Mukadimah: Jimat Alam Semesta

Tanpa bekal penguasaan bahasa yang baik, bisajadi orang yang membaca judul dari tulisan ini langsung men-cap tulisan ini sebagai tulisan sesat. Sesat karena terdapat kata ‘jimat’. Kenapa jimat sesat? Sesat karena jimat identik para dukun dan dukun sesat karena ada dalil yang menyebutkan kesesatan pergi kedukun.

Kata, yang menjadi satu unsure dalam bahasa TIDAK bisa dipahami sebagai satu padatan dengan satu makna yang mutlak. Dalam pelajaranb ahasa Indonesia kita mengenal kalimat denotasi, konotasi. Kalimat deskriptif, kalimat majasi. Nah, dengan penguasaan pola sederhana ini saja, kita sudah cukup punya bekal untuk menghakimi sesuatu kata tertentu mengandung kesesatan atau tidak dengan kesediaan untuk membaca lebih jauh.

‘Tumakninah’ dalam menerima memproses setiap kata dan informasi yang kita dapatkan adalah hal penting agar kita tidak mudah terjebak dalam provokasi. Dalam soal pemberitaan mengenai aktivitas gunung Slamet ini misalnya, ketidakmampuan kita bertumakninah justru bisa berpotensi melahirkan ‘bencana sebelum bencana’. Bentuk tidak tumakninahnya kita diantaranya adalah dengan menyebar berita atau foto yang kita dapat di sosial media yang itu belum terbukti kebenarannya. Kalau berita dan foto itu sesat, HOAX, maka yang ada malah menciptakan keresahan dan kepanikan warga. Keresahan dan kepanikan inilah yang disebut bencana sebelum bencana.

Lalu bagaimana bentuk tumakninah dalam menerima informasi, diantaranya adalah dengan melakukan crosscheck terlebih dahulu setiap menerima perkembangan berita sebelum menyebarkannya. Ada nomor layananan masyarakat dari Posko pengamatan Gunung Slamet dan akun-akun yang bisadipertanggungjawabkan informasinya seperti Twitter @JalinSlamet misalnya, yang bisa digunakan untuk melakukan crosschecki nformasi. Dengank emampuan sederhana ini, makakita akan terhindar dari jebakan kata dan informasi.

Kembali ke persoalan jimat, dalam Basa Jawa, jimat mempunyai kerata basa: barang siji sing kudu dirumat. Kalau Anda bayangkan jimat itu sebuah keris, makakeris itu diletakkan di tempat yang amat spesial, ditaruh di atas kotak, kotaknya di atas meja, mejanya diberi kotak kaca, di luar kotak kaca diberi line pembatas, disimpan di dalam bangunan yang terlindungi.

Keris di dalam bangunan itu bias menjadi gambaran peta kontekstual manusia dan alam semesta. Dimanamanusiaada di alam semestaseperti jimat keris yang tersimpan di dalam bangunan itu. Kalau ditanya, mana yang primer dan mana yang sekunder antara keris dan bangunan? Maka jawabnnya, keris itu primer, bangunan itu sekunder.

Lalu, kalau di tanya, mana yang primer dan mana yang sekunder antara manusia dan alam semesta? Manusia untuk alam semesta, atau alam semesta untuk manusia? Maka sepertihalnya bangunan digunakan untuk melindungi keris, seperti itu pula alam semesta digunakan untuk melindungi dan melayani manusia. Sehingga jawabannya, yang primer manusia dan yang sekunder alam semesta.

Akan tetapi, kenapa ketika ada goncangan bumi berupa gempa dan gunung yang meletus para ustadz dalam mimbar-mimbar ceramah mengatakan “Alam sedang menghukum kita!”.Bagaimana ini kok menjadi inkonsisten, yang sekunder menjadi subyek pelaku dan yang primer malah menjadi obyek penderita?

Jimat adalah sesuatu yang dimuliakan, atau dalam Basa Jawa disebut diajeni. Oleh karenanya, iimat bisadisinonimkan dengan ajian, aji-aji atau sesuatu yang diajeni. Manusia memposisikan diri di alam semesta seperti keris di dalam bangunan tadi. Buktinya adalah manusia getol mengupayakan dirinya untuk menjadi aji-aji itu. Karenanyalah dalam kebudayaan manusia ada forum yang diselenggarakan rutin oleh kelompok-kelompok diantara mereka yang disebut pengajian. Pengajian berasal dari kata aji dengan awalan “pe-“ dan akhiran “-an”. Maka pengajian bias saja diartikan upaya untuk mempunyai secara built in atau menjadi aji-aji, sehingga ia diajeni sebagaimana aji-aji atau jimat.

Tapi apa yang terjadi dengan pengajian-pengajian yang marak saat ini. Apakah orang dengan semakinsering ikut pengajian-pengajian itu mereka menjadi semakin aji? Semakin memiliki ajian untuk menghadapi gerusan zaman? Menjadi semakin diajeni karena potensi keilahiahannya? Jangan-jangan malah yang terjadi sebaliknya. Maka wajar yang terjadi adalah manusia kehilangan kecerdasan untuk memposisikan diri secara tepat di alam ini. [] Rizky/RedJS