Mukadimah: Al-Mutahabbina Fillah 2

Juguran Syafaat Desember 2017

“Ora sugih banda, sing penting sugih sedulur”, betulkah pandangan demikian bahwa punya banyak harta itu yang primer, kalau itu tidak tercapai maka punya banyak saudara bisa lah menjadi opsi cadangannya? Mana kecenderungan yang lebih berlaku, sebab kita banyak uang sehingga saudara kita menjadi bertambah banyak, atau sebab banyak saudara sehingga peluang untuk menghasilkan uang menjadi semakin banyak?

Menjadi kaya adalah reaksi alamiah dari semua orang yang takut menghadapi ancaman kefakiran. Meskipun, banyak diantara kita yang menjadi kaya dengan tanpa menguasai “ilmu kaya”, sehingga ia terhindar dari kefakiran harta tetapi terjerumus dari kefakiran saudara, “kelangan sedulur”.

Padahal, mana yang lebih mengerikan, fakir harta atau fakir saudara? Misalnya, masa ia ketika hidup di tengah banyak saudara, kita kelaparan kemudian saudara kita diam membiarkan. Kalau hal itu yang terjadi, mungkin mereka saudara sebatas status belaka, tidak sebagai sifat dan sikapnya. Orang yang benar-benar bersikap dan bersifat menjadi saudara kita, mereka bukan hanya tidak membiarkan ketika kita kelaparan, tetapi mereka senantiasa membukakan jalan-jalan bagi kita mendapatkan penghidupan syukur kekayaan.

Kalau hal itu tidak terjadi, ada beberapa kemungkinan, pertama : kita tidak pada kondisi bisa dipercaya oleh saudara sendiri. Atau kedua : kita bisa dipercaya, tetapi tidak punya gagasan untuk mengolah sebuah produktivitas. Atau ketiga : kita bisa diamanati, kita mempunyai gagasan, tetapi bersikap “jaim” sehingga enggan menerima pemberian dari saudara sendiri. Atau kemungkinan keempat : Kita memenuhi semua syarat itu, tetapi saudara-saudara kita saja yang pelit. Dan kita belum berhasil menginsyafkan atas bahayanya menjadi orang pelit kepada saudara sendiri. []