Reportase: MENCARI MAIYAH

JUGURAN SYAFAAT EDISI Juli 2013 di awali dengan pembacaan Puisi “Taman Panca Pesona” karya Hadiwijaya dimana dibacakan oleh beliau sendiri diiringi lantunan Lir Ilir. Hadiwijaya kemudian menyampaikan bahwa Lir ilir adalah pesan moral dari Sang Wali kepada para pemimpin yang sudah mulai korup.

Titut Edy kemudian menyambung “Ketika saatnya kita dipakai oleh Gusti Allah, kita tidak bisa menolak. Yang harus diperhatikan adalah seringnya kita bukannya dipakai Gusti, tapi dipakai belis. Beliau kemudian melanjutkan bahwa ketika kita berbicara budaya, bukan budaya dalam arti sempit. “Budaya juguran mpun onten awit kula cilik.”, ujar Pak Titut.

Hilmy menyampaikan kesan dan pemaknaannya atas pesan Cak Nun : “Carilah kekhusyukanmu sendiri.” Satu nomor akustik dari mas Riswanto, jamaah Maiyah Purbalingga menghangatkan Pendopo usai gerimis mereda

Agus Sukoco mengulas tentang perkataan Iblis :”Akan aku gelincirkan kalian, kecuali orang yang ikhlas”. Kita harus bisa menangkap pesan didalam kalimat ini: “Mulane kowe kabeh pada dadi wong sing ikhlas.” Agus melanjutkan “Maiyah adalah gua Ashabul Kahfi kontemporer. Dimana ketika ada keadaan darurat sosial, mereka ditidurkan Allah di dalam gua.”

Hadir pula malam hari ini seorang pengacara kawakan dari Purbalingga, Bachtiar Prihono. Ia menyampaikan “Bunga mawar mau dikasih nama apapun tetap harum baunya. Forum ini mau dinamai maiyah atau apapun tidak masalah.”

Seorang Jamaah bernama Doni merespon : “Maiyah itu menurut saya akronim dari : Moni,ngaweruhi, perkara sing iya tur genah.” Jamaah lainnya, Arno merespon bahwa sekarang ini  zaman ‘Bawor kudine kebintal’, adanya Juguran Syafaat ini mudah-mudahan merupakan tanda sebentar lagi kudi  akan ketemu.

Pak Titut kemudian menyampaikan kesan mendalamnya mengikuti Maiyahan Mocopat Syafaat di Bantul, Yogya “Terus terang kula mboten wonten angan-angan dugi teng Bantul (Mocopat Syafaat). Pengalaman kula mlebet mocopat syafaat niku kados mlebet negeri dongeng.”

Agus Sukoco menyampaikan “Budaya adl ‘igueh’ manusia dari sesuatu yg alami kemudian dicerdasi”. Kemudian Agus mengajak Jamaah bersimulasi “Bayangkan berapa lama waktu yg diperlukan oleh manusia dulu mencerdasi cabai sampai mereka menemukan manfaat cabai?”

Agus Sukoco kemudian merespon atas sinisme orang diluar dengan menyampaikan “Forum ini dinamai ‘Maiyah’ itu sebagai tenger (penanda) saja. Bukan untuk.mengkultuskan siapapun.”[] Rizky