Mukadimah: INSTAL ULANG

Seseorang berusia 36 tahun dihinggapi rasa cemas yang teramat sangat menyaksikan kondisi masyarakat pada masa itu. Pelanggaran akan tata nilai kemanusiaan, akibat syahwat kapitalisme segelintir orang menjadi penyebab semua itu. Hampir-hampir tidak terpikir solusi untuk mengubah keadaan.

Karena tidak mampu mendapati solusi, maka seorang berumur 36 tahun itu memilih nepen, menepi untuk berdiam diri di dalam gua di ketinggian bukit. Sang istri setiap hari dengan cintanya mendaki dan menuruni bukit mengiriminya bekal makanan.

Sampai empat tahun kegiatan itu dilakukan, sampai secercah ilham nan sempurna itu turun di dalam keheningan gua. Kemudian umat manusia mengenal ilham nan sempurna itu sebagai wahyu setelah di-warangka-i di dalam lafadz “Iqra Bismirobbikalladzi khalaq.”

***

Secara kualitatif, bolehlah kita mengkhuznudoni maiyahan yang kita lakukan ini sebagai bentuk lain dari semedi/uzlah Sang Nabi, manusia berusia 36 tahun itu yang resah tak mendapati solusi rasional atas keadaan masyarakat saat itu.

Dalam konteks kondisi masyarakat saat ini, sudah tidak dapat dinafikan bahwasanya tidak ada cara rasional yang bisa ditempuh, kalaupun ada membutuhkan waktu ratusan tahun untuk mengerjakan persoalan masyarakat yang sudah begitu kronis saat ini. Kesimpulan ini bukan untuk kita migrasi dari bumi ke langit. Karena kita tidak sedang putus asa.

Ilmu seluruh manusia dari Nabi Adam hingga akhir zaman, apabila dikumpulkan tak lebih hanya setetes air, dibandingkan ilmu Allah yang seluas samudera. Yang disebut cara yang rasional tidak lain adalah yang setetes air diantara samudera itu, ya, hanya setetes air. Bentuknya mungkin berupa protokol kebangsaan, perangkat sistem politik, formula social security,tapi mau serumit dan sehebat apapun itu, tetaplah itu hanya setetes air dari setakaran samudera.

Maka ketiadaan cara rasional itu, tidak bisa menjadi pembenaran untuk putus asa, karena kehabisan cara untuk mengubah kondisi bangsa saat ini. Masih ada sesamudera ilmu yang bisa kita jamah. Masih ada sesamudera kemungkinan, yang bisa kita tempuh.

Proses Muhammad Sang Nabi memilih memulai menepi untuk berdiam diri, adalah pintu ia mengakses kemungkinan yang bersumber dari samudera ilmu Allah di luar yang setetes itu.

Dengan dialektikanya, Allahpun turun tangan merespons akses yang diupayakan oleh Sang Nabi. Allah turun tangan bukan dengan mengirim sepaket protokol sistem ketatanegaraan jenis apapun, Dia turun tangan untuk urusan yang terlalu sederhana bagi para pengamat politik : “Bacalah, dengan Nama Tuhanmu Yang Menciptakan”.

Tolak ukur apa yang bisa melegitimasi bahwa wahyu Iqro itu adalah benar-benar dari Allah dan benar-benar merupakan solusi atas permasalahan bangsa pada masa itu? Entahlah, tidak tahu kita. Pengajian manapun tidak pernah mengupas hal ini.

Namun nyatanya, kalau bukan karena bertumpuknya literatur yang tersaji saat ini, tentu kita akan sulit sekali menkhuznudzoni proses yang demikian panjang, mulai dari dakwah sembunyi-sembunyi, dakwah terang-terangan, hijrah hingga membangun peradaban baru itu berawal dari turunnya wahyu sederhana itu yang didahului dengan proses berdiam diri semacam semedhi di dalam gua bertahun-tahun.

***

Mari kita mencoba memetik pelajaran dari peristiwa agung di atas, jika diimplementasikan pada situasi saat ini. Menyaksikan bagaimana LSM-LSM penggerak perubahan tergadai oleh uang donor, menyaksikan inovator dan inventor dibunuh karakternya bahkan direnggut nyawanya demi penguasa bumi bernama “The Invisible Hands” saat ini. Karena betul memang, mengubah Indonesia bukan hanya mengubah sebuah bangsa, tetapi mengubah Indonesia berarti mengubah tatanan dunia.

Maka kita tidak sedang terburu-buru mendirikan Negara Madinah, karena sepertinya fase kita saat ini barulah fase pra-hijrah. Atau bahkan masih fase dakwah sembunyi-sembunyi. Malahan mungkin sekarang barulah fasenya naik-turun gua Hiro.

Persoalannya adalah, okelah kita mengakui bahwa fase kita saat ini masih di fase naik-turun gua hiro, mengakses potensialitas Allah menurunkan segayung samudera Ilmunya berharap itu bisa menjadi solusi persoalan kita. Namun, jika benar begitu, butuh berapa puluh tahun lagi untuk mengubah tatanan bangsa ini? Apakah kita mampu melewati waktu yang demikian lama hingga puluhan bahkan ratusan tahun? Kondisi darurat sosial kefakiran, konflik buruh migran, keputus-asaan yang berujung bunuh diri dan bencana-bencana kemanusiaan apakah harus kita biarkan terus memakan korban?

Lalu adakah yang bisa dijadikan penanda sebetulnya kita sedang di fase mana dalam konteks proses perubahan Indonesia saat ini, kemudian tingkat keberhasilan di fase kita saat ini bagaimana mengukurnya, lalu mungkinkah kita melakukan percepatan fase, dan seterusnya. Hal itu masih menjadi bahan diskusi kita bersama.

Akan tetapi tidak usah berbicara percepatan dulu lah, memastikan bahwasanya kita bermaiyah itu sudah benar adanya atau belum saja belum tahu kok. Apakah kita bermaiyah dalam rangka kesetiaan kita menjalani fase demi fase ini, atau jangan-jangan bukan dalam rangka itu.

***

Yang juga musti kita sadari, kita menginstal operating system bernama Indonesia itu kan CD installernya pinjam, makanya dari trias politika sampai KUHP-nya agak-agak kurang kompatibel. Maka instal ulang adalah solusinya.

Sayangnya, CD instal ulang yang kompatibel dengan bangsa ini sudah lenyap sepeninggal Kalijaga Sang Sunan dengan konspesi Nusantaranya. Karena CD instal ulang yang kompatibel tidak tersedia, maka satu-satunya jalan adalah kita harus mengoprek sendiri, membuat rekayasa registry, mencerdasi command prompt. Yang kesemuanya itu baru bisa kita kerjakan kalau kita sudah belajar “bahasa pemrograman”.

Dan inilah yang dilakukan oleh “The Invisible Hands”, mereka menyandera “bahasa”. Kata Belajar disandera oleh sekolah, kata kemakmuran disandera oleh Bank, kata kesehatan disandera oleh rumah sakit, kata kesejahteraan disandera oleh perusahaan otomotif, kata kemajuan disandera oleh mall.

Istilah “mbangun desa” diartikan dengan semua jalan di desa-desa dipaving block, pohon-pohon ditebangi. Makna “memajukan negara” dianggap memampukan diri berfoya-foya seperti Singapura dengan gaji rakyatnya 12juta perbulan. Inilah saatnya kita melepaskan pembajakan kata, istilah dan kalimat, sehingga kita menangkap arti, makna dan nuansa yang bebas, merdeka dan memberdayakan.

Maka bolehlah kita menerka-nerka, bahwa di fase gua hiro saat ini kita disuruh intens mempelajari “bahasa pemrograman”, mencerdasi kata yang tersandera, mencerdasi istilah yang termanipulasi, mencerdasi kalimat yang tergadai.

Maka, kita nanti akan tiba pada saatnya lulus dari fase ini, ketika kita membaca kata, istilah, kalimat bukan dengan motif memperkaya diri, bukan dengan motif memuaskan syahwat kerakusan, bukan dengan motif mengejar kenyamanan diri sendiri, bukan dengan motif ikut-ikutan belaka, bukan dengan bius dan buaian propaganda zaman, bukan dengan bujuk rayu konspirasi global, tapi dengan Nama Tuhan Yang Menciptakan. [] Rizky/RedJS