Berfikir dengan Ramping ala Lean Canvas

Catatan Workshop Lean Canvas, 4 September 2018

Di cuaca dingin seperti di sini, saya membayangkan kalau ada api unggun. Tetapi karena ini bukan acara malam keakraban, ini acara workshop, jadi jangan harap bayangan saya benar-benar ada.

Menjelang Maghrib saya berangkat dari Kota Purwokerto menuju Villa Karang Penginyongan untuk mengikuti Workshop Lean Canvas. Lokasi workshop ditempuh sekitar satu jam dengan sekali berhenti sholat Maghrib. Berlokasi di perbukitan sekitar 40 km di sebelah barat Purwokerto, workhsop malam hari itu memang secara khusus diselenggarakan oleh Penggiat Juguran Syafaat.

Saya tertarik untuk ikut karena dari informasi yang saya dapatkan mengenai Workshop Lean Canvas ini, yang saya pikirkan adalah saya bisa memperoleh ilmu tentang bagaimana saya bisa nandur di kebun Maiyah sebagaimana yang Mbah Nun inginkan dari anak cucunya.

Berbagai metode canvas memang sedang marak di kalangan milenial. Mas Rizky memandu workshop ini dengan dimoderatori oleh Mas Kukuh. Acara berlangsung dengan gayeng dan mengalir. Dimulai dari Jam 19.30 didahului dengan santap malam, peserta kemudian duduk melingkar menyimak paparan, sharing dan melakukan berbagai simulasi.

Tidak serumit yang saya bayangkan ternyata Lean Canvas itu. Bagan berbahasa Inggris yang asing di telinga saya itu ternyata begitu menarik ketika diterapkan pada studi kasus yang dekat dengan yang saya hadapi. Menurut mas Rizky, Lean Canvas adalah bentuk ramping dari Business Model Canvas yang banyak dipraktekkan dalam analisa pengembangan bisnis. Kreatornya bernama Ash Maurya.

Malam hari itu peserta diajak untuk memahami alur berfikir dari canvas jenis ini dan menerapkannya untuk kebutuhan mendesain program kegiatan.  Saya yang sehari-hari berkecimpung di dunia pendidikan memang bersentuhan dengan berbagai program-program kegiatan. Kalau dituruti semua gagasan, saya bisa kelelahan kehabisan tenaga. Kehabisan waktu juga. Maka pengetahuan mengenai bagaimana mendesain program memang saya membutuhkannya.

Pak Titut yang paling sepuh malam hari itu terlibat aktif sedari awal hingga akhir acara. Pengalaman Beliau dalam menjalani roller coaster kehidupan sangat menjadi pelajaran yang berguna nyata bagi saya. Pak Titut ini memang terlibat sedari awal pembangunan kawasan outbond area Villa Karang Penginyongan, tempat di mana workshop dilangsungkan malam hari itu.

Kiprah Karang Penginyongan mengembangkan wisata pendidikan karakter sekaligus menjadi study kasus yang sangat membantu memudahkan saya memahami alur kerja Lean Canvas. Terlebih Mas Damar, owner dari Villa ini juga secara spontan memilih melibatkan diri bergabung di dalam jalannya workshop. Villa Karang Penginyongan ini memiliki apa yang disebut unfair advantages seperti yang terdapat pada Lean Canvas.

Mendoan hangat dan wedang jahe membantu mengusir hawa dingin yang menyelimuti peserta sepanjang acara. Hadir juga dua peserta dari penggiat Maiyah Poci Maiyah, jauh-jauh datang dari kota Tegal dengan mengendarai sepeda motor. Saya salut dengan semangat mereka menuntut ilmu.

Ada banyak hal yang saya dapat dari workshop malam hari itu. Pada kolom Problem, Mas Rizky memandu peserta untuk sahut-menyahut menganalisa mana problem yang berpotensi ditumbuhkan menjadi suatu value proposition tertentu, entah bentuknya sebuah kolaborasi bisnis, atau sebuah desain program acara. Saya jadi menyadari bahwa sebuah program acara haruslah berangkat dari problem yang memang sudah dipetakan dengan baik. Mas Kukuh mencontohkan bagaimana instansi pemerintah membuat pelatihan sablon berulang setiap tahun, padahal yang peserta butuhkan bukanlah hal itu.

Termasuk juga dielaborasi malam hari itu adalah mana problem riil, dan mana problem yang diada-adakan. Yakni ketika saya ngurusin problem orang lain yang tidak jelas juntrungannya. Pak Titut juga mengurai bagaimana perjalanan Beliau berkarya tidak berhitung untung rugi materiil. Sebab yang Pak Titut kejar yakni kepuasan batin dan keuntungan non materiil lainnya.

Di sini saya setuju dengan yang Mas Rizky sampaikan bahwa dalam mendesain program haruslah, satu: untung (profit), dua: bertumbuh (growth), tiga: berkelanjutan (Sustainable). Untung di sini bukan untung materiil semata, tetapi bagaimana hasil kemanfaatan harus lebih besar dari biaya atau modal yang dikeluarkan: waktu, tenaga, kreativitas, kesabaran, dll.

Lean Canvas juga memudahkan untuk menghitung sebuah program itu akan sustainable atau tidak. Ini sesuai dengan perenungan saya atas dhawuh Mbah Nun bahwa kita ini hendaknya maraton, jangan cuma sprint. Di sesi terakhir yakni sesi puncak, acara semakin gayeng karena antar kelompok yang sudah melakukan simulasi saling menanggapi bahkan ada yang mencela program yang dirancang satu sama lain. Meskipun kelompok saya juga dapat celaan, tetapi tidak apa-apa, karena menurut saya itu masukan yang masuk akal. Memang bertukar pandangan satu sama lain itu berguna sekali.

Tepat jam 02.00 hawa dingin sudah tidak bisa berkompromi. Workshop kemudian diakhiri. Usai jog wedang jahe dan ngobrol santai, semua peserta menuju bungalow masing-masing untuk beristirahat. Sayangnya, saya harus pulang Subuh karena pagi hari harus kembali beraktivitas, sehingga tidak ikut bersama teman-teman pagi harinya nge-trip keliling desa di sekitaran villa, yakni ke Peternakan Sapi dan ke Curug Cipendok.

Dari workshop ini selain saya mendapat metodologi baru, saya juga belajar dari pengalaman hidup peserta lain, baik pengalaman pahit, manis, asin dan nano-nano. (Hirdan Ikhya/RedJS)