Reportase: AJI BALASEWU

JUGURAN SYAFAAT EDISI Oktober 2014 mengambil tema “Aji Balasewu”. Acara dimulai pukul 20.30 WIB dengan membaca Al Quran secara tartil terpimpin. Edisi kali ini membaca surat An Naml dipimpin oleh Kukuh.

Juguran Syafaat kali ini kedatangan tamu istimewa dari Yogyakarta. Mereka adalah Islamiyanto dan Imam Fatawi yang sudah kita kenal sebagai vokalis Kiai Kanjeng, garda depan Maiyah Nusantara. Islamiyanto dan Imam Fatawi ditugaskan khusus oleh Kadipiro untuk mengajarkan sholawat pada dulur-dulur di Juguran Syafaat. Mereka sudah hadir di Purwokerto sejak maghrib dan sempat transit sejenak di basecamp Juguran Syafaat.

Tepat pukul 21.00 WIB dulur-dulur mulai ramai berdatangan. Dulur-dulur yang datang berasal dari sekitaran Banyumas, Purwokerto, Purbalingga dan Cilacap. Kukuh dan Rizky memulai pembicaraan di depan dengan memperkenalkan Islamiyanto dan Imam Fatawi ke dulur-dulur yang datang. Kemudian obrolan ringan saling perkenalan antar yang hadirpun terjadi.

Hadir juga malam ini Fauziah, asal Sokaraja, Purwokerto. Beliau ini adalah TKW di Hongkong yang turut aktif di organisasi buruh migran disana, yang sedemikian sering menghadirkan Cak Nun, Mbak Via dan Kiai Kanjeng di Hongkong. Fauziah kemudian sharing pengalamannya berinteraksi dengan Maiyah melalui Cak Nun, Mbak Via dan Kiai Kanjeng.

“Cak Nun ke Hongkong itu bukan sekedar untuk mengasih tausiyah, tapi kita semua itu sebagai anak-anaknya. Jadi Cak Nun kesana itu ibaratnya mengunjungi anak-anaknya. Sampai sekarang, kami sudah menyelenggarakan pertemuan dengan Cak Nun di Hongkong sebanyak 11 kali.”, tutur Fauziah.

“Alhamdulillah banget, banyak masukan dan banyak belajar, tentang bagaimana mengelola hasil dari Hongkong. Terutama cara kita menghadapi orang yang disana ataupun bekal yang dari luar untuk di Indonesia.”, tambah Fauziah.

“Yang membahagiakan adalah kemarin ketika kami kedatangan Cak Nun beserta keluarganya dan juga Mas Zainul dan Mas Imam Fatawi. Cak Nun sampai cucunyapun naik ke panggung. Cak Nun tidak terlalu istimewa sekali untuk dijadikan tamu, sudah seperti orang tua sendiri. Dimana pun tempat anak disitulah tempat saya, ibaratnya begitu. Nggak kesusahan untuk mencari tempat tinggal untuk Bapak dan keluarganya. Semua orangnya biasa saja.”, ujar Fauziah.

Kusworo kemudian mengambil peranannya untuk menjadi moderator malam hari ini. Kusworo mengawali dengan kembali bersama-sama menemukan rasa syukur karena bisa berkumpul disini, di sisi lain banyak orang yang malam ini sedang menggunakan waktunya untuk hal-hal yang sangat tidak bermanfaat. Kusworo menambahkan, di dalam Maiyah kita sedang berjuang untuk merdeka dari hal-hal yang mainstream saat ini. Di Maiyah kita sedang belajar terus untuk bisa membedakan mana yang primer mana yang sekunder, mana yang ornamen mana yang intinya, mana yang sejati mana palsu. Kusworo membuka cerita tentang Cak Nun yang saat ini sedang menemani Timnas U-19 bertanding di Myanmar.

“Kondisi menang kalah itukan ndak bisa dimasukkan kedalam ruang sempit skor akhir dua babak itu, bahwa kesimpulan menang kalah itu kan dimensinya sangat luas. Pengertiannya bisa kita gali sangat dalam. Menurut Indra Sjafrie, U19 itu memiliki kemandiriannya sendiri, dari gaya bermain dia tidak berkiblat pada Eropa maupun Amerika. Jadi benar-benar sedang menggali jatidiri bangsa. Peristiwa sepakbola yang sedang U19 jalani, bukan semata-mata melatih skill sepakbola tetapi perjalanan menemukan jatidiri. Ini adalah momentum kebangkitan Nusantara.”, ujar Kusworo.

Kusworo kemudian mempersilakan Imam Fatawi untuk berbicara di depan. Imam Fatawi berujar canda bahwa dia lebih memilih menyanyi 27 kali daripada berbicara di depan panggung seperti ini.

“Ini adalah liqoun adzim, pertemuan yang agung. Pertemuan yang agung itu bisa dimana saja, bisa berbentuk apa saja, berapapun jumlah orangnya. Semua karena ada landasan moral didalamnya, ada nilai-nilai yang abadi didalamnya. Berbeda dengan pertemuan yang punya ambisi duniawi, itu menjadi pertemuan yang biasa saja.”, kata Imam Fatawi.

Imam Fatawi berbagi tentang sebuah kemustahilan hidup tanpa seni. Tidak ada aspek dalam hidup yang tidak terdapat seni didalamnya. Sejak kita kecil kita sudah dinyanyikan lagu-lagu penghibur oleh orang tua kita. Imam menambahkan ceritanya bahwa dia tidak bisa bermain alat musik, hanya bisa bernyanyi.

Rizky mengulang kembali arti kata Juguran Syafaat kepada para dulur-dulur yang hadir. Juguran itu sama artinya dengan kalau di Sunda namanya Ngariung, kalau di Surabaya namanya Cangkrukan, kalau di Betawi namanya Kongkow. Yaitu ngobrol santai yang mempunyai 3 syarat budaya, yaitu dilakukan diluar ruangan, ada ketersambungan hati satu sama lain, dan hadirnya kebahagiaan. Syafaat sendiri berarti kita melingkar disini tidak ada sangkutan lain kecuali kita sedang gondelan syafaat kanjeng Nabi Muhammad.

“Kalau pada malam hari ini saya mengartikan Maiyah ini sebagai kita ini membuka harta karun. Kalau diluar sana, di facebook, kita sering melihat orang mengumpat, mencaci maki, DPR kok begitu, Presiden kok begitu, Organisasi ini kok begitu, semua cacian di facebook ramai sekali. Tapi saya rasa itu tidak akan ada selesainya, kita harus luaskan lagi kalau kita masih mengumpat dan mencaci maki urusan yang ada di Indonesia saat ini. Karena memang DPR ya seperti itu, Presiden memang begitu. Jadi kita sudah berpikir, memang itu itu semua yang kita saksikan bukan harta karun, yang harta karun sesungguhnya yang ada di Maiyah ini. Lebih baik kita fokus ke dalam, yang benar-benar memang harta karun. Malam hari ini kita membahas salah satu tema yang menjadi harta karun Maiyah kita yaitu ‘Aji Balasewu’. ”, ujar Rizky.

Workshop Sholawat Maiyah

Rizky kemudian mempersilakan Islamiyanto untuk memandu sholawat dulur-dulur Juguran Syafaat. Islamiyanto mengawalinya dengan memandu dulur-dulur membaca doa pendek, Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq,An Nas dan Ayat Kursi bersama-sama.Islamiyanto melanjutkan dengan sholawat “Alfu Salam” bersama-sama. Suasana khusyuk terasa di forum ini. Dulur-dulur Juguran Syafaat sangat merindukan bisa bersholawat bersama dengan Kiai Kanjeng. Setelah bersholawat bersama, Islamiyanto memberikan sedikit penjelasan kepada para sedulur.

“Kenapa kita mau minum jamu, padahal pait? Karena menyehatkan badan. Kadang-kadang sesuatu yang Allah sendiri perintahkan kepada kita, itu pahit dan malas untuk dijalani.Mudah-mudahan keikhlasan yang anda lakukan malam hari ini membuahkan sesuatu yang di akhir-akhir kehidupan kita membawakan kegembiraan untuk anak cucu-cucu kita semua. “, ujar Islamiyanto.

Islamiyanto bercerita tentang analogi proses membuat santan kelapa. Santan kelapa dibuat dari buah kelapa, yang pada saat pemetikannya saja sudah dilukai berkali-kali, dibanting, dibacok clurit, dilempat, dislumbat, diplatok, diparut, sampai diperas hingga menjadi santan kelapa. Dan ketika dimasak menjadi kuah kolak dicampur dengan pisang, maka yang tercipta adalah ‘kolak pisang’. Bukan disebut sebagai ‘kolak santan’. Tetapi kolak pisang tanpa santan kelapa, bukanlah kolak pisang. Ilmu ikhlas adalah orang yang sangat dibutuhkan orang banyak tetapi tidak butuh disebut-sebut.

Imam Fatawi bercerita tentang pengalamannya bernyanyi sejak kecil. Beliau mengikuti lomba-lomba menyanyi dari SMP hingga kuliah. Dan tembang-tembang yang dibawakan selalu lagu dangdut karya Rhoma Irama. Imam Fatawi bercerita bahwa dia adalah satu-satunya anggota Kiai Kanjeng yang masuk ke Kiai Kanjeng dengan melamar melalui surat pos.

Islamiyanto dan Imam Fatawi memandu dulur-dulur bersenandung “Hasbunallah” bersama-sama diiringi musik dari Endro Purbalingga. Setelah “Hasbunallah”, Islamiyanto dan Imam Fatawi memberikan materi sholawat Maiyah. Mereka mengajarkan nada-nada dasar sholawat serta lirik-liriknya. Ada lima sholawat yang diarahkan, yaitu “Shali Wa Shalimda”, “Alfu Salam”, “Ya Allah Ya Adzim”, “Sidnan Nabi”, dan “Ya Imamar Rusli”. Dulur-dulur tampak antusias dan semangat mengikuti arahan dari Islamiyanto dan Imam Fatawi.

“Hidayah itu adalah hadiah. Seseorang yang diberi hadiah/ hidayah tentu harus mempunya alasan yang kuat, mengapa dirinya diberi hidayah. Ada empat hidayah yang dirasakan oleh manusia. Yaitu hidayah naluri, hidayah panca indera, hidayah akal, dan hidayah agama.”, ujar Islamiyanto.

“Coba kita tanya pada diri kita, apakah agama yang kita anut adalah murni dari naluri yang Allah beri hidayah kepada kita, atau agama yang kita rasuk adalah peninggalan dari ayah dan ibu kita. Perjalanan yang kita tempuh ini perjalanan hakikat, bukan syariat. Ini makrifatullah luar biasa. Anda dimalam hari ini adalah mencari kesejatian dan hidayah agamaNya Allah. Makanya anda bersyukur sama Allah. Mudah-mudahan dengan bekal ini hidayah agama Allah selalu dipancarkan dalam hidup kita. Ini yang menjadi hakikat keagamaan yang luar biasa.”, jelas Islamiyanto.

Imam Fatawi menghangatkan suasana dengan dua nomor dangdut berjudul “Istri Sholeha” dan “Keramat”.Endro dan Toto dari dulur Purbalingga mempersembahkan lagu “Untuk Simbah Guru” dan “Tahta Cinta”. Lagu ini sedang diramu menjadi mini album yang merupakan sebuah respon atas nilai Maiyah dalam bentuk musik.

Jimat Masa Kemasa

Azis menambahkan penjelasan kepada dulur-dulur tentang jimat modern. Azis berpendapat bahwa jimat pada dasarnya adalah sesuatu yang membuat orang menjadi percaya diri. Jika jaman dahulu berbentuk keris, cincin dan sebagainya, bisa jadi jaman sekarangpun masih hanya berbeda bentuknya. Bisa jadi berbentuk handphone, motor, mobil, dan lain sebagainya. Cara mendapatkannyapun sama-sama dengan tirakat. Jaman dahulu orang berpuasa, semedi, jaman sekarang orang menabung dan bekerja keras.

Titut Edi menceritakan pengalamannya ngaji ke Kiai di Banyumas yang memberikan jimat kepada maling agar terus selamat. Padahal jimat itu hanyalah kotoran kambing, tapi maling itu begitu yakin itu sangat ampuh dalam menjalankan kerjanya. Kunci utama dalam jimat adalah keyakinan diri sendiri. Titut Edi mempersembahkan juga lagu humor karya sendiri berjudul “Silit Kebo”. Tampak dulur-dulur terhibur atas sajian orisinil dari Titut Edi ini.

Rizky kemudian mempersilakan Agus Sukoco untuk ikut sambung urun perspektif.

“Tugas kita itu salah satunya adalah untuk meminimalisir fitnah kepada lelehur. Yang apa-apa yang sudah sudah dianggap cenderung berbau jawa itu dianggap sirik, bidah. Aji Balasewu pasti dianggap bidah, kejawen, bukan Islam. Benturan ini yang kita minimalisir melalui kerja-kerja Juguran Syafaat.”, buka Agus.

“Aji Balasewu itu satu cara berfikir leluhur kita sedemikian rupa sehingga menemukan kata Aji Balasewu. Ini kalimat tauhid yang luar biasa. Analoginya begini, kalau saya melihat istri saya, dari pagi sudah nyapu, ngepel, nganter anak ke sekolah, terus sampai malam masih nyeterika, terus saya lihat istri saya sudah agak kunang-kunang matanya, kecapean. Sebagai suami saya pasti berfikiran ‘kalau saya kaya, pasti akan saya bayar pembantu 3 untuk membantunya’. Bahwa sampai hari ini saya belum bisa memberikan pembantu ke istri saya bukan karen saya tidak mempunyai empati dan belas kasihan atas kerja keras istri saya, tapi memang keterbatasan ekonomi saja. Nah sekarang kita bayangkan, kalau kita di bumi ini bekerja untuk menegakkan nilai Allah, melakukan kebaikan-kebaikan sampai capek kita, sampai sempoyongan. Tuhan pasti akan berinisiatif sama seperti saya melihat istri saya. Nah kalau saya terbentur kemampuan ekonomi, kalau Tuhan tidak terbentur itu. Tuhan punya sangat banyak prajurit yang disebut malaikat, nanti Tuhan kirim malaikat.”, jelas Agus.

“Kita harus sepakati dulu mau ada atheis atau mau ada Tuhan dalam hidup kita.Jika atheis, kita menganggap apa yang terjadi, kejutan-kejutan dalam hidup itu murni bukan Tuhan yang bikin. Tapi jika berfikir tauhid, maka tidak ada yang lain selain skenario Tuhan.”, tambah Agus.

“Bagi orang yang bekerja dalam hidupnya mengabdi pada Tuhan sampai capek, saya yakin Tuhan akan berinisiatif sebagaimana saya melihat istri saya. Saya kasih pembantu dia. Persoalannya apa, kenapa saya berinisiatif mau memberikan dia pembantu, karena dia istri saya. Ada hubungan yang jelas karena dia istri saya. Tapi begitu saya jalan-jalan, saya melihat ada wanita lain bekerja dan kecapekan, maka saya hanya membatin ‘rajin sekali dia’. Nah sekarang, kita apanya Tuhan, Tuhan apanya kita. Harus ada hubungan personal. Mari kita bangun hubungan yang jelas, hubungan personal dengan Tuhan, sehingga sejelas saya dengan istri saya. Sehingga Tuhan akan tidak tega melihat kita kecapekan didalam bekerja memenuhi nafkah keluarga, menegakkan nilai-nilai seperti ini”, tambah Agus.

“Jadi saya yakin saya selalu menata niat saya, bahwa saya kesini saya bekerja. Saya makin ngantuk, besok saya harus ngapa-ngapain dan dilapangan, saya makin bangga bahwa Gusti Allah akan seger kirim pembantu. Kalau kita masih seger-seger saja, pasti Tuhan tidak inisiatif untuk memberi pembantu. Sampai pingsan sekalian kita, maka Tuhan menjadi tidak tega dan segera mengirim pembantu sambil kita terus menerus memperbaharui, mempertegas status hubungan kita dengan Tuhan”, kata Agus.

“Konsep pinjaman dalam ber-Tuhan itu mempunyai analogi seperti ini, saya mindah gelas, saya bisa mindah gelas atau saya dibisakan mindah gelas oleh Tuhan. Saya diberi wewenang untuk mindah gelas, kalau saya tidak diberi wewenang pada saya, saya tidak bisa mindah gelas, sehingga mindah gelas bagi saya bukan dalam konsep susah atau gampang. Susah atau gampang itu jika kita yang melakukan. Wong itu cuma wewenang dari Tuhan kok. Kalo saya tidak diberi wewenang saya tidak bisa memindah gelas. Mindah gunungpun kalau kita diberi wewenang bisa. Mindah gunung dan mindah gelas, bagi saya bukan susah atau gampang. Karena itu urusan kita diberi wewenang atau tidak. Sebagaimana kita ngomong pak bupati bisa mengumpulkan ketua desa sekabupaten, itu memang dia memiliki wewenang. Bukan sebuah kehebatan. Jadi ini urusan pinjaman kewenangan dari Tuhan, sama dengan saya mindah gelas, karena saya diberi kewenangan dari Tuhan, saya mindah gunung suatu saat, kalau momentumnya pas mindah gunung ya Tuhan bisa kasih wewenang. Ini urusannya ada Tuhan dalam hidup kita. Sebagaimana nabi Musa pada konteks itu, tugasnya memang pas beliau diberi wewenang untuk membelah laut, tapi pada detik kesekian mbelah sungai saja tidak bisa kalau Allah tidak memberi wewenang.”, jelas Agus Sukoco.

“kalau Allah memberikan kewenangan, tidak usah melihat yang hebat-hebat seperti suara emas seperti mas Imam, kewenangan mindah gelas saja itu sudah istimewa. Kita diberi kewenangan bisa melihat itu kan sebuah kemuliaan. Tuhan memuliakan kita sehingga kita diberi kewenangan. Kemuliaan itu karomah. Jadi karomah jangan kemudian dianggap yang mengubah pohon jadi emas dan lain sebagainya, sekedar memindah gelas saja itu kita harus bersyukur bahwa itu karomah dari Tuhan. Jadi kita selama ini dapat karomah tapi kita tidak pernah bersyukur. Kalau karomah memindah gelas saja kita masih belum menyadarinya sebagai karomah, jangan pernah berharap kita akan diberi karomah-karomah lain pada level-level yang lebih tinggi.”, tambah Agus Sukoco.

Sambil membuat santai suasana, dulur-dulur memperdengarkan bersama satu nomor berjudul “Kesetiaan” karya dulur Purbalingga. Nomor lagu ini bercorak melayu, dinyanyikan secara merdu oleh Endro.

Islamiyanto menambahkan kalau kita mau mendapatkan jimat yang sejati, kita harus menyawijikan raga, rasa, dan daya menuju ke Ilallah. Islamiyanto juga bercerita tentang riwayat sahabat nabi yang begitu yakin akan kenabian Rasulullah. Satu syiir tentang “Ahli Kubur” disenandungkan oleh Islamiyanto. Selain itu juga dijelaskan tafsirnya mengenai anak yang rajin membaca Quran, maka orang tua yang sudah meninggal terasa lapangdalam kuburan.

Imam Fatawi menceritakan tentang proses pulangnya ayahanda dari Imam Fatawi ke rahmatullah yang begitu indah skenarionya. Dimana seluruh keluarga berkumpul setelah lebaran, sudah bermaaf-maafan, sempat berpamitan dengan seluruh keluarga dan tetangga-tentangga, tanpa ada yang sadar akan segera ditinggalkan. Bagi Imam ini adalah sebuah misteri Tuhan, bentuk keisengan Tuhan yang sangat serius. Imam menyambungkan dengan mengajak dulur-dulur menyanyikan puji-pujian bersama. Puji-pujian ini dikenalkan oleh ayahanda dari Imam Fatawi sewaktu Imam Fatawi masih kecil.

Acara dipuncaki dengan Indal Qiyam bersama dipandu oleh Islamiyanto. Dulur-dulur mengamini doa yang dilantunkan oleh Rifangi. Kemudian acara ditutup dengan bersalaman bersama seluruh yang hadir. [] RedJS