Mukadimah: Teknologi Tanpa Riset

Definisi “teknologi”, bagi sebagian orang telah menyempit. Sesuatu yang berupa alat, alat itu canggih, dan dihasilkan di laboratorium maka itulah teknologi. Ketika biting dihasilkan melalui proses laku kehidupan yang panjang embok-embok penyedia sajian arem-arem, yang dalam proses perjalanan simbok tersebut membuat arem-arem akhirnya menemukan hidayah untuk menyisik bambu hingga ukuran kecil diameter 2 mm, kemudian dipotong-potong masing-masing panjangnya 3 cm dengan kedua ujungnya runcing kemudian bambu itu bisa dibuat pengunci ujung lemper agar tidak terbuka saat dikukus, maka itu dianggap bukan teknologi. Karena biting tidak canggih dan bukan merupakan hasil laboratorium riset.

Semakin menyempit lagi pemahaman orang tentang kata “teknologi” hingga begitu jauhnya dari terminal makna yang sesungguhnya atau disebut terminologinya, ketika orang yang mandi di bawah air terjun hanya dikenal sebagai klenik dan orang yang menyindik bawang merah dan cabai dengan lidi kemudian dihadapkan ke awan langsung dicap mempersekutukan Tuhan.

Padahal bahkan ilmu pengetahuan barat yang merupakan pangkalan faham materialisme saat ini sudah secara saintifik menyebutkan proses terapi yang disebut “shower therapy”, sebuah aktivitas penyembuhan dengan cara mandi di bawah guyuran air untuk durasi waktu tertentu. Lalu ada apa dengan kita kok masih sulit memiliki pemahaman bahwa apa yang dilakukan nenek moyang kita di bawah grujugan air terjun itu sebagai sebuah teknologi yang sudah mereka capai?

Lalu bagaimana dengan bawang merah, cabai dan lidi? Bagaimana sains dapat menjelaskan itu adalah cara yang ilmiah untuk menangkal hujan? Saya menjawab dengan : apa mampu sains menjelaskan itu? Siapakah itu sains? Kenapa kita jadi begitu mengagung-agungkan sains hampir-hampir se-Agung Tuhan?

Bisa jadi sains terlalu kerdil untuk bisa menjelaskan bawang merah, cabai, lidi dan hujan. Kalau memang daya pikir kita belum sampai, cukuplah itu kita pahami sementara sebagai sebuah password atau rumus. Seperti anak kelas 1 SD yang bertanya tentang materi limit dan integral. Setelah dijelaskan dan sama sekali tidak mudeng, apa yang dilakukan oleh si anak kelas 1 SD tersebut? Apakah spontan menganggap rumus limit dan integral itu adalah klenik? Atau “oh, saya belum nyampe nih otaknya”.

Begitulah sikap yang menunjukkan bahwa kebenaran hanyalah apa yang bisa diterima oleh otaknya, sedangkan yang tidak bisa disebut klenik dan kemusyrikan adalah sebuah sikap kemunduran. Bukannya dari hari ke hari kita mendapatkan temuan teknologi terus menerus, tapi justru kita termarginalisasi dari masyarakat, menjadi asing, bukan karena mereka yang mengasingkan kita, tapi kita sendiri yang mengasingkan diri.

Pola berpikir sempit mengenai terminologi teknologi seperti di atas mengandung pemahaman bahwa teknologi adalah sesuatu yang keluar dari laboratorium. Nyatanya tidak selalu seperti itu, kita mengambil contoh Jepang, mereka memiliki falsafah “KAIZEN” yang sederhananya : “ambil yang baik, buang yang buruk, ciptakan produk baru”. Kaizen tidak berbasis laboratorium semata, tetapi pengelaman di lapangan, sehingga suatu produk terus diinovasi sesuai dengen penerimaan masyarakat atas produk tersebut di lapangan.

Dan Nusantara memiliki falsafah yang tidak kalah unggul : “NGELMU IKU KALAKONE KANTI LAKU”. Perjalanan ilmu, inovasi teknologi, itu terjadi dari tindakan keseharian, bukan tindakan riset laboratorium belaka. Sayang, falsafah tingkat tinggi itu saat ini tidak operatif, hanya menjadi pajangan kata mutiara di dinding belaka, karena kita sudah diteror dengan judgement : “awas hati-hati itu kejawen!!!”

Proses niteni, pengamatan dan Iqra, dilakukan masyarakat nusantara bukan hanya saat proyek riset di laboratorium, tapi di setiap laku kehidupan. Maka itulah kenapa kalau saat ini kita mau melakukan proses identifikasi dengan serius, kita akan menemukan karya teknologi nenek moyang Nusantara yang tidak terhitung, tidak terbandingkan jumlahnya dibanding yang dihasilkan oleh peradaban Barat, apalagi peradaban Arab.

Mulai dari biting, kemudian gogok, arsitektur rangken Jawa, pestisida alami untuk bercocok tanam padi, caping, kenthong early warning system, tari-tarian, teknik-teknik terapi dan penyembuhan, racikan obat, metodhologi unggah-ungguh, dll masih banyak lagi. Kesemuanya itu menjadi perangkat yang mendukung lahirnya sebuah sistem sosial yang mengamankan satu sama lain, memudahkan pekerjaan serta meninggikan martabat semua orang yang terlibat di dalamnya.

Namun saat ini sisa-sisa peninggalan teknologi nenek moyang tersebut, yang bisa kita sebut sebagai teknologi timur, atau teknologi nusantara yang kebanyakan berbasis teknologi internal hanya sedikit saja yang bisa kita kecap. Ahli kelahiran alami sekarang kita cap sebagai dukun : dukun bayi, pengobatan luka dengan daun pegagan disebut tidak higienis, keramas itu ya harus pakai shampo yang banyak busanya, bukan dengan lidah buaya, kodifikasi tanda bahaya kenthongan apa masih ada yang hafal, telepati itu dianggap bagian dari kemusyrikan belaka yang betul adalah belilah gadget termahal, sampai pada keyakinan bahwa kita tidak bisa hidup tanpa impor. Impor barang maupun impor falsafah. Mari kita amati fenomena-fenomena tersebut, untuk diambil yang produktif dan disingkirkan serta diganti yang kontraproduktifnya. [] RedJS