Reportase: SENI DIPLOMASI

REPORTASE JUGURAN SYAFAAT MEI 2016

Manakib EAN

Hujan sedari Isya tidak menyurutkan semangat para penggiat untuk bergegas mempersiapkan sajian acara Juguran Syafaat edisi Mei ini. Tentunya mereka datang bukan setelah waktu Isya, tetapi sudah sejak sore mereka berkumpul. Ada yang sudah sibuk mempersiapkan panggung dan karpet untuk nanti sedulur yang hadir, ada yang sudah gladi bersih menyiapkan beberapa sembahan musik, ada yang mempersiapkan konsumsi bersama untuk nanti. Semua berpadu padan dalam satu semangat, merayakan rutinitas bulanan, hajatan komunitas, Juguran Syafaat.

Pukul 20.30, acara diawali dengan sebuah tari khas Banyumasan yang dipersembahkan oleh Sendratari Basoka, yang berasal dari Sokaraja. Tari ini mengisahkan tentang tata cara pembuatan batik khas Sokaraja. Memang, daerah Sokaraja sendiri merupakan daerah lama yang terkenal dalam pembuatan batiknya. Jauh lebih lama dari sekarang yang terkenal sebagai ampiran kuliner Banyumas. Para penari sungguh apik menyuguhkan rampak gerakan tariannya. Usia belasan tidak membuat mereka tidak mempunyai ruh dalam berkesenian. Iringan musik gamelan sungguh mempesona, meski diluar pakem tapi gaya lamanya tetap terasa.

Seusai persembahan tari, Aji kemudian memimpin tawasul dan tahlil qashar bersama-sama. dengan bacaan tartil dan terpimpin, Aji dan Hedi mengajak sedulur yang hadir membaca surat An-Nur ayat 1-35. Kukuh dan Hilmy membuka acara dengan menyapa sedulur yang hadir, dilanjutkan dengan sholawat bersama-sama yaitu sholawat “Alfu Salam”, “Ya Allah Ya Adzim”, dan “Sidnan Nabi” yang diiringi musik oleh KAJ.

Kukuh memberikan pengantar cerita para penggiat Juguran Syafaat dan KAJ yang dinisbatkan untuk mengurusi pagelaran Haul Syeikh Makdum Wali, ulama yang menjadi penghulu penyebara agama Islam di wilayah Banyumas. Dalam pagelaran acara tersebut banyak hikmah yang bisa dipetik, antara lain bahwa Syeikh Makdum Wali merupakan generasi setingkat dengan Walisanga.

Hilmy kemudian memasuki tema Juguran Syafaat, yang kali ini mengambil tema “Seni Diplomasi”. Hilmy mengambil arti kata dari diplomasi berasal dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang artinya hubungan antar negara. Jadi, diplomasi bukan saja peristiwa tawar-menawar, namun juga berhubungan baik dengan negara lain. Hilmy juga memotret diplomasi dari sudut pandang bahwa tokoh-tokoh bangsa kita terkenal sebagai diplomat ulung.

Sembari memasuki tema, Kukuh mengajak para sedulur untuk menceritakan perihal-perihal khusus kedekatan atau titik temunya dengan guru besar kita, yaitu Muhammad Ainun Nadjib atau akrab kita sapa Cak Nun atau Mbah Nun. Hal ini juga digunakan sebagai peweling bahwa guru kita ini bulan ini memasuki umur ke 63. Kukuh mengawali dengan menceritakan awal mula dirinya bertemu dengan Cak Nun pada saat Maiyahan di Kalisalak, Kebasen tahun 2010. Kukuh merasa dikuatkan jiwa dan raganya ketika mendengarkan uraian-uraian sederhana dari seorang Cak Nun. Banyak pertanyaan dalam hidupnya yang tidak bisa terjawab, dengan mudah terjawab satu persatu dalam perjumpaan-perjumpaannya dengan Cak Nun. Dan inilah yang membuat Kukuh kemudian meyakini diri, bahwa Cak Nun ini guru sejatinya.

Anto dari Banyumas, yang merupakan seorang seniman mengaku bertemu Cak Nun pada tahun 75-76 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tentu ini bukan perjumpaan yang singkat. Dalam penjelasannya, Anto mengakui bahwa Cak Nun adalah sosok yang sangat energik namun rendah hati. Cak Nun merupakan sosok yang sangat diplomatis, orator ulung dan religius.

Hadiwijaya menyambung dengan mempersembahkan deklamasi essai Cak Nun yang berjudul “Berani Berkata Tidak” yang terdapat dalam buku Slilit Sang Kiai, karya Cak Nun pada periode tahun 80-an. Hadiwijaya menjelaskan bahwa Cak Nun adalah sosok orang yang berani berkata tidak terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan hati nuraninya.

Satu persatu sedulur yang hadir dimintai pengakuan perasaannya ketika bertemu Cak Nun dalam hidupnya. Wanto dari Kedung Jampang, yang sehari-hari sebagai petani, mengenal Cak Nun dari pertemuan sholawatan yang diselenggarakan oleh salah satu penggiat Juguran Syafaat. Dalam pertemuan-pertemuan berikutnya, Wanto baru mengetahui apakah sholawat, bedhug itu bid’ah atau bukan. Rasa cinta beliau kepada Cak Nun membuatnya mempersembahkan cimplung (makanan dari singkong dan rebusan nira kelapa) sebanyak 100 kg pada saat Cak Nun dan Kiai Kanjeng hadir di Purbalingga.

Partono dari Purbalingga, bercerita bahwa sebelum bertemu dengan Cak Nun dan Maiyah, dirinya adalah orang jalanan yang penuh dengan kegelapan perilaku. Namun seiring berjalannya waktu, pribadinya berubah. Dan ini berkat Cak Nun dan Maiyah. Hingga kini dia dipercaya menjadi ketua RT di daerahnya dan mampu membuat para pemudanya tidak hidup dalam kegelapan seperti apa yang ia rasakan dahulu.

Aji dari Purbalingga juga menuturkan, bahwa kedekatannya dengan Maiyah menjadikan mempunyai tafsir-tafsir tersendiri di luar yang beredar dalam pemahaman masyarakat. Namun justru inilah yang memicu belajarnya dan bentuk efek sosialnya kepada masyarakat yang lain. Contohnya ketika salah satu tetangganya yang meninggal yang berasal dari perantauan, di mana tidak ada orang yang mau mengurus jenazahnya, dengan sigap Aji dan beberapa kawan lainnya ssama penggiat Juguran Syafaat langsung mengurus jenazah hingga selesai dikebumikan. Bagi Aji, semua manusia itu sama dan mempunyai hak yang sama hingga meninggal.

Lain dengan Hedi yang berasal dari Purbalingga, rasa syukurnya bertemu Maiyah membuatnya merasakan ketepatan dalam menjawab pertanyaan hidup. Hedi juga menceritakan pengalaman spiritualnya dalam bertemu dengan Maiyah yang berasal dari mimpi. Berlanjut, KAJ mempersembahkan satu nomor Untuk Simbah Guru, sebuah nomor yang diciptakan khusus oleh Agus Sukoco untuk gurunda Emha Ainun Nadjib.

Arif dari Purwokerto, menceritakan awal proses perkenalannya dengan Cak Nun melalui beberapa buku yang dibacanya pada tahun 99. Kemudian pada saat kuliah mengikuti aktif majelis Maiyah antara lain Mocopat Syafaat, Gambang Syafaat dan Kenduri Cinta. Di situlah Arif bisa mengetahui kepiawaian Cak Nun dalam memberikan penjelasan-penjelasan sederhana namun mengena tentang Islam.

Onos dari Kroya, menuturkan bahwa dirinya mencari kebenaran dari Islam jenis apapun hingga Kejawen murni. Namun disitu, bukan kebahagiaan yang ditemui namun keresahan akan pertanyaan-pertanyaan hidup yang ia dapati. Di situlah pada suatu ketika Youtube mempertemukannya dengan Maiyah Cak Nun dan bisa berkumpul dengan sedulur di Juguran Syafaat merupakan kebahagiaan tersendiri.

Nael dari Purbalingga, sejak awal 98 sudah memperdengarkan album “Menyorong Rembulan” karya Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Di situ awal embrio dirinya bertemu dengan Maiyah dengan perjumpaan-perjumpaan dalam Maiyah di daerah hingga rutinan Mocopat Syafaat. Dan puncaknya ketika 2012 ketika dirinya terlibat dalam pagelaran Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Purbalingga. Rasa syukurnya adalah hingga kini rasa semangat untuk berkumpul dengan teman-teman penggiat masih membara, tidak luntur oleh kesibukan individu.

Kukuh menutup diskusi sesi pertama dengan pernyataan bahwa momen-momen yang dialami teman-teman tadi merupakan fase hijrah yang sangat asyik untuk dikenang dan dihikmahi.

 

Diplomasi Rasulullah

Kusworo mengawali diskusi sesi kedua dengan pernyataan bahwa penyelenggaraan forum ini adalah bentuk tindak lanjut atas apa yang kita dapatkan dari rutinan Mocopat Syafaat. Menurut Kusworo, sayang sekali jika semua yang kita dapatkan tidak didiskusikan kembali secara lebih mendalam. Dan di situ, ide membuat forum Juguran Syafaat muncul.

Rizky menanggapi sharing-sharing sebelumnya dengan menyatakan bahwa perkenalannya dengan Emha Ainun Nadjib dimulai dari lagu Kiai Kanjeng yang diputar pada pelatihan ESQ. Terkait tahun ini dimana Cak Nun menginjak umur ke 63, Rizky mengajak agar sedulur Juguran Syafaat sudah mulai mempersiapkan diri meneruskan langkah kerja Cak Nun. Perjalanan panjang Maiyah hingga sekarang ini harus selalu diiringi dengan pekerjaan-pekerjaan duniawi yang terencana betul langkahnya.

Agus Sukoco merespon inputan-inputan sebelumnya dengan mengatakan bahwa dalam cara berfikir anatomistik. Kita akan mengetahui mana yang primer dan mana yang sekunder. Cara berfikir inilah yang mendasari kinerja kita membuat forum bahwa jika tidak ada Cak Nun maka tidak akan ada Maiyah, jika tidak ada Maiyah, maka tidak akan ada Juguran Syafaat. Maka yang harus selalu kita miliki adalah perasaan bersyukur setiap saat karena diberi hidayah Maiyah setiap hari.

Agus menyambungkan dengan konsep kebarokahan, bahwa barokah adalah sebuah peristiwa kualitatif, bukan kuantitatif. Sehingga ketika mendapatkan uang 10.000 bisa jadi sangat barokah, tetapi uang 100 juta sekalipun tidak bernilai barokah. Barokah adalah manfaat dan nilai-nilai kebaikan yang muncul yang dibawa atas apa yang sudah kita dapatkan. Terkait tema “Seni Diplomasi”, Agus mengulang kembali apa yang sudah pernah disampaikan Cak Nun, bahwa Rasulullah melakukan diplomasi dengan Tuhan ketika sedang mengalami perang badar. Dimana pasukan muslim yang seada-adanya pasukan, dan jumlahnya minim, terdesak melawan pasukan kafir. Yang terjadi kemudian, Rasulullah mengatakan ‘Innama tunsharuuna wa turzaquuna bi duafaaikum’, yang artinya, kalian akan diberi kemenangan, rizki dan keselamatan bukan karena kekuatan kalian, tapi karena orang lemah yang kalian bela. Ini bahasa yang digunakan untuk ngadem-ngademi pasukan muslim.

“Sedang ke Tuhan, Rasulullah berkata ‘In lam takun ‘alayya ghodhobun fala ubali’, kalau terjemahan bebasnya ‘Gusti niki kula pasukan mati kabeh mboten nopo-nopo, kula nggletak kabeh didek-idek dodol-odol ususe mboten nopo-nopo, kula kalah mboten nopo-nopo sing penting kula nyuwun setunggal, njenengan ampun jengkel kalih kula’. Ini diplomasi yang membuat Allah terharu ‘Ya wis tek menangna bae lah’. Logikanya Rasulullah dan pasukannya kalah tapi karena yang dilakukan Rasulullah diplomasi cinta sehingga Allah yang punya otoritas untuk membatalkan seluruh rasionalitas atau hukum alam yang sudah diciptakan, api secara hukum alam panas tapi yang bisa membatalkan api panas atau harus dingin itu cuma Tuhan, Allah punya otoritas mutlak sehingga pada saat itu Rasulullah menang. Nah, kesadaran lembah badar inilah yang harus kita bawa kemana-mana, kita tidak punya modal, kita tidak punya kekuatan tidak punya apa-apa ‘Mpun kula ikhlas sing penting njenengan ampun jengkel’. Jadi prinsipnya satu pertimbangan utamanya Tuhan tidak marah.”, sambung Agus Sukoco.

Kiai Fitron yang selalu menemani Jamaah Maiyah Purbalingga dalam pengembaraan ilmunya kali ini menyempatkan untuk hadir dalam Juguran Syafaat. Kiai Fitron sendiri merupakan pengasuh Pondok Pesantren An Nahl, yang beberapa pengajarnya merupakan penggiat dari Juguran Syafaat. Kiai Fitron menjelaskan bahwa pertemuan-pertemuan seperti ini harus selalu menambah rasa syukur kepada Allah.

“Sekecil apapun ketika disandarkan kepada Tuhan maka nilainya akan menjadi besar atau sebesar apapun ukuran manusia kalau tidak disandarkan kepada Tuhan maka nilainya jadi kecil. Umpama anda diberi kertas selembar kertas penghargaan dari Presiden mungkin kalau melihat nominalnya itu murah tapi ketika kertas itu diminta teman diganti 500 ribu bahkan 1 juta, kayanya ngga boleh karena kertas ini nilainya jadi besar karena melihat siapa yang memberi. Maka setiap nikmat yang kita rasakan kalau itu dikembalikan ke Pencipta Alam Semesta sesungguhnya tidak ada nikmat yang kecil, entah itu satu hembusan nafas, satu kedipan mata, satu langkah kaki dan seterusnya, itu adalah nikmat yang tiada tara besarnya ketika disandarkan kepada Pencipta Alam Semesta. Semoga kita semua yang njugur pada malam hari ini nanti pulang karena sedang juguran ini diberi kejutan tambah nikmat oleh Allah SWT.’, imbuh Kiai Fitron.

Kiai Fitron menambahkan bahwa bentuk rasa syukur yang lain adalah dipertemukan dengan mursyid guru kita, yaitu Cak Nun.

“Jadi seorang murid itu akan diangkat maqom derajatnya itu tergantung keyakinan kepada gurunya, semakin murid ini kuat keyakinan kepada gurunya maka murid ini akan semakin diangkat derajatnya. Kalau di dunia pesantren itu ada cerita-cerita antik, ada santri yang mungkin ngga bisa ngaji, dia ngga bisa menguasai teks-teks, dia yang penting itu khidmah, khidmah itu yang penting saya ngladeni guru, nyuci pakaian, masah, membalikkan sandal, menata sajadah dan sebagainya. Pekerjaan sehari-hari seperti itu, mungkin secara dunia ilmiah itu dia kurang tapi begitu pulang ternyata nanti dengan teman-temannya yang hari-harinya itu mengkaji ilmu pengetahuan malah yang menjadi Kiai. Jadi saya yakin jamaah maiyah ini keyakinannya sangat kuat kepada Mbah Nun maka kita khusnudzon ini maqom-nya derajatnya mau dinaikkan oleh Allah SWT.”, tambah Kiai Fitron.

Kiai Fitron juga menjelaskan, bahwa ciri kewalian Cak Nun adalah tidak pernah punya rasa takut terhadap dunia. Sejak jaman Pak Harto, Cak Nun sudah tegas mengkritik beliau atas dasar kebenaran dan kebaikan. Ciri yang lain adalah, tidak punya rasa sedih atas duniawi, harata benda materi. Wali memiliki rasa sedih hanya ketika melihat umat manusia dan akhirat saja.

 

Pra Tursina, Pasca Tursina

Agus Sukoco menyambung dengan sebuah terminologi ilmu Nabi Musa, yaitu pra Tursina dan pasca Tursina. Pra Tursina disini artinya dimana logika-logika akal manusia digunakan untuk menjelaskan kejadian alam dan kahidupan. Sedangkan pasca Tursina, adalah dimana Musa disuruh belajar kembali ke Khidir tentang ilmu kesejatian yang justru tidak boleh bertanya sedikit pun atas apa yang Khidir lakukan. Ini sama seperti ilmu pengetahuan barat modern saat ini, dimana semua hal dilogikakan, penuh dengan pertanyaan dan bersifat material, namun tidak kunjung menemukan jawaban yang sejati. ini adalah masa dimana Nabi Musa mengalami periode pra Tursina. Maka yang terjadi adalah “pingsan” peradaban, karena tidak mampu melihat hal yang sejati.

“Mbah Nun menyodorkan fenomena Khidir. Maka Daur tidak bisa dipahami tidak bisa dikritisi karena itu khusus kepada anak cucu dimana maqomnya pasca Musa di Bukit Tursina. Dan saya percaya, tapi tidak apa-apa kalau orang yang belum, saya menyadari itu Musa Junior. Jadi sampai tingkat kalau metodenya akademis itu Musa Junior, Musa sebelum di Bukit Tursina sehingga pasti akan dibantah dan dinafikkan pola, metode dan mekanisme transfer ilmu yang Jawa itu sudah sangat mumpuni. Coba Anda lihat bagaimana di pewayangan Bima menemukan kesejatian puncak dari pengetahuan dan ilmu justru hanya dengan patuh kepada Durna. Kalau kemudian Bima membantah ‘Lah ming laut ya mati, ini tidak rasional nganggo prahu ora’, itu sudah tidak jadi. Nah makanya pahami daur ini khusus anak cucu, bagi yang bukan anak cucu pasti tidak menjadi target dari pola transfer maiyah pasca Musa Bukit Tursina”, tambah Agus Sukoco.

Hadiwijaya merespon dengan cerita Nusantara lama yang sangat membuat kita bersyukur. Di mana peradaban maju di Indonesia sudah ada sejak jaman nenek moyang. Indonesia dimodali kekayaan alam yang sungguh luar biasa gemilangnya. Dan juga keuletan berfikir manusia-manusianya yang membuat peradaban nusantara masa lampau sedemikian maju dari hal pengolahan logam hingga penguasaan ilmu seni.

Rizky merespon bahwa Daur ke-101 dari Cak Nun yang terbit hari ini berjudul “Persatuan Bangsa-bangsa Indonesia”, bercerita tentang Indonesia yang sebenarnya adalah kumpulan atas bangsa Jawa, Sunda, Ambon dan sebagainya.

 Aktif Merespon

Beberapa sedulur yang hadir aktif merespon diskusi-diskusi sebelumnya. Rahmat dari Purwokerto ikut urun rembug, dimana semua hasil diskusi baiknya tidak berhenti pada ilmu saja, tapi juga lelakunya. Berbagai macam persoalan sosial kemasayarakaatan ada didepan mata, dan menjadi kewajiban kita bersama untuk menyelesaikannya.Ari dari Purwokerto, juga menambahkan respon tentang pengalamannya bertemu dengan Maiyah sejak 2010. Dalam hal ini, Ari memiliki teman dari negara lain yang tertarik dengan Kiai Kanjeng dan ingin mengajaknya untuk bisa bergabung di Mocopat Syafaat di Jogjakarta.

Togar dari Sokaraja, menanggapi bahwadiplomasi itu bukan hanya urusan manusia dengan manusia, tapi juga manusia dengan hewan. Contohnya adalah ketika akan panen padi, petani Jawa melakukan tradisi miwiti sebagai bentuk diplomasi kepada hama agar tidak menyerang sawahnya.

Nael dari Purbalingga turut merespon bahwa kegiatan dari para penggiat seperti santunan anak yatim, workshop kepenulisan, itu adalah bentuk bahwa Maiyah dijadikan ruh dalam setiap pergerakan. Agus Sukoco juga menceritakan keterlibatan tim Juguran Syfaat dalam beberapa agenda sosial kemasyarakatan baik di level RT hingga level kabupaten. Baik kepengasuhan personal ummat, hingga kepengasuhan pemerintah daerah. Beberapa forum ikut turut dihangatkan oleh para penggiat Juguran Syafaat yang mana forum itu adalah garda depan pergerakan dalam skala kabupaten.

Kiai Fitron menambahkan bahwa Rasulullah merubah dunia dari njugur. Rasulullah tidak punya murid tapi punyanya sahabat.

“Dari jagongan itu perubahan besar dimulai, jadi kelihatannya jagongan itu hal-hal kecil tapi memang dampaknya besar. Paling tidak kita jagongan seperti ini atine bombong adem. Kalau kita ibaratkan ini lagi kondisi zaman kaya mati lampu semua orang itu berlari mencari cahaya secepatnya akhirnya yang terjadi nabrak-nabrak. Acara seperti ini adalah acara bagaimana kita meneb, bagaimana kita ngadem menikmati gelap itu sejenak yang sebenarnya itu juga proses bagaimana mencari cahaya lebih cepat. Saya kira dengan melakukan seperti ini nanti malah pekerjaan lebih fokus dan maksimal hasilnya.”, sambung Kiai Fitron.

Rizky menutup diskusi dengan pernyataan bahwa Juguran Syafaat menjadi ajang bagi kita untuk terus bergerak mencari ilmu bersama.

“Jadi ini adalah sebuah pergerakan zaman memang sipritualitas itu terus bergerak. Mudah-mudahan kita juga bergerak seiring dengan pergerakan alamiah dari spiritualitas yang terus meningkat. Jadi mungkin ada satu hal yang harus kita waspadai harus kita sadari bersama adalah sekarang adanya fenomena impersonalisasi dan ini terjawab malam hari ini oleh semua uraian dari kita semua. Bahwa kita dijauhkan dari mensyukuri kepada orang, kita dijauhkan dari figur, kita ditakut-takuti kepada takdzimtaqlid dan sebagainya. Kita harus terjebak kepada sistem kepada sesuatu yang bukan manusia dan itu yang sebetulnya yang semakin membuat kita jauh dari kemajuan yang hakiki. Mudah-mudahan malam ini kita melawan gerakan impersonalisasi dengan renungan sebuah hikmah yang berlangsung sampai dini hari ini”, pungkas Rizky.

Diskusi diakhiri dengan doa yang dipandu oleh Kiai Fitron. Tepat pukul 02.45, acara Juguran Syfaat edisi Mei resmi berakhir, disambung dengan sholawat Hasbunallah dan bersalaman melingkar. Teman-teman yang hadir menganggap acara ini sebagai bentuk perayaan kecil atas ulang tahun ke 63 guru kita bersama, Cak Nun. Sedulur yang hadir senantiasa terambung hatinya dengan gurunda Emha Ainun Nadjib. Semoga kesehatan dan keselamatan selalu tercurah kepada beliau.[] Hilmy Nugraha/Verbatim: Hirdan Ikhya/Foto:Anggi Sholih