Mukadimah: Peradaban Bunuh Diri

Kalau kita berjalan-jalan di mall, mudah sekali kita jumpai pepohonan. Sayangnya, walau pepohonan rimbun, tetap saja pemilik mall wajib menyediakan Air Conditioner (AC) untuk pendingin. Kenapa begitu? Bukankah harusnya mall sudah sejuk oleh pepohonan. Tapi mau sejuk bagaimana kalau pepohonan itu tidak bisa mengeluarkan oksigen, karena pepohonan itu tidak lebih dari pepohonan plastik.

Itulah kenapa Puncak, Lembang, Tawangmangu hingga Baturraden yang semakin crowded tapi tetap ramai. Karena bercengkerama dengan alam tetaplah menyejukkan badan bukan hanya menyenangkan pandangan. Alam memberikan semua itu dengan tulus, tidak dalam rangka agar ia semakin ramai dikunjungi.

Zaman kini begitu disibukkan dengan orang-orang yang berjualan. Dengan harapan meningkatkan jumlah penjualan, segala teknik dilakukan, teknik mempermak penampilanpun jadi kebanggaan, jadilah pohon plastik yang sedap dipandang tapi tidak memberikan efek kesejukan apa-apa. Boro-boro sampai memberi efek kesehatan dengan pertukaran oksigen dan karbondioksida manusia-pepohonan.

Dan manusia merasa baik-baik saja dengan pelayanan ‘setengah bohongan’ seperti itu. Maka, kitapun menjadi terbiasa dengan hal-hal yang ‘setengah bohongan’ lainnya. Meja kayu, tapi bukan dari kayu, Cuma dari serbuk gergaji yang dipress atau disebut MDF (Medium Density Fibberboard). Laris manis furniture model begitu.

Berbeda dengan arsitektur zaman dulu. Memilih kayupun tidak sembarang kayu. Kayu untuk dinding, untuk meja, untuk tiang, untuk atap, untuk ruang tamu, untuk kamar tidur berbeda. Bukan penampilan saja yang mereka pikirkan, tingkat kekuatan, ketahanan terhadap gempa, usia bangunan, energy yang dipendarkan jenis kayu yang dipilih terhadap makhluk hidup disekelilingnya, semua menjadi faktor pertimbangan yang menyeluruh.

Kita mudah sekali berkompromi dengan zaman, sehingga berat sekali rasanya untuk mempertahankan gaya hidup manusia zaman dulu yang dengan enteng kita sebut sebagai manusia tradisional, ndeso atau sederet ejekan lainnya. Namun, tidak bisa dipungkiri, mereka mempunyai kemampuan berpikir menyeluruh dalam menjalani kehidupannya, tidak berpikir parsial. Parsial hanya memikirkan teknik menambah omzet dagangan, parsial hanya memikirkan cantiknya penampilan.

Karena berpikirnya parsial alias sebagian-sebagian, maka menjadi mudah dikelabuhilah kita. Kalau ada orang menyebut itu Pesta, Pesta Demokrasi misalnya, maka kita mengangguk saja, tidak mengkajinya apakah itu perhelatan benar-benar pesta, atau jangan-jangan bukan pesta. Kalau pesta, yang pesta seluruh rakyat, atau segelintir tertentu saja. Apa malah bukan pesta tapi bencana, karena beberapa bulan setelah itu bermunculan deretan nama baru masuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ).

Orang yang mudah dikelabuhi adalah produk dari zaman yang memendekkan sumbu di otaknya yang berguna untuk mengkaji dan menganalisis. Yang dilihat hanya penampilan, bukan substansi. Terbius reaksi fisik, bukan gejala ruhani. Terpana artist, bukan penulis scenario.

Gunung meletus dianggapnya pasti bencana. Bencana dianggapnya pasti teguran. Jangan-jangan yang kita anggap bencana, bukan benar-benar bencana. Bisajadi malah itu pesta. Pesta kesuburan, pesta kesigapan atau mungkin pesta ukhuwah. Bisajadi…

Akhirnya, berpanjang-panjanglah mengkaji, dalam-dalamlah menggali, berpikir menyeluruh, secara siklikal. Bunuh diri bukan hanya ketika kita menusukkan pisau ke ulu hati. Menggunting sumbu berpikir di dalam akal sehat kita, sehingga menjadi tidak bisa berpikir melingkar, tidak bisa dalam menggali, tidak bisa panjang mengkaji, itu malah bisa jadi bunuh diri yang lebih mengerikan. [] Rizky/RedJS