Menggapai Sebenar-Benar Taqwa, Sesuai Batas Kesanggupan

Materi Khutbah Edisi Jumat Pon, 28 April 2017

Jamaah Jum’ah rohimakumullah,

Di awal khutbah kali ini, masih dalam suasana dan barokah bulan Rajab, Khatib mengajak diri Khatib dan Jamaah sekalian untuk sejenak khusyuk, yakni dengan cara diantaranya sejenak mengambil jeda dari rutinitas pekerjaan keseharian, dengan menjalankan kegiatan sholat jumat sebagaimana yang sedang kita kerjakan saat ini.

Shalawat dan salam tetap kita sanjungkan kepada Baginda Nabi Agung Muhammad SAW. Beliau yang tiada lain adalah andalan kita ketika kelak kita harus menghadapkan wajah kepada Allah SAW, yang dari beliau syafaatnya senantiasa kita nanti-nantikan.

Jamaah Jum’ah,

Pada kesempatan siang hari ini Khotib akan mencoba mentadaburi firman Allah yang termaktub di dalam Al Qur’an yakni pada surat Al Baqarah ayat 208 :  “Yaa ayyuhaalladzina aamanuud khuluu fis silmi kaaffatan walaa tattabi’uu khuthuwaatisy syaithon, innahu lakum ‘aduwwum mubiin”, yang artinya “Wahai orang-orang yg beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaitan, sungguh ia musuh yg nyata.”

Jamaah Jum’ah,

Khatib mengajak jamaah sekalian untuk mencermati mengapa pada ayat tersebut yang digunakan adalah kata “Silmi”, bukan kata “Islam”? Meskipun antara Islam dan Silmi memiliki akar kata yg sama, tetapi bukankah pada setiap kata yang terpilih pada susunan ayat Al Quran mengandung maksud tertentu yang patut untuk ditadabburi?

Pada susunan kata di dalam ayat tersebut terdapat kata “Silmi”, juga kita jumpai kata “Kaffah”. Silmi mengandung pengertian rasa aman, damai, tenang, muthmainah, yaitu inti nilai dari kesadaran yang dikandung oleh Islam. Sedangkan Kaffah mengandung arti total atau menyeluruh. Tetapi Kaffah juga dapat dimaknai sebagai masuklah secara bersama-sama.

Jamaah Jum’ah,

Perbedaan Islam dan Silmi, Islam itu struktur formalnya sedangkan Silmi adalah kandungan nilai-nilainya. Keseimbangan seseorang dalam beragama adalah membangun struktur formalnya tanpa meninggalkan mengerjakan nilai-nilainya.

Mengerjakan ibadah mahdhah dan muamalah adalah Islam, menebarkan kemanfaatan dari mengerjakan hal tersebut adalah Silmi. Menampilkan Identitas Islam, menebarkan kebermanfaatan Silmi.

Peningkatan kualitas Islam dan Silmi kita kemudian diukur dengan derajat taqwa. Allah SWT sendiri memberi pilihan-pilihan jalan taqwa yang memungkinkan untuk ditempuh, yang antara pilihan-pilihan tersebut harus dijalankan secara seimbang pula.

Pertama, taqwa diupayakan melalui pendekatan ilmu, sebagaimana termaktub dalam Al Quran surat Ali Imron 102,  Ittaqullah haqqa tuqatihi”,   yakni “Bertakwalah kpd Allah dg sebenar-benar taqwa.”

Kedua, Taqwa diupayakan melalui pendekatan amal, sebagai manusia yang merasa penuh  dengan keterbatasan, berhadapan dengan berbagai kelemahan diri, panduannya adalah “Ittaqullah Mustatho’tum” sebagaimana termaktub dalam Al Quran surat At Taghabun:16, yakni “Bertakwalah kamu sekalian kepada Allah sesuai kemampuanmu”.

Jamaah Jum’ah,

Secara ilmu,  kita dihadapkan pada samudera kebaikan yang diajarkan Islam yang nampaknya tidak mungkin ada yang sanggup diantara kita menjalankannya secara total, secara menyeluruh. Maka marilah kita temukan amal kebaikan yang sesuai batas kemampuan diri kita masing-masing, yang terpenting dalam kita beragama berbuah kemanfaatan bagi sekeliling.

Bahwa yang harus total itu Silmi-nya. Bahwa Silmi harus dimasuki secara bersama-sama. Totalitas dan kebersamaan itu adanya pada ruang nilai, bukan pada dimensi formalistis Islam yang lebih cenderung pada identitas-identias. Maka, hendaknya kita jangan sampai terjebak dalam upaya menuntut diri termasuk juga menuntut orang lain dalam kaitannya beragama secara melampaui batas.[]