Mengaku Berhati yang Satu, Hati Nusantara

Refleksi Sumpah Pemuda

Meskipun sekedar mengaku dan menjunjung, tetapi itu bukanlah sekedar. Tidak ada yang sekedar. Sebelum didengungkan dengan sebutan Sumpah, “Sumpah Pemuda” awalnya sekedar Ikrar, yakni “Ikrar Pemuda” yang didalamnya berisi dua pernyataan mengaku dan satu pernyataan menjunjung.

Tetapi sekali lagi, tidak ada yang sekedar. Ikrar mengaku bertumpah darah satu, mengaku berbangsa satu dan menjunjung bahasa persatuan yang dirumuskan oleh pemuda-pemuda dua puluhan tahun itu ternyata kemudian menjadi tonggak sejarah yang sangat penting bagi bangsa. Seperti hari ini kita masih mengupacarainya, meski sudah 90 tahun berlalu.

Adalah Muhammad Yamin, Soegondo Djojopoespito dan Amir Sjarifuddin, diantara para pemuda yang menjadi tokoh penting dalam kongres tersebut. Dari Banyumas sendiri ada dua orang dokter yang bersekolah di STOVIA ikut menggawangi kongres tersebut, yakni dr. Angka dan dr. Gumbreg. Nama dari sosok keduanya saat ini diabadikan menjadi nama jalan di Kota Purwokerto.

Meskipun sekedar mengaku dan menjunjung, tetapi apa yang termaktub dalam ikrar tersebut adalah sesuatu yang melampaui zamannya.  Pemuda-pemudi peserta kongres yang berasal dari komunitas muda  hampir dari seluruh tanah air itu betul-betul merumuskan sesuatu yang baru, bukan misalnya hanya menjadi kepanjangan tangan dan corong pemerintah.

Yang didengungkan oleh pemerintah yang berkuasa saat itu tentu saja adalah “Netherland-Indische harga mati!”, tetapi tumpah darah yang diikrarkan sebagai tumpah darah yang satu oleh pemuda-pemuda itu adalah, tanah air Indonesia. Sebuah pernyataan sikap yang sangat radikal, bukan?

Maka, kalau saat ini pemuda-pemudi hanya menjadi pelestari konsep yang sudah digelontorkan oleh generasi sebelumnya dan oleh pemerintah, belumlah elok untuk mereka mengakui sebagai pewaris spirit Sumpah Pemuda.

Pemuda-pemuda harus mempunyai konsep yang baru yang mendahului zamannya. Dan untuk melakukannya, dibutuhkan keberanian berfikir yang radikal. Apakah kita mempunyai modalitas untuk berfikir radikal saat ini? Mari kita membuat simulasi-simulasi.

Misalnya, ketika generasi tua meneriakkan NKRI harga mati!. Beranikah hari ini pemuda-pemuda meneriakkan sebuah kebaruan yang lebih substantif, misalnya : “NKRI harga upgrade!” Sebuah slogan yang dilandasi oleh keyakinan bahwa apapun yang terjadi pada konstelasi politik di pemerintahan hari ini, rakyat adalah pihak yang akan tetap terus kuat untuk bertahan secara abadi, bahkan senantiasa meng-upgrade dirinya dari waktu ke waktu.

Kemudian simulasi berikutnya, tidakkah disadari bahwa semua orang hari ini terbius untuk meributkan kebhinekaan dan keberagaman? Sehingga seolah-olah hari ini kebhinekaan kita memang sedang benar-benar terongrong. Padahal guru Muslim mengajar di sekolah Kristen di Maluku diterima secara baik-baik saja. Orang Bugis berwisata ke Bali dan menyaksikan sesaji-sesaji nyaman-nyaman saja, dan seterusnya.

Beranikah pemuda-pemudi menyampaikan hal yang lebih substantif dari sekedar komoditas isu? Bahwasanya semua orang Indonesia itu sejatinya seragam, yakni sama-sama mencintai bangsanya dan sama-sama mencitai sesamanya. Terlepas dari berbeda-beda baju, rumah dan tradisi adat istiadat masing-masing hal itu hanya perbedaan identitas tampilan luar belaka. Di dalam hati kita semua mengaku berhati yang satu, hati Nusantara.

Sementara yang harus kita waspadai adalah orang-orang yang secara identitas mengikut seragam kita, berpura-pura menyamai kita, tetapi di dalam hatinya mereka memiliki motivasi yang berbeda. Mereka memang berada di tengah-tengah kita, tetapi tidak mencitai bangsa kita, tidak mencitai sesama kita.

Sebuah simulasi lagi, ketika hari ini generasi tua menjunjung kemakmuran sebagai bahasa kemajuan, beranikah pemuda-pemudi menawarkan bahasa kemajuan yang berbeda dan lebih substantif? Sebab ternyata kita tidak perlu dibuat menjunjung bahasa kemakmuran yakni dengan membangun MRT, reklamasi dan pembangunan kota-kota baru yang supermewah kalau hendak dianggap kita sedang menuju kemajuan. Tetapi hendaknya kita sibuk menjunjung bahasa keadilan sosial untuk mendapati ciri kemajuan sesungguhnya. Angka kesenjangan jangankan direkatkan rentangnya, diantara kita memerhatikan bahwa kesenjangan semakin menganga atau merekat saja tidak.

Bagaimana kita merasa memiliki spirit Sumpah Pemuda sedangkan kita tidak mempunyai ide dan gagasan yang orisinil, berkebaruan dan substantif. Dan di Maiyah, kita sudah lama belajar tentang ‘harga’ upgrade-nya Indonesia. Di Maiyah juga kita telah belajar tentang substansi kebersamaan sebagai bangsa. Serta di Maiyah pula kita sedang belajar tentang beda bahkan bertolak belakangnya cita-cita kemakmuran dan keadilan sosial.

Selamat hari Sumpah Pemuda![] Rizky D. Rahmawan