Digugu lan Ditiru

Dihadapan anak, saya berjuang sekuat tenaga untuk besikap sebijak mungkin. Pada awalnya saya berat berakting shaleh seperti itu. Tetapi tanggung jawab mendidik anak, membuat tak ada pilihan lain, kecuali mendemonstrasikan perilaku selayaknya seorang bapak yang santun dan penyabar.

Lama-lama semua berjalan ringan. Keterpaksaan mengendor menjadi sesuatu yang terasa nikmat. Jadi, anak sayalah yang sesungguhnya telah menjadi pendidik bapaknya. Demikianlah hukum kehidupan. Asal memiliki modal rasa bertanggung jawab terhadap sebuah keharusan peran, keadaan akan selalu berakhir menguntungkan kita. Bapak yang mendidik anak, akan juga terdidik oleh anak.

Tanpa anak saya, saya tentu belum paham soal sabar, santun dan berbagai jenis sikap mulia yang dikabarkan oleh buku pelajaran agama. Untuk mematangkan kepribadian, caranya kadang harus dipaksa oleh keadaan. Maka sering kita jumpai ada orang yang semula buruk perangainya, begitu dijadikan ketua RT, Lurah, Bupati atau posisi ‘Bapak Sosial’ yang lain, ia akan berubah menjadi baik.

Jadi, watak guru perlu diperkembangkan dalam diri setiap orang. Watak guru inilah yang membuat seseorang bersemangat untuk membuktikan bahwa dirinya baik dan pantas untuk ‘digugu-dan-ditiru’. Teori ini mungkin bisa dijadikan alat ukur kepantasan seseorang untuk dijadikan pemimpin. Lihatlah di dalam diri setiap calon pemimpin itu ada watak guru apa tidak. Orang yang memiliki watak guru, kebanggaan hidupnya hanya satu, yaitu ketika ia dianggap pantas untuk diteladani.

Sekarang anda lihat, apakah Ketua RT, Lurah dan Bupati anda cenderung punya watak guru atau tidak. Sepanjang mereka punya watak guru, untuk melanggar moral, mereka akan berpikir seribu kali. Karena keadaan yang paling ditakuti oleh orang dengan watak seperti itu adalah ketika posisi sebagai teladan ambruk di hadapan khalayak. Harta sebanyak apapun tidak akan bisa untuk disepadankan dengan kenikmatan digugu lan ditiru. [] Agus Sukoco