masjid yang saling berinteraksi dengan yang lain. Ini dibuktikan dengan ketika salah satu jamaah yang sakit, semua jamaah masjid itu ikut menengok keadaan si sakit setelah sholat Isya. Rizky menyambung dengan apa yang harus kita teliti kembali segala tindakan kita sudah tepat belum sikap batin atau falsafahnya. Rizky menilik pada beberapa peristiwa kebudayaan seperti hajatan yang dulu penuh dengan falsafah sehingga semegah apapun tidak pernah merepotkan shohibul hajat. Tapi sekarang yang terjadi orang hanya mewarisi repotnya saja, tanpa mengerti apa falsafah dibaliknya.

Time is Money?

Agus, salah satu sedulur yang hadir dari Purwokerto, merespon dengan menyambungkan falsafah Jawa “mampir ngombe” dengan paradigma barat yang mengatakan “Time Is Money”, sebagai bentuk penghormatan berharganya waktu. Kusworo menanggapi dengan persepsi orang yang melihat petani Indonesia malas bekerja, sehingga berangkat pagi, siang sudah pulang. Tapi sebenarnya mereka banyak melakukan pekerjaan lain diluar bertani, masih ada mencari kayu bakar, beternak dan lain sebagainya. Kusworo juga mengambil contoh pedagang di pasar yang sudah bekerja sejak pukul 12 malam sebagai bentuk kerja keras mereka tanpa kenal waktu.

“Berbeda dengan di Belanda atau di negara maju dengan ekosistem seperti itu mereka harus bener-bener berjuang mati-matian untuk bisa bertahan hidup dan itu yang kemudian melahirkan rekayasa industrialisme dan kapitalisme. Dimana informasi yang disebarkan adalah bahwa sumber daya alam itu sangat terbatas sementara yang didorong melalui iklan melalui macem-macem itu keinginan yang tidak pernah terbatas. Dan itu yang dilakukan sebaliknya oleh agama, agama adalah meyakini bahwa sumber daya alam dari Tuhan itu tidak terbatas tapi melaui metode puasa macem-macem manusia dipaksa untuk mengerti batas-batas. Jadi sangat bertolak belakang apa yang terjadi di barat dengan di jawa falsafah jawa itu tadi.”, respon Kusworo.

Agus Sukoco menanggapi pernyataan tadi dengan sikap orang Jawa yang begitu tahu efektifitasnya hidup di dunia sehingga menggunakan falsafah “Urip Mung Mampir Ngombe”. Kalau menggunakan rumus 1,5 jam tadi, dengan tugas berat kita sebagai manusia, maka kita tidak bisa berleha-leha disitu. Agus Sukoco menganalogikan dengan tentara yang dikirim ke daerah konflik selama tiga bulan. Jangan sampai yang terjadi adalah tentara tersebut terbuai dengan keindahan alam daerah konflik tersebut, sibuk mengumpulkan makanan dan lain sebagainya, sehingga ketika sudah habis masa tugasnya dan dimintai pertanggungjawabannya belum selesai menyelesaikan tugas besarnya. Agus kemudian masuk kedalam materi pendidikan, dimana pendidikan seharusnya bisa menemukan siapa jati diri kita sesungguhnya. Kalau diibaratkan tentara, maka kita tahu bekal apa yang dibawa berperang dan tugas apa yang kita kerjakan selama ditempatkan di daerah perang.

Rizky menambahi dengan penjelasan beda antara falsafah, motto, visi, misi, yell. Menurut Rizky, falsafah dalah sebuah sikap batin yang mendasari tindakan. Motto adalah afirmasi, visi adalah capaian, misi adalah tindakan, prinsip adalah batasan-batasan, metode adalah cara bertindak.

Agus Sukoco menjelaskan bahwa esensi tugas khalifah sesungguhnya adalah mentransformasi rahmat menjadi barokah. Apapun nanti jenis kekhalifahan masing-masing berbeda. Agus menjelaskan bahwa rahmat itu alamiah, barokah itu kebudayaan, contohnya ketela itu alam gethuk itu kebudayaan, karena ada intervensi manusia mengelola alam menjadi produk.

“Yang sekarang terjadi adalah hak atau otoritas untuk mengintervensi alam atau rahmat ini tetapi produknya tidak dalam kebudayaan yang barokah. Misalnya dalam kasus Freeport, ada alam yang rahmat tadi, mestinya ada aturan satu regulasi atau apapun namanya yang membatasi Freeport ini jatah untuk generasi sekarang kita ambil berapa persen karena ada hak juga anak kita, cucu kita dan generasi sekian. Apakah itu hanya untuk generasi kita? Sehingga generasi yang akan datang tidak. Yang kedua itu rahmat untuk siapa untuk orang Indonesia atau untuk orang Amerika? Kalau kemudian tadi yang terjadi adalah eksplorasi dan tidak tepat sasaran, rahmat harus dikelola untuk membarokahi Indonesia tetapi justru sampainya untuk kesejahteraan di Amerika dan tidak terukur seberapa persen yang boleh kita ambil, tidak ada aturan yang jelas. Maka intervensi manusia itu tidak mengolah rahmat menjadi barokah tetapi menjadi adzab. Maka disini telah gagal bertugas sebagai khalifah dalam konteks pribadi atau dalam konteks kenegaraan ini. Yang terjadi sekarang jadi esensi tugas khalifah adalah mengintervensi rahmat supaya diproduk menjadi barokah, mengeksplorasi alam menjadi kebudayaan yang mensejahterakan yang menyelamatkan.”, imbuh Agus Sukoco.

Agus dari Purwokerto menanggapi kembali bahwa komoditas sekarang yang utama bukanlah sumber daya alam, melainkan waktu. Dalam penjelasannya, orang yang sangat rakus untuk mengekploitasi apapun ternyata dia terbentur oleh waktu, ternyata yang harus dieksploitasi bukan alam tapi waktu. Ini yang mendasari ada paradigma “Time Is Money”. Nomor “Menjemput Janji” dari Ki Ageng Juguran mengantarkan diskusi Juguran Syafaat ini ke tengah malam.

RechecktionTujuan

Meta dari Purwokerto ikut berpendapat mengenai pendidikan parenting, dimana orang sekarang gampang sekali percaya dengan tokoh-tokoh atau buku yang beredar saat ini sebagai contoh panduan hidup. Mereka lupa bahwa madrasah yang utama adalah orang tua mereka. Meta mengambil contoh pendidikan ala Ali Bin Abi Thalib dimana umur 0-7 tahun, anak diperlakukan sebagai raja dimana kita dimanja hidupnya, umur 7-14 tahun seperti tawanan perang dimana kita diberi beban kewajiban sehari-hari, dan umur 14-21 tahun seperti sahabat dimana kita bisa sharing keseharian kita. Fikry merepson dengan banyaknya orang sekarang yang sudah sibuk mengatur anaknya, tapi dirinya sendiri sebenarnya belum selesai.

Hardi, sedulur dari Purwokerto, menyampaikan tentang tahap hidup orang hindu yaitu Purwa, Madya dan Wasana. Dimana Wasana bisa berarti sebagai akhir bisa berarti pula sebagai awal. Ini berkaitan dengan hidup adalah perjalanan yang panjang. Hardi menambahkan bahwa point yang harus kita lakukan pada saat mampir adalah rechecktion. Rechecktion adalah bentuk pengakuratan posisi terhadap tujuan akhir. Kalau dalam perjalanan pendaki gunung, diperlukan pembacaan peta ulang dan penentuan arah kompas saat istirahat sejenak sebelum naik ke puncak gunung.

“Kalau saya boleh belajar dari kawan saya,pandita di Bali itu mengenai Karma Wasana tadi, bagaimana kita menentukan tugas kita, menunaikan tugas kita, darma kita dengan baik. Yang kedua bagaimana kita belajar, mungkin salah satunya adalah parenting tadi. Yang ketiga menentukan arah menujunya itu yang paling terpenting, jangan-jangan pada saat ini kita sudah berhenti cuma di Tegal saja.”, sambung Hardi.

Agus Sukoco menanggapi penjelasan Hardi dengan istilah dalam Islam yang disebut kiamat. Dalam Islam, kiamat dimaknai secara fisik sebagai kehancuran, padahal kata itu sendiri berasal dari kata ‘bangkit’ atau ‘kebangkitan’. Dalam khasanah Jawa dikenal ada idiom dari Sunan Kalijaga yaitu ‘urip kue lagi turu,nglilire angger wis mati’ artinya justru kalau kita merasa sedang bangun, merasa ada itu keberadaan kita sesungguhnya di alam mimpi karena kita hakekatnya sedang tidur.

“Soal arah siklusnya adalah innalillahi wa innailaihi raji’un, dari Allah menuju ke Allah, kalau siklusnya dari Allah menuju Allah. Kalau kita pakai perspektif lahiriyah material, maka kalau kita melihat kakek kita, buyut kita, mbah-mbah kita maka itu adalah orang masa lalu. Artinya di belakang kita kalau materi, tetapi ketika memakai perspektif rohani siklus innalillahi wa innailaihi raji’un maka mbah kita yang pernah di alam ini, sudah selesai di alam ini. sedang melanjutkan perjalanan ke Tuhan.Mbah kita sekarang sesungguhnya di depan kita.”, tambah Agus.

Agus menambahkan bahwa ukuran arah tepat yang kita pakai adalah ‘khoerunnas anfauhum linnas’. Ukuran inilah yang menentukan kita berhasil tidaknya menjalani kehidupan ini. Bisa jadi, ibarat sedang mampir ngombe kita malah terlena dan pulang kembali ke arah sebelumnya, ini adalah bentuk bahwa PR kita di dunia ini belum selesai kita kerjakan.

Respon-respon

Banyak sedulur yang hadir ikut merespon diskusi malam hari ini. Bukti keterbukaan forum Maiyah adalah siap menerima respon darimana saja. Ari dari Purwokerto ikut urun pendapat bahwa hidup ini dia ibaratkan seperti mendaki gunung. Ketika mampir untuk beristirahat di pos-pos, kita juga musti menjaga kelestarian tempat dan kebersihannya, karena nanti akan ada orang yang mampir ketempat istirahat itu juga. Togar dari Sokaraja menangkap fenomena bahwa dalam memelihara kesuburan tanah diperlukan waktu 100 tahun, itu merupakan tanda bahwa umur kitapun sangat pendek sehingga dalam memelihara alam tetap tidak ikut menikmatinya sendiri, tapi untuk anak cucu.Nurwahid dari Purwokerto, mempertanyakan kepada forum bagaimana parenting yang baik seandainya orang tua kita sendiri tidak bisa dicontoh secara baik. Yus sedulur dari Purwokerto, menerangkan sedikit tentang skema rabbinas, malikinnas, dan illahinnas dalam surat An Nas. Nurul dari Jakarta, ikut merespon paradigma “Time Is Money”, dengan pengalamannya sewaktu bekerja tidak bisa memberikan waktu yang lebih kepada adiknya, sehingga ia mengganti rasa bersalahnya dengan memberikan hadiah. Ifa dari Purwokerto menanggapi ada beda antara istilah nginum, ngombe, dan medang. Ifa juga berpendapat, bisa jadi kita mampir medang-nya tidak hanya sekali dalam kehidupan panjang ini.
Rizky menanggapi pertanyaan dari Nurwahid, bahwa kita musti belajar bukan hanya secara verbal literal sehingga pelajaran utama bukanlah berbentuk quote tapi sikap yang kita lihat, yang ditampilkan oleh orang tua kita sehari-hari. Kalau kita menemukan orang tua kita tidak berbuat baik, maka itupun menjadi pelajaran untuk kita bahwa itu merupakan hal yang tidak baik.

“Ini nyambung dengan salah satu pesan yang cukup penting menurut saya di Silatnas kemarin dari Mbah Nun dan Syekh Nurshamad Kamba. Bahwasannya ini kalau ditarik lebih luas lagi ya tentang cara belajar kita jangan terjebak verbal litaral gitu ya. Al-Quran adalah Nabi Muhammad yang dituliskan. Nah selama ini kan kita sibuk membuat jargon kembali kepada Quran dan sunnah tapi yang dimaksud kembali pada teks literal Quran dan tidak kembali kepada manusia Al-Quran itu sendiri yaitu akhlaqnya Nabi Muhammad.”, sambung Rizky.

Agus Sukoco menanggapi bahwa dalam khasanah Jawa terkadang berbalik dengan paradigma Barat. Contohnya dalam hal efektifitas waktu. Orang Jawa jaman dahulu menanak nasi begitu lamanya, dimulai dari mencari kayu bakar, membelah kayu, membuat api hingga memasaknya sendiri yang begitu lama. Ini berbeda dengan sikap orang barat, kemudian menemukan penemuan teknologi rice cooker atas nama efektifitas waktu. Tapi orang Jawa dahulu tidak merasa sedang membuang waktu dengan percuma karena didalamnya penuh dengan kesabaran dan kematangan batin. Sedang orang sekarang, menciptakan efektifitas dalam hal apapun hanya untuk sebatas tujuan materiil saja. Kusworo menambahkan bahwa orang Jawa dahulu bisa mengambil banyak hikmah dengan menanak nasi saja, sedangkan orang sekarang bisa sudah melakukan banyak hal, tapi tidak mendapatkan ilmu atau hikmah apapun dalam hidupnya.

Kusworo sedikit menarik kesimpulan dari diskusi forum malam hari ini dengan pernyataan bahwa soal efektifitas waktu, dimana waktu tidak dihargai secara materiil saja, tapi bisa dalam proses sesuatu yang cukup lama kita menarik garis rohani melalui hikmah-hikmahnya. Juga perihal rechecktion, bahwa ketika urip mung mampir ngombe maka kita wajib mengecek arah tujuan kita sudah benar apa belum, apakah kita sudah mengeluarkan kontirbusi sosial dalam hidup sebagai indikator keberhasilan hidup kita.

Juguran Syafaat malam hari ini selesai pukul 03.00 di akhiri dengan sholawat “Ya Rabbibil Musthofa” dan salaman melingkar. [] RedJS

Simpul Maiyah dan Kepengasuhan

Berita Silatnas Penggiat Maiyah II

Silaturahmi Nasional Penggiat Maiyah tahun ini telah digelar pada 4-6 Desember 2015 lalu. Sebagai tuan rumah adalah Simpul Maiyah Maneges Qudrah, Magelang. Dengan mengambil tempat di Brambang Salam Resto, Kabupaten Magelang kegiatan ini dihadiri oleh 19 simpul Maiyah dari seluruh Indonesia dengan jumlah delegasi lebih dari 150 orang.
Kegiatan diawali di hari Jumat petang dengan penampilan Waro’ Bocah dari Komunitas Lima Gunung, Magelang yang merupakan asuhan Tanto Mendut sebagai pagelaran penyambutan selamat datang. Agenda malam harinya adalah pembukaan Silatnas dilanjutkan dengan sarasehan. Sarasehan diisi dengan sharing dan sambung rasa dimana masing-masing simpul mengemukakan progres dan usulannya kepada koordinator Isim Maiyah Nusantara. Acara sarasehan ini diiringi dengan grup musik Jodho Kemil, Magelang.

Agenda hari berikutnya, para penggiat melakukan tatap muka dengan Dzat Maiyah, yakni beliau Muhammad Ainun Nadjib, Ahmad Fuad Efendy dan Nurshomad Kamba. Topik yang disampaikan penggiat menyeluruh dan runut meliputi progress dan karakteristik simpul Maiyah, dilanjutkan dengan wacana keorganisasian Maiyah ke depan, wacana pengembangan perekonomian serta wacana interaksi sosial.

Selanjutnya secara interaktif, Dzat Maiyah memberikan tanggapan dan arahan. Butir-butir tanggapan dan arahan yang bersifat umum, diantaranya adalah sebagai berikut :

Tanggapan dan arahan dari Nurshomad Kamba diantaranya adalah :

  1. Mengingatkan kembali bahwa Maiyah adalah jalan sunyi. Jalan sunyi bukan jalan pengasingan yang sepi. Jalan sunyi berarti adalah sekalipun di kerumunan ramai, Maiyah memiliki cara pandang yang otentik yang seringkali berbeda sendiri.
  2. Dalam Maiyah yang dijaga adalah kesungguhan dalam bersholawat. Karena sholawat adalah keberkahan bagi Indonesia. Sholawat yang dimaksud bukan sekedar lafadz dan nyanyian. Tetapi penghormatan dan pengagungan kepada Nabi Muhammad secara sungguh-sungguh.
  3. Dalam Maiyah kita hendaknya terus sibuk menndalami akhlak Nabi. Akhlak Nabi Muhammad adalah Akhlak Al-Quran, dengan mengenali dan menemukan persepsi yang tepat tentang Nabi Muhammad adalah bagian dari mempelajari Al-Qur’an.

Tanggapan dan arahan dari Ahmad Fuad Effendy diantaranya adalah :

  1. Maiyah dihimbau memiliki metode penyelesaian konflik yang sesuai dengan paradigma Al-Quran. Penyelesaian konflik tidak dilakukan dengan debat terbuka, tetapi dengan menghadap Allah berdua-dua (dengar pendapat yang baik) atau kalau tidak bisa, dengan menghadap Allah sendiri (melakukan perenungan masing-masing).
  2. Maiyah adalah wujud menjalankan agama dengan benar. Dimana agama itu memudahkan bukan mempersulit, bukan pula mencari-cari kemudahan.

Tanggapan dan arahan dari Muhammad Ainun Nadjib diantaranya adalah :

  1. Dunia adalah permainan belaka. Akan tetapi harus diingat, tidak ada permainan yang tidak serius. Bukan berarti serius adalah tidak fun. Oleh karenanya, sekalipun Maiyah menyadari bahwa dunia hanyalah permainan, tetapi kita hendaknya memainkannya dengan seserius mungkin.
  2. Apa yang sudah Dzat Maiyah berikan kepada para penggiat, silahkan dikelola dengan leluasa. Tidak ada instruksi dan batasan khusus. Penggiat Maiyah dipercaya bisa menemukan sendiri batasan-batasannya.
  3. Maiyah tidak perlu memusingkan kondisi dimana produk Maiyah diterima, tetapi identitas Maiyah tidak diterima. Sebagaimana yang diteladankan Nabi Muhammad, identitas tidak primer, yang primer adalah pelayanan.

Sesi pertemuan Dzat Maiyah dengan penggiat dari masing-masing simpul berlangsung dari pagi hingga petang. Pada malam harinya dilanjutkan dengan sesi diskusi masing-masing bidang bersama Toto Raharjo, Sabrang Mowo Damar Panuluh dan beberapa fasilitator lain. Delegasi Silatnas dibagi dalam empat bidang bahasan yakni : Politik, Ekonomi, Pendidikan dan Literasi. Pembahasan pada sesi ini berlangsung hingga dinihari.

Pada hari terakhir, sesi dilanjutkan dengan pembacaan Rekomendasi Silatnas II yang merupakan hasil penggodogan bidang per bidang yang telah dibahas sebelumnya. Kemudian menjelang tengah hari, tibalah saatnya melaksanakan penutupan kegiatan.

Pasca Silatnas II di Magelang ini, diharapkan masing-masing simpul diharapkan menemukan formula kepengasuhan yang substantif. Sebagai tindak lanjut teknisnya, dalam waktu dekat akan digelar Workshop Kepengasuhan di Rumah Maiyah, Yogyakarta.[] Rizky/RedJS

Reportase: SINAU RUMANGSA

Sebelum acara dimulai, beberapa nomor lagu dipersembahkan oleh Ki Ageng Juguran dengan vokal Tita dan Ujang. Ki Ageng Juguran kali ini tampil dengan konsep simpel akustik. Beberapa nomor garapan sendiri ditampilkan ditambah dengan beberapa nomor adaptasi dari Kiai Kanjeng.

Kukuh membuka dengan mengajak para sedulur untuk membaca Al Quran secara tartil terpimpin dengan membaca surat Al Fath. Dilanjutkan dengan wirid Padhang Mbulan yang dipimpin oleh Kukuh dan Karyanto. Kukuh membuka sesi pertama dengan mengajak berkenalan dengan sedulur yang hadir. Beberapa diantaranya berasal dari Cilacap, Banyumas, Banjarnegara dan Purwokerto. Dilanjutan dengan Ki Ageng Juguran menampilkan nomor “Marhaban” dan “Tuhan Aku Berguru”.

Kusworo membuka sesi diskusi pertama dengan menyampaikan bahwa yang hilang saat ini dalam keseharian kita adalah sikap rumangsa. Rizky menambahkan dengan perkenalan tamu yang hadir Juguran Syafaat kali ini yaitu Toto Rahardjo dan Harianto dari Progress Jogja. Rizky memotret fenomena saat ini dimana acara televisi paling banyak adalah acara ngobrol, ini adalah gejala semakin individualisnya kita, sehingga membutuhkan ruang untuk saling berbagi. Dalam forum ini semoga yang hadir tidak hanya menonton orang ngobrol, tapi ikut berbagi bersama.

Arif dari Purwokerto, memberikan penjelasanbahwa forum Maiyah seperti ini mengajak kita untuk lekat dalam diskusinya. Menurut Togar dari Purwokerto, suasana Juguran Syafaat dan obrolan yang substantif itulah yang membuat dirinya betah mengikuti forum ini dari awal hingga akhir.

Harianto menambahkan penuturan tentang logika kata istimewa. Masyarakat sekarang menganggap sesuatu itu istimewa tapi seperti terlepas dengan yang lain. Contohnya, hari Jumat kita anggap istimewa, tapi tentunya tidak ada hari Jumat kalau tidak didahului hari yang lain. Keistimewaan bukan terletak pada bendanya, tetapi pada bagaimana kita memandangnya.

“Ketika bertemu sesuatu, temukan keistimewaan dibaliknya. Ketika bertemu sesorang, maka carilah keistimewaannya, maka kita tidak punya hak sedikitpun untuk merendahkannya. Kenapa setiap orang istimewa, karena kita diciptakan sebagai makhluk yang sempurna. Tidak ada manusia yang tidak istimewa, cara memandangnya saja yang salah.”, kata Harianto.

Tentang Kepengasuhan

Toto Rahardjo menyampaikan bahwa Maiyah bersifat feminim. Ada unsur keindahan, kesejukan, kepengasuhan, kesetiaan di dalamnya. Yang utama dari sebuah kecenderungan feminim adalah kepengasuhannya.Toto mengambil contoh bahwa universitas adalah sebuah bentuk kefeminiman dimana menjalankan fungsi ibu didalamnya, yaitu kebersamaan dan kemanusiaan.

Toto juga bercerita tentang poster ‘dilarang merokok’ yang seharusnya bisa membuat orang disekitarnya berhenti merokok, tapi yang terjadi adalah orang tetap merokok saja. Ini dikarenakan sebenarnya ada kontrol diri yang lebih kuat apakah kita bersikap permisif terhadap rokok atau tidak. Dan poster tersebut adalah bentuk sosialisasi yang goalnya adalah mengorganisir pikiran.Kalau ditarik secara lebih luas, sekolah adalah ‘poster’ yang berfungsi untuk mengorganisir pikiran. Bisa jadi kenapa kita tidak menuai sesuatu dari sekolah, karena sekolah memang tidak menyenangkan. Sama seperti poster yang didesain dengan itdak menarik, maka pikiran kitapun tidak terpengaruhi.

“Nah, forum seperti ini adalah forum nguda rasa. Forum seperti ini harus indah, supaya pikiran kita bisa berfungsi lebih jernih dan maksimal. Mampu mengorganisir pikiran dan bisa sampai ke hati.”, tambah Toto.

Rizky menambahan bahwa rumangsa dalam khasanah Jawa adalah internal control system paling bagus. Kalau kita bisa rumangsa maka, segala sesuatunya menjadi terukur dan memiliki ketepatan.

Toto menjelaskan bahwa lawan dari segala bentuk ‘poster’ itu tadi adalah keinginan. Maka dalam beberapa ideologi tertentu ditekankan untuk jangan hidup hedonis karena berbiaya mahal. Hedonis sendiri menurut Toto adalah kumpulan dari keinginan-keinginan. Dan rumangsa adalah kontrol diri atas segala keinginan yang ada dalam diri kita.

Toto mencontohkan orang hamil yang dahulu menjadi tanggung jawab bersama, kini sudah menjadi tanggung jawab suami saja. Dalam sejarahnya, mitoni (upacara tujuh bulanan) digunakan sebagai bentuk peringatan atas sudah dekatnya waktu kelahiran dan ini diperingati oleh lingkungan sekitar. Mitoni disini bisa digunakan sebagai metode rumangsa yang diaktifkan dalam lingkungan bermasyarakat.

Dalan jeda diskusi, Ki Ageng Juguran mempersembahkan nomor “Sailing” yang dimedleykan dengan sholawat badar.

Pendidikan Yang Feminim

Kusworo menuturkan bahwa feminim maskulin bukan persoalan wanita atau pria, tapi lebih mengenai kecenderungan sifat. Dalam diri manusia terdapat dua kecenderungan sifat itu tadi. Harianto menambahkan dimana pendidikan adalah berdasar pada feminimitasnya. Dasarnya terhadap kepengasuhan terhadap orang lain. Kalau kita berbicara rusaknya pendidikan, maka akan menjadi putus asa. Tapi kalau kita rumangsa bahwa pendidikan bukan dilakukan oleh orang lain, kitapun bertanggungjawab atas pendidikan maka kita lebih belajar dan mempunyai harapan atas pendidikan dimasa depan.

Mengenai kepangasuhan, Harianto menambahkan, jiwa kepengasuhan itu akan muncul jika kita bersikap kepada apapun dan siapapun yang didepan kita adalah anak. Maiyah melihat segala persolan, baik Indonesia maupun dunia adalah sebagai anak. Harianto menilik kembali bahwa kepengasuhan dalam bahasa arab adalah rabbi, terdiri dari huruf ro dan ba yang secara bentuk seperti orang yng sedang menggendong anak.

Dalam surat Annas sendiri, Allah menjelaskan skema robbinnas, malikinnas, ilahinnas, yang pertama mengasuh, menguasai dan membuat peradaban. Ini adalah kunci dari Allah yang bisa kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Harianto menyayangkan yang terjadi saat ini pada beberapa aktivis dikalangan muda, dimana meraka hanya sekedar gencar memprotes kondisi sosial ini. Mereka menginginkan prubahan tapi sebenarnya tidak siap terhadap perubahan itu sendiri. Jika kondisi berubah yang terjadi, hanyalah memberikan cek kosong kepada orang lain. Lalu, kenapa tidak kita sendiri yang mengerjakan perubahan?

Rumangsa Rumangsani

Rizky menuturkan rumangsa adalah sikap menempatkan diri secara tepat terhadap apa yang terjadi sekarang. Dan mengenai penjelasan Toto Rahardjo tadi, Rizky mengambil kesimpulan bahwa rumangsa adalah bentuk mengatur keinginan diri. Setelah kita mampu mengidentifikasi diri maka selanjutnya adalah menempatkan diri, lalu bisa mengetahui orientasi diri.

Kusworo menambahkan, rumangsa berkaitan dengan limitasi diri, istilah jawanya ngukur awake dewek. Tapi juga rumangsa bisa berarti mengetahui kalau kita diberi kemampuan lebih tapi tidak memaksimalkannya. Agus Sukoco menarik gagasan bahwa segala yang kita kejar di dunia ini adalah yang substantif. Sama analoginya seperti ketika kita datang ke Juguran Syafaat yang utama bukan karena snack nya tapi karena kehangatan diskusinya. Kalau kita sudah menemukanyang substantif maka tujuan materi sudah bukan menajdi yang utama lagi. Ini terjadi kebalikannya dengan pembangunan nasional kita, dimana orang mengejar snack-snack saja, bukan menemukan hal yang lebih substantif seperti jati diri bangsanya.

Dalam hal pendidikan, Agus Sukoco urun rembug bahwa Tuhan sudah menunjuk pengasuh terbaik kita dalam hidup di dunia, yaitu orang tua yang melahirkan kita. Maka guru utama kita adalah orang tua kita. Institusi pendidikan adalah bentuk peran lanjut keorangtuaan kita di dunia. Maka dipesantren dahulu, ada akad yang jelas antara orang tua yang menitipkan anaknya ke Kiai. Ini tidak berlanjut sampai sekarang, dimana akad pendidikan sekarang penuh dengan ancaman akan tarif pendidikan yang mahal. Sehingga tujuan pendidikan menjadi tidak tercapai karena akad diawal yang sudah batal.

Harianto mengambil cuplikan kisah Nabi Musa yang berperjalanan menuju ke majmaal bahrain, pertemuan dua lautan. Disitulah kemudian ikan mati yang dibawanya hidup kembali. Allah memberikan penjelasan melalui amsal ini, bahwa dibalik majmaal bahrain maka segala sesuatunya menjadi hidup. Majmaal bahrain dalam kehidupan kita sehari-hari bisa diartikan sebagai benturan hidup. Maka orang yang mengalami benturan hidup, bisa mencapai pikiran yang lebih hidup. Ada istilah lain, orang kepepet lebih kreatif menjalani hidup.

Toto Rahardjo menambahkan bahwa kata Maiyah dalam Al Quran tertulis sebanyak 162 kali. Ini menjelaskan bahwa kalimat ini begitu penting karena disambungkan dengan Allah, Rasul, orang beriman, dan lain-lain. Maiyah sendiri berarti kebersamaan. Dalam konteks lokal, Toto melihat bahwa fungsi kepengasuhan sesuai dengan watak orang Banyumas yang setia dan mengabdi kepada nilai luhur. Dalam istilah banyumasan terdapat kata, kebo cinancang dadung emas, adalah bentuk kesetiaan masyarakat Banyumas terhadap nilai.

Hadiwijaya menuturkan bahwa orang Banyumas kalau sudah dikat dengan sesuatu yang berharga maka akan menjai kekuatan, pamong untuk para ksatria atau pemimpin.

Rumangsa itu harus mengalami. Tidak bisa berfungsi hanya sebagai ilmu pengetahuan.”, ujar Toto. Dilanjutkan oleh Toto, bahwa Banyumas ini diidentikan bukan sebagai pembantu tapi sebagai pengasuh. Pengasuh itu adalah orang yang dibelakang layar. Menurut Toto, kepengasuhan lebih tinggi derajatnya dari para ksatria.

Hadiwijaya menjelaskan ungkapan tadi adalah pemberian dari Keraton Solo sebagai bentuk kepatuhannya terhadap penguasa kala itu. Ditambahkan dengan simbol daerah Banyumas yang terkenal yaitu tokoh wayang Bawor yang merupakan punakawan atau pamomong para kstaria Pandawa. Hadiwijaya menambahkan terjadinya polemik yang terjadi saat ini adalah ingin mengganti simbol Bawor menjadi Bima, karena beberapa kalangan merasa inferior terhadap dirinya. Tapi yang berkembang dimasyarakat kelas bawah, petani, buruh dan pedagang kecil, merasa Bawor lebih tepat karena hidupnya lebih merdeka.

Agus Sukoco menambahkan lagi perihal pendidikan, dimana pendidikan yang substantif adalah pengenalan dirinya. Dengan pengenalan dirinya maka orang bisa tepat menempatkan dirinya dalam kondisi masyarakat setelah itu baru bisa mengasuh orang lain untuk bisa menemukan diri mereka. Menurut Agus lagi, dalam wayang Bima juga dikisahkan sebagai kstaria yang selalu berusaha mengenal dirinya sendiri melalui lakon Bima Suci.

Hadiwijaya mengkisahkan bahwa kisah wayang yang diciptakan sebagai asal mula kehidupan berasal dari telur. Dimana disitu terdapat tiga bagian yang kemudian menjadi ismaya (semar), tejamaya (togog), dan juga manikmaya (betara guru). Yang dalam kisah wayang, mereka bertiga adalah seorang pemomong diwilayahnya masing-masing.

Rizky mengulang kembali bahwa yang terjadi sekarang ada desainer soialnya. Maka kita juga memerlukan sikap skeptis terhadap simbol, slogan dan lain sebagainya. Rizky berkaca pada Walisongo, Sunan Gunung Jati yang beliau adalah pengasuh sekaligus sebagai penguasa kerajaan.

Respon Diskusi

Ari dari Purwokerto meneceritakan pengalamannya berkeliling dunia sebagai pelaut, dimana dia banyak belajar bahasa bangsa lain. Ari menemukan tidak ada bangsa yang memiliki khasanah kekayaan seperti khasanah Jawa, dimana terdapat kata rumangsa, manunggaling kawulo gusti, tut wuri handayani. Ndaru dari Purwokerto menanggapi bahwa menurut dia yang cocok menjadi simbol orang Banyumas adalah tetap Bawor, karena kesederhanaan hidup Bawor yang sangat menginspirasi.

Harianto merespon dengan menceritakan kisah Habil Qabil dimana kedua anak Adam Hawa itu berebut istri yang cantik kemudian diselesaikan solusinya melalui persembahan yang terbaik kepada Tuhan. Dalam rangkaian ayat berikutnya dalam Al Maidah, Allah menuliskan tentang kebingungan kaum Musa selama berpuluh-puluh tahun. Yang pada akhirnya disuruh untuk kembali mengambil pelajaran dari kisah Habil Qabil ini. Maka ini menjadi amsal yang menarik, jika kita mengalami kebingungan, maka yang kita lakukan adalah persembahan yang terbaik kepada Allah dalam bentuk apapun. Maka Maiyah diharapkan menjadi pengorbanan atas diri kita ditengah kebingungan panjang bangsa Indonesia ini.

Rizky mnyampaikan bahwa salah satu cara mengukur limitasi adalah dengan percaya diri untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi, yang nanti kita akan mencapai garis mentok. Dan itu bisa kita artikan sebagai limitasi.

Agus Sukoco menganalogikan orang yang menggunakan teknolgi berbeda dengan penemu teknologi. Penemu teknologi dia menjalani hidupnya dalam ketakjuban atas teknologi apa yang dia capai dari dulu hingga kini. Tetapi pengguna teknologi biasa saja melihat perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepatnya. Ini bisa diluaskan menjadi manusia dalam kehidupan di dunia. Apakah kita menjadi pelaku kehidupan atau pengguna/korban kehidupan yang setiap harinya tidak melihat ketakjuban-ketakjuban atas kehidupan.

Faisal dari Purwokerto, menyampaikan bahwa ungkapan-ungkapan seperti kebo cinancang dasung, adoh ratu cerek watu adalah bentuk identifikasi penguasa terhadap orang Banyumas. Ini adalah sebuah mitologi yang menidentikkan masyarakat Banyumas oleh masyarakat dari luar Banyumas. Sama seperti bahasangapak, masyarakat kita sendiri tidak mengenal kata ngapak. Tapi orang luar Banyumaslah yang mempopulerkan kata bahasa ngapak di kalangan masyarakat luas. Karena kita sendiri hanya mengenal bahasa banyumasan.

Toto Rahardjo menjelaskan bahwa rumangsa bukan hanya kata, tapi juga sikap kepribadian kita. Ada dimensi yang luas yang mencakup dalam istilah rumangsa ini tadi. Lalu Toto menarik ke pembahasan dimana kalau Maiyah melakukan gerakan sosial apakah sama dengan gerakan sosial yang terjadi saat ini?

“Tentu beda, kalau Maiyah itu merumangsani ada Tuhan dibalik kita semua. Sedangkan gerakan sosial yang terjadi saat ini bersikap sekuler. Bahkan meniadakan Tuhan. Padahal Tuhan berada dalam hukum sebab akibat terhadap apa yang terjadi saat ini. Tapi selama ini kita hanya mengamini bahwa Tuhan hanya bekerja pada wilayah sebab.”, ujar Toto.

Sebuah nomor musik dari Ki Ageng Juguran dengan judul “Kehidupan yang Hilang” dibawakan apik secara akustik.

Alex dari Purwokerto mengambil kesimpulan bahwa rumangsa bisa menjadi motivasi diri agar kita berbuat sesuatu tapi juga pengerem diri karena tahu diri atas limitasi kita masing-masing. Arif dari Purwokerto menambahkan pengalamannya hidup didaerah wetan sebagai orang Banyumas asli. Dalam kesehariannya dahulu, dia merasa inferior terlebih atas bahasa banyumasan yang dia pakai.

Rizky percaya bahwa Bawor adalah Dewa yang menyamar menjadi pamong raja. Sehingga pada kenyataan setiap lakon wayang, Bawor tidak pernah kalah dalam berperang meskipun lawan terberat seperti apapun.

“Tapi yang harus digarisbawahi adalah, kita musti percaya pada kesejatian bawor, bukan percaya pada penyamarannya. Kalau kita percaya pada penyamarannya, maka kita menjadi inferior, rendah diri ditengah kondisi sosial saat ini.”, tambah Rizky.

Hadiwijaya menambahkan cerita sejarah dimana masyarakat Banyumas memiliki tokoh nasional seperti dr Angka dan dr Gumbreg yang sebenarnya berperan sama dengan dr Sutomo, tapi tidak muncul dalam sejarah. Hal ini dikarenakan mereka merasa inferior atas bahasa yang mereka gunakan sehari-hari.

Agus sukoco mematangkan diskusi dengan menjelaskan bahwa orang yng sudah matang hidupnya tidak memerlukan simbol untuk mengangkat dirinya. Simbol bawor atau apapun itu, diperlukan oleh masyarakat kelas bawah untuk menstigma dirinya, agar lebih percaya diri dalam menghadapi hidup.

Diskusi diakhiri pukul 2:45 diakhiri dengan salam-salaman dengan diiringi sholawat Hasbunallah dan Puji-pujian. [] RedJS