Mukadimah: HONG WILAHENG

Juguran Syafaat edisi Mei 2018

Hari ini sudah tiga bandara di negeri kita yang sudah dipermewah dengan keberadaan kereta api khusus bandara. Tidak sampai setahun ke depan, Ibukota akan sempurna dengan kehadiran jaringan kereta pengangkut massal yang didamba-damba, MRT, sehingga tidak lagi ketinggalan dengan negara-negara tetangga. Juga, tidak pernah di dalam sejarah kita pernah seambisius ini dalam melahirkan jalan-jalan tol baru. Sungguh bergelimang pencapaian demi pencapaian.

Apabila ukuran pencapaian adalah para tetangga, memang hari ini kita belum menyalip mereka. Namun setidaknya hari ini, kita hampir setara. Pertanyaannya kemudian, apakah cara berfikir negara kita masih seprimitif orang-orang di kampung, yakni mereka yang dibuat panas hatinya sebab tetangganya membeli tivi, kulkas dan mesin cuci baru?

Mudah-mudahan tidak demikian. Mengejar target pencapaian dengan mengintai pencapaian tetangga hanyalah hal yang nisbi. Hampir seabad kita mengaku telah bangkit, cara-cara berfikir yang lebih mutakhir ketimbang iri-irian mestinya sudah melandasi setiap keputusan yang mesti diambil hari ini.

Bukankah lebih baik kita menghitung target pencapaian diri kita menakar dari yang sudah kita lalui sendiri? Kita ‘menghitung sejarah’ kita sendiri. Agar apa yang sudah kita investasikan selama ini, panjangnya perjalanan waktu yang dilalui, banyaknya pengorbanan tenaga, kesungguhan andil pikiran dan segenap biaya materiil serta imateriil, semua itu menjadi pengorbanan yang setimpal. Tidak kemudian menjadi sia-sia belaka.[RedJS]