Mentadabburi Dinamisnya Al Quran dan Kehidupan

Materi Khutbah Edisi Jumat Pon, 2 Juni 2017

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
(QS. AL Baqarah: 30)

Jamaah Jum’ah yang dirahmati Allah,

Di bulanRamadhan yang penuh dengan keberkahan ini, Khatib mengajak diri Khatib dan Jamaah sekalian, marilah untuk terus menerus berupaya meningkatkan keimanan kita menuju derajat taqwa. Iman atau percaya adalah cara terbaik untuk bisa sampai kepada derajat yg kita sebut taqwa.

Bahwa segala ajaran Islam, sebisa mungkin kita harus mencari kebenarannya dengan cara direngeng-rengengi, diilmui, dinalarkan. Meski sudah begitu, harus kita sadari bahwa tetap ada banyak hal di mana akal tidak akan sanggup menjangkaunya. Di situlah kemudian Allah memberikan metode yang disebut Iman.

Jangkauan ilmu di dalam Islam itu mencakup pengetahuan yang merupakan hal-hal sederhana berupa kegiatan keseharian, hingga pada pengetahuan Islam yang rumit.Bahkan meliputi pengetahuan langit yang butuh kekuatan ekstra untuk menjangkaunya.

Untuk pengetahuan tingkat langit ini, kita menggunakan iman. sedangkan untuk pengetahuan yang masih bisa dinalarkan, marilah kita sebisa-bisa untuk berupaya mengakali atau mengilmuinya.

Jamaah Jum’ah,

Pada kesempatan siang hari ini, Khatib mengajak untuk kita semua slulup, jebar-jebur mentadabburi kandungan dari Al Qur’an Surat Al Baqarah Ayat 30.

Bahwasannya di dalam memahami isi kandungan Al Quran itu ada 2 cara, yang pertama dengan pendekatan ‘tafsir’. Pendekatan tafsir adalah wilayahnya para ahli kitab, cendekiawan, alim ulama yang mumpuni di dalam disiplin ilmu tafsir. Kita menyebut orang yang memenuhi kriteria tersebut sebagai seorang mufasir.

Sementara itu, wilayah yang tersedia bagi orang awam seperti Khatib dan kebanyakan kita umat Muslim di dalam memahami kandungan ayat Al Quran, Allah memberi cara bernama ‘taddabur’.

Adanya pendekatan tadabbur menegaskan kepada kita bahwa Al Qur’an bukanlah monopoli bagi kaum alim ulama atau ahli kitab saja. Namun Allah memberikan ruang bagi kita, siapa saja untuk berinteraksi secara akrab dengan Al Quran, sehingga siapa saja dapat meniti kebenaran dan menikmati keindahan dari Al Quran.

Tadabbur bentuknya bisa berupa rengeng-rengeng semampunya. Patokannya bukan pada definisi formal sebagaimana tafsir yang analitis dan sistematis. Namun, patokannya adalah ketika seseorang bertadabbur Al Quran, seseorang dapat menangkap pesan baik dari ayat-ayat Al Quran yang produknya adalah kebaikan bagi Allah, Rasulullah SAW dan bagi sesama.

Maka orang yang rajin bertadabbur bisa dikenali dari cirinya yang makin hari makin giat dalam menjalankan ibadah selaras pula dengan makin baik akhlaknya terhadap sesama.

Jamaah Jum’ah,

Mentadabburi Al Quran Surat Al Baqarah Ayat 30, kita akan menemukan sebuah ‘drama’ peristiwa di mana Allah dan Malaikat bercakap-cakap menjelang terjadinya penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi. Ketika Allah menyampaikan rencana penciptaan tersebut, malaikat menyanggah. Menyanggah karena menganggap manusia hanya akan membuat pertumpahan darah saja sebagaimana yang malaikat saksikan pada sebelum-sebelumnya. Namun, Allah menjawab sanggahan itu dengan “Inni a’lamu ma la ta’lamun”, yang artinya “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”

Jamaah Jum’ah,

Khatib jadi teringat drama pada malam-malam awal Ramadhan di Masjid kita tercinta ini, di mana anak-anak begitu gaduh dan ribut. Saat itu semua orang mungkin berfikiran bahwa anak-anak di keesokan malamnya juga hanya akan membuat gaduh dan ribut suasana tarawih.

Akan tetapi, lihatlah kejadian pada malam-malam selanjutnya, anak-anak perlahan lebih tenang dan khusyuk mengikuti tarawih. Khatib rasa anak-anak yang tadinya gaduh dan ribut tidak permanen berbuat demikian, sebab anak-anak juga mempunyai potensi untuk berfikir dan berkembang. Sehingga teguran dari Imam Taraweh, dan pemandangan dari orang dewasa yang merasa terganggu membuat mereka menyadari untuk berubah sikap, tidak lagi membuat gaduh dan ribut.

Jamaah Jum’ah,

Refleksi dari ‘drama’ penciptaan manusia dan drama shalat Tawarih tersebut adalah bahwa sering kali kita berlaku merasa sudah tahu bahkan merasa paling tahu.  Ketika menyaksikan sebuah kemungkaran dihadapan kita, kita menganggap selamanya pelaku kemungkaran itu akan tetap mungkar selamanya. Tak ada kesempatan insyaf, tak ada kemungkinan untuk berproses berubah.

Begitulah kehidupan manusia yang berlangsung dengan begitu dinamis. Pagi kafir, siang beriman, dan seterusnya berbolak-balik. Bukan wilayah kita untuk memasti-mastikan, karena hanya Allah saja yang tahu potensi perubahan seperti apa yang mungkin terjadi pada masa depan seseorang.

Sebab kehidupan yang kita jalani, juga Al Quran yang kita jadikan panutan bukanlah sesuatu yang statis dan linear, sebuah contoh tadabbur atas ayat dan atas peristiwa di atas semoga membuat kita lebih luwes bercengkerama dengan Al Quran dan lebih lincah menyelesaikan tantangan-tantangan kehidupan.

Di dalam bertadabbur kita tak elok tergesa-gesa membuat kesimpulan. Serta di dalam bertadabbur kita tidak bisa meninggalkan akhlak yang baik sebagai outputnya. Maka mari kita berdoa semoga kita senantiasa tetap dalam lindungan-Nya dari sifat ketergesa-gesa dan hasrat untuk memberi cap jelek kepada orang lain.

Semoga bermanfaat. []