Relativitas Bahasa

Cobalah sesekali mendengarkan rekaman percakapan bahasa asing yang bahasa itu belum pernah kita dengarkan dan tidak kita ketahui terjemahannya. Apa yang kita dengar? Yang kita dengar hanya rentetan suara cang cing cong yang ‘pating pecotot’ alias tidak jelas. Maka, begitupun dengan bahasa kita bagi mereka yang sama sekali tidak pernah mendengarnya.

Kita tidak lebih hanya berbunyi ‘kung kong kung kong’ seperti katak di sawah atau suara tonggeret di sore hari bagi mereka. Memang, realitas fisik dari sebuah bahasa adalah huruf-huruf yang dirangkai kemudian di dalam rangkaian itu diberi jeda spasi. Perkara di dalam rangkaian huruf-huruf itu kemudian terdapat makna, itu soal kesepakatan belaka. Kesepakatan yang setelah berlalu ribuan tahun semakin lengkap dan semakin kompleks.

Kalau kita mendengar kodok berbahasa, komentar kita tidak lebih dari ‘brisik sekali sih itu’. Atau mendengar suara tonggeret pada sore hari, dikiranya itu bukan bahasa. Hanya bunyi yang sama yang diulang-ulang kok. Padahal, apakah begitu? Siapa yang tahu kalau kodok itu sedang bernyanyi, siapa yang tahu kalau tonggeret itu sedang mengobrol dengan rekannya. Atau bisa jadi kodok mendengarkan manusia sedang bercakap-cakappun, seperti halnya kita mendengarkan tonggeret, si kodok hanya mendengar bahwa kita membunyikan suara yang diulang-ulang? Bisa jadi.

Seandainya saja kita terlahir di pulau, bersama beberapa bayi yang tidak mendapat warisan daftar makna yang sudah disepakati generasi sebelum kita itu, kemudian apa yang akan terjadi? Kita akan membangun makna atas rangkaian2 huruf yang kita ucapkan itu yang bisa jadi sangat berbeda dengan kelaziman budaya yang sebelumnya ada.

Atau jika sebuah bangsa habis generasinya karena mati semua kena bencana. Lalu, kita tersisa sendirian. Bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang lahir dari generasi yang baru lahir? Sesungguhnya bahasa adalah semu, tetapi bisa berdampak pada skala yang lebih besar. Makna, derajat, tendensi yang timbul sebetulnya relatif, bergantung pada bagaimana kesepakatan atas semua itu terjadi.

Maka yang terjadi sekarang sudah terlalu jauh, lupa bahwa bahasa itu relatif, dengan kelirunya kita meyakini bahasa itu mutlak. Kemudian bahasa digunakan untuk menggiring opini orang sesuai dengan kepentingannya, disalahgunakan untuk membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, bahasa digunakan untuk
menjauhkan kita dari sesuatu Yang Maha Mutlak.

Sebagian kita belajar hukum pembalasan amal baik dan buruk, terlalu berkutat pada bahasa. Sebagian kita menghakimi orang selamat dan tidak selamat, berdasarkan text-text bahasa. Padahal sekali lagi, apa sih bahasa itu sejatinya? [] Rizky Dwi Rahmawan