Mukadimah: Transformasi ataukah ‘Transbengkalai’

Juguran Syafaat haruslah hanya menjadi kegiatan yang beririsan dengan kepentingan setiap individu-individu yang nyengkuyungnya. Sebab Juguran Syafaat tidak diada-adakan untuk apapun. Sehingga kita tidak perlu mengada-adakan apapun. Sebab kalau mengada-adakan nantinya akan menjadi merepotkan. Kalau suatu hal sampai diada-adakan jangan-jangan ia mengandung tujuan, menyirat maksud atau tersembunyi kepentingan tertentu. Menjadi tidak elok ketika dalam sebuah ekosistem perhubungan yang alamiah kemudian ada yang direpotkan dan lainnya diuntungkan.

Tidak demikian Juguran Syafaat terselenggara. Analogi yang mungkin agak mendekati Juguran Syafaat itu mungkin seperti bagaimana orang-orang tua di desa jaman dulu masih menyempatkan waktu gendingan secara rutin setelah menyelesaikan daily activity mereka. Melalui kegiatan gendingan, mereka berkumpul bukan sebab hendak tampil. Bukan juga hendak mengasah skill. Mereka berkumpul tanpa motivasi yang neka-neko, kecuali motivasi untuk menikmati apa yang mereka sedang kerjakan.

Kalaupun dari gendingan itu ada manfaatnya, paling maksimal adalah terbentuknya formasi dan pembagian tugas sehingga tabuhan-tabuhan bisa menghasilkan orkestra musik yang bisa dinikmati. Atau manfaat lainnya, yakni sebab berkumpul sehingga menjadi tidak terbengkalainya sambung rasa dan sambung batin satu sama lain.

Kalau sampai orang menjadi repot sebab harus diadakannya Juguran syafaat, berarti Juguran Syafaat harus di stetoskop, diindikasii bahkan kalau perlu dievaluasi. Jangan-jangan ada yang tidak tepat dalam mekanisme ber-juguran kita. Sebab Juguran Syafaat hendaknya disesuaikan agar tidak jauh-jauh amat keluar dari irisan-irisan perikehidupan individu-individu yang nyengkuyungnya. Sebab subyek dari Juguran Syafaat bukanlah nama, wadah atau identitas Juguran Syafaat itu sendiri, melainkan subyeknya adalah orang-orang yang terlibat nyengkuyung di dalamnya. [] RedJS