Yel Pancasila

Materi Khutbah Edisi Jumat Pon, 24November 2017

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”
QS. At Taghabun: 12

Ma’asyirol Jum’ah Rohimakumullah,

Dalam kesempatan Sholat Jumat siang hari ini, Khotib mengajak Jamaah sekalian untuk tidak ada bosan-bosannya mengingat dan mensyukuri Rahmat Allah, yang tentu tidak ada habisnya kalo kita hitung dan rasakan.

Setidaknya selama kita hidup,  baik di keluarga, di dalam masyarakat maupun di dalam bernegara, di mana kita hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini. Dan dari rasa syukur itulah semoga menjadi pintu untuk kita semakin beriman dan semakin bertaqwa kepada Allah SWT. Shalawat salam kita sanjungkan kepada junjungan Baginda Nabi Agung Muhammad SAW.

Jamaah Jum’ah yang berbahagia,

Mohon ijin kepada Jamaah sekalian, kali ini Khotib akan membahas permasalahan yg agak ndakik, ngayawara agak tinggi yaitu tentang negara, tetapi semoga pembahasan Khotib masih dalam sudut pandang yang mungkin bisa dijangkau oleh setiap pribadi kita, yaitu ruang kesadaran dalam beragama yaitu Islam.

Karena saya Islam maka saya cinta negara ini, tidak bisa dibenturkan antara memilih beragama atau bernegara, memilih Islam atau pancasila. Darimana ide butir-butir Pancasila kalau tidak berasal dari Rukun Islam?

Jamaah Jum’ah,

Salah satu pedoman atau rukun negara kita baru-baru ini sedang dibuat ramai baik di media cetak, televisi maupun internet adalah mengenai Pancasila.

Dengan bermodalkan memahami makna rukun maka semoga bisa kita terapkan dalam memahami Pancasila sebagai rukunnya negara kita.

Kita ketahui rukun itu bersifat saling berkait, saling mendukung, saling menguatkan diantara satu dengan yang lainnya. Tidak bisa hanya berpedoman pada sholat saja, kemudian kita mengabaikan rukun Islam yg lainnya, karena akan berakibat pada rusaknya atau batalnya keislaman kita.

Pun dalam memahami Pancasila, tujuan negara ini berdiri sudah disepakati oleh para pendahulu kita terletak pada sila yang terakhir, yaitu sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Namun kita lihat di kanan-kiri, apakah prinsip keadilan sudah terwujud? Melimpahnya kekayaan negara seyogyanya dapat dirasakan oleh seluruh rakyat diseluruh negeri dengan berprinsip pengelolaan yang berkeadilan.

Sila kelima bisa terwujud harus ditopang oleh sila sebelumnya yaitu Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Hendaknya sila ini dijalankan dengan benar oleh wakil rakyat, dengan pedoman hikmah kebijaksanaan untuk terwujudnya keadilan sosial.

Kalau keadilan sosial belum terwujud, berarti ada yang tidak benar pada sila keempat yang di emban oleh para wakil rakyat. Drama korupsi menjadi pemandangan rakyat setiap hari. Pemandangan yang tidak jarang membikin kita geleng-geleng kepala sendiri.

Dan kalau sila yang keempat bermasalah maka sumber masalah ada pada sila sebelumnya yaitu sila yang ketiga: Persatuan Indonesia. Ini tugasnya partai politik atau parpol yang seharusnya mendidik kadernya agar mampu menciptakan kebersatuan nasional, bukannya malah memperjelas terbentuknya gerombolan-gerombolan, geng-geng, kubu-kubu.

Bukannya bersatu demi memperjuangkan kesejahteraan rakyat, yang ada aksi tipu, jual beli layaknya perdagangan, jegal menjegal, saling bunuh, dan pagelaran perang sesama saudara.

Dan tidak tercapainya sila ketiga berarti jelas ada yang salah dengan sila Kemanusiaan Yang Adil dan beradab. Sila yang kedua dan ini tugas dari Dinas Pendidikan Nasional. Dunia pendidikan dimandati tugas untuk menghasilkan manusia-manusia dengan kepribadian yang adil dan beradab.

Dan gagalnya dunia pendidikan dalam menghasilkan manusia yang beradab disebabkan oleh sila yang pertama yaitu ketuhanan Yang Maha Esa. Jangan-jangan masih ada yang gagal dalam kita beragama.

Mengapa misalnya, semakin kita beragama makin keras akhlak kita. Mayoritas kita adalah pemeluk agama tapi kenapa kerusakan lingkungan di mana-mana? Dimanakah rahmatan lil ‘alamin-nya Islam?

Jamaah Jum’ah,

Islam pasti benar. Tetapi yang harus kita cari adalah apa yang belum tepat, apa yang tidak seharusnya di dalam kita berislam.

Dimanakah letak adanya hal yang tidak tepat dan tidak seharusnya? Mari kita cari bersama-sama dengan penuh kerendahan hati, hilangkan sombong-sombong dengan merasa paling benar, paling suci, paling masuk surga sehingga berakibat menyalah-nyalahkan orang lain, mengkafirkan satu dengan yang lainnya.

Jamaah Jum’ah,

Dengan pedoman memahami rukun semoga menjadi modal untuk bisa memahami butir-butir Pancasila sehingga dapat diambil beberapa kesimpulan, meskipun kesimpulan ini berlaku hanya pada kedalaman diri kita masing-masing.

Dalam berwudhu, ada syarat sah dan rukun yang harus kita tunaikan, apabila ada salah satu saja rukun yang kita abaikan, tidak kita lakukan maka batallah wudhu kita, tidak sah wudhu kita.

Pun demikian dengan sholat, tentu ada syarat sah dan rukun untuk bisa disebut kita telah mendirikan shalat. Dari takbir, berdiri, ruku’ hingga salam kanan kiri merupakan syarat rukun sah-nya sholat. Apabila ada yang tidak kita tunaikan maka hakikatnya sholat kita telah batal.

Jamaah Jum’ah,

Maka rukun negara kita adalah pancasila. Manakah rukun pancasila yang telah batal ditunaikan? Manakah yang gagal untuk diwujudkan? Apakah kegagalannya disebabkan ketidakmampuan ataukah disebabkan oleh kecurangan dan keserakahan?

Apabila dikarenakan ketidakmampuan dan ketidakberdayaan semoga Allah memberikan pemakluman dan pengampunan. Namun, apabila dikarenakan kesengajaan berupa kecurangan dan keserakahan, kita serahkan kapada Allah SWT dan kita berlindung terhadap murka-Nya yang telah melenyapkan umat Nabi Nuh AS, Nabi Luth AS, Nabi Sholeh AS, Firaun beserta bala tentaranya dan kaum-kaum  terdahulu yang telah melampaui batas.

Jamaah Jum’ah,

Dengan memahami sesuatu yang mendasar dari ajaran Islam ini, semoga menjadi pedoman dalam memahami permasalahan-permasalahan, baik yang sifatnya kecil maupun yang lebih besar, mengenai negara, mengenai Pancasila atau apapun saja secara benar.

Terkecuali status negara hanya kita jadikan sekedar papan nama, Pancasila hanya kita berlakukan sebatas untuk slogan dan yel-yel saja. Kita bangga memperlakukan Pancasila justru untuk gagah-gagahan tanpa berusaha memahami apalagi menjalankannya. []