Wajib Belajar Seumur Hidup

Orang yang lahir di zaman dimana sekolah dibangun dengan konsep yang kita kenal saat ini, maka ia tidak bisa mendapati saintifiknya pesan bijak “Tuntutlah ilmu dari lahir hingga liang lahat”. Menuntut ilmu atau belajar itu ya sekolah, di luar sekolah adalah bermain dan ekstrakurikuler.

Belajar di sekolah sebagai proses diklat wajib, yang kalau seseorang tidak menempuhnya dengan baik maka dia tidak akan memiliki masa depan yang cerah. Sebut saja Tasripin, seorang anak desa yang mendapat perhatian khusus dari Presiden Republik Indonesia karena nasibnya dianggap malang. Malang karena tanggung jawabnya menghidupi adik-adiknya yang masih kecil ia tidak berkesempatan untuk belajar di sekolah dan menikmati masa kecil sebagaimana anak-anak lainnya.

Pertanyaannya, apakah yang menjadi alasan belajar di sekolah itu dipandang sebagai belajar yang hakiki sehingga tidak mampu mengakses sekolah disebut kemalangan? Nyatanya ketika anak-anak lain belum bisa mandiri mencari uang sendiri, sedangkan Tasripin sudah bisa. Bahkan ketika anak-anak lain harus tiap pagi dengan manjanya harus dibangunkan oleh orang tuanya, sedangkan Tasripin memulai hari atas kesadarannya sendiri.

Yang malang itu yang tidak jua bisa mandiri atau sebaliknya? Yang malang itu anak yang kesadarannya tumbuh melesat, atau anak-anak yang dininabobokan dengan keasikan mainan-mainan khas anak-anak? Negeri ini kini berjubel dengan jutaan sarjana berijazah yang mereka tidak pernah kehilangan secuilpun kesempatan untuk menikmati masa kecil semasa ia kecil. Tapi masalah pengangguran pelik menyandera negeri ini, karena kurikulum kemandirian tidak terdapat dalam transkrip kelulusan mereka yang berjubel itu. Sekolah saja, ternyata tidak cukup untuk bekal hidup bukan? Apalagi untuk bekal mati.[] Rizky Dwi Rahmawan