Reportase: INFORMASI RANJAU

REPORTASE JUGURAN SYAFAAT JUNI 2016

Malam mulai bergulir. Beberapa orang sudah tampak memadati sebuah Pendopo kecamatan Sokaraja. Tempat dihelatnya forum Juguran Syafaat. Forum rutin bulanan yang membahas banyak tema kehidupan.

Adanya forum ini, semoga saja menjadi sebuah tirakat bagi para penggiatnya maupun yang sudah bersedia hadir bersetia hingga dini hari. Tirakat untuk menjaga keseimbangan alam, dalam selalu mengerjakan tugas-tugas peradaban sejarah.

Nihil rasanya jika kesabaran dan kesetiaan tidak dibayar dengan tetes ilmu dari langit yang turun pada malam hari itu. Pelan-pelan sedulur yang hadir menyerap menjadikan bekal untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Forum malam hari ini diawali dengan tadarus Quran panjang, menghabiskan Juz ke 7 sesuai malam ke tujuh bulan Ramadhan. Quran dibaca secara tartil terpimpin dan digilirkan ke beberapa sedulur yang hadir. KAJ mengawali kekhusyukan malam hari dengan satu nomor musik “Hasbunallah”.

 ***

Mengungkap Akar Sokaraja

Kukuh, Hilmy dan Karyanto diawal menyapa para sedulur dan yang baru pertama kali mengikuti Juguran Syafaat, malam ini memasuki malam ke 7 Ramadhan. Beberapa sedulur berasal dari lokal Sokaraja mendapatkan informasi event dari media sosial. Juguran Syafaat malam ini mengambil tema ‘Informasi Ranjau’. Sebelum masuk ke tema, diawal sesi ini kedatangan narasumber Tokoh Sejarah dari lokal Sokaraja.

Kukuh menyapa sedulur yang hadir bahwa awal sesi digunakan untuk pemaparan sejarah Sokaraja yang digawangi oleh beberapa sesepuh dari lokal Sokaraja. Ini merupakan bentuk mencari informasi yang benar dalam upaya menetralisir informasi dari ranjau-ranjau informasi yang beredar mengenai sejarah Sokaraja.

Ahmad Taefur yang merupakan salah satu sesepuh dari Kecamatan Sokaraja, menceritakan kenapa daerah ini bernama Sokaraja. Dalam penjelasannya, Taefur bercerita bahwa nama itu muncul sejak abad ke 17 jaman kekadipatenan. Sokaraja berasal dari kata Soka yang berarti Kuda dan Raja yang berarti Raja penguasa. Dahulu, didaerah ini pernah menjadi tempat pemberhentian kuda dari seorang raja. Taefur begitu mahir menjelaskan satu persatu urutan sejarah daerah ini.

Kukuh merespon bahwa cara pihak luar untuk menghancurkan suatu bangsa adalah diantaranya dengan memutarbalikkan fakta sejarah sehingga para generasi penerus itu tidak tahu sangkan paran, tidak tahu seperti apa perjuangan-perjuangan para pendahulunya. Selanjutnya dipersilakan Sunardi, selaku Ketua Dewan Kesenian Sokaraja turut membagi pemaparannya tentang Sokaraja.

Sunardi yang kagum dan apresiatif terhadap forum Juguran Syafaat ini, mengawali bahwa Sokaraja selain terkenal menjadi kota santri, tapi juga memiliki sebutan kota seni. Karena didalam kecamatan ini terdapat setidaknya 18 orang dalang wayang kulit. Ini dikarenakan wayang kulit dijadikan media dalam berdakwah agama Islam pada jaman dahulu. Sunardi mengajak anak muda untu lebih mau mempelajari kebudayaan negeri sendiri daripada sibuk belajar budaya dari luar negeri yang tidak mempunyai milai luhur untuk kehidupan.

KAJ menjeda sesi diskusi dengan satu nomor apik “Amemuji”, sebuah aransemen musik “Ila Hilas tu” dengan irama lebih rampak.

Memasuki sesi berikutnya, giliran Titut Edi menuturkan pemikirannya. Seniman asli Purwokerto ini memang identik dengan pikiran nakal dan unik. Lebih dari itu, cara berpakaian dan gaya berbiacaranya selalu menjadikan sedulur yang hadir tertarik dan tidak sedikit terhibur.

“Banyak orang tidak waras. Ada orang pakai ikat dikatain kejawen padahal ikat itu untuk mengikat otak supaya tidak mambrah-mambrah kemana-mana. Banyak orang mengenal agama tapi tidak kenal Tuhan. Banyak orang bicara tentang ayat tapi ora ngerti maknane. Apapun agamanya apapun keyakinannya, Tuhan itu sangat dekat sekali.”, awal Titut Edi.

Titut Edi menyampaikan bahwa dalam sebuah pertunjukan seni cowongan yang dia geluti penuh dengan mantra kuno yang sebenarnya sebuah karya sastra. Karya sastra inilah yang diciptakan untuk anak-anak cucu hingga saat ini supayahidup kita selamat.

Kusworo menanggapi dengan mengingatkan bahwa tanggal 27 Mei kemarin Majelis Masyarakat Maiyah Padhang mBulan Jombang dibarengkan dengan hari kelahiran gurunda Emha Ainun Nadjib yang menginjak umur 63 tahun. Kusworo mengamati bahwa yang hadir malam hari ini jauh lebih banyak daripada biasanya. Orang yang datang ke Maiyah mempunyai bakat alamiah dalam tahan, sabar dan setia dalam menunggu turunnya ilmu hingga pagi dini hari.

“Jadi kalau di khasanah Jawa itu kana da peralihan kualitas waktu kejernihan turunnya ilmu dari ada istilah ‘Titioni, Gondoyoni sampai Puspo Tajem dan acara seperti ini biasanya sampai dini hari dan Alhamdulillah temen-temen di sini sudah terbiasa setia sampai jam 2-3 pagi untuk menunggu jatuhnya tetesnya ilmu. Dan saya kira itu yang sekarang kita sudah sulit anak-anak mungkin sudah cukup sulit menemukan wadah untuk bisa lebih kontemplasi seperti yang kita alami bersama. Sebuah tradisi melek mbengi dalam mencapai ngerti ilmuning urip.”, tambah Kusworo.

Hadiwijaya turut menceritakan pengalamannya di tahun 70an berproses bersama di Malioboro. Dimana pada saat itu juga Cak Nun menjalani proses menjadi sastrawan, sedangkan Hadiwijaya menjadi pelukis hingga saat ini. KAJ melantunkan shalawat “Alfa Salam, Ya Allah Ya Adzim, Shalli Wa Shallimda”, menambah kekhusyukan malam hari ini.

***

Senda Guraunya Allah

Memasuki sesi selanjutnya, Agus Sukoco mengupas terminologi sejarah yang berasal dari bahasa arab yaitu sajaroh yang artinya pohon. Sebuah pohon memiliki tiga komponen besar, yaitu akar, batang dan daun ranting buah. Pohon yang tidak nyambung ke akar maka tidak akan memiliki saluran untuk mengambil energi zat-zat yang membuat pohon itu hidup. Sehingga ketika pohon itu tidak hidup, dia tidak akan bisa menghasilkan buah. Keutuhan sejarah adalah lengkapnya komponen akar, pohon dan ranting buah.

“Hari ini, kita melupakan sejarah itu sama dengan memutus batang dari akar, kalau akar itu masa lalu yaitu sejarah kita, batang itu masa kini, buah itu masa depan. Maka buah hanya bisa diproduksi oleh pohon yang nyambung dengan akar. Pak Sunardi dan Pak Taefur tadi menyambungkan pohon masa kini dengan akar sejarah dengan Banyumas, Sokaraja, Purbalingga dan lain sebagainya sehingga kesejarahan itu yang perlu kita gali.”, sambung Agus Sukoco.

“Hari ini kita disambungkan justru dari akar yang lain, informasi-informasi yang merupakan ranjau dan jebakan tadi yang membuat kita sebagai pohon mati sehingga tidak mampu memproduksi buah. Kalau toh kita memproduksi buah, ada prestasi-prestasi ternyata buah itu hanya buah plastik. Atau prestasi-prestasi dan keberhasilan plastik yang sesungguhnya materialisme bukan produk dari pohon yang hidup. Karena hanya ketika pohon atau batang itu nyambung ke akar, dia bisa memproduksi buah sebenarnya.”, tambah Agus.

Merespon shalawat yang dilantunkan KAJ tadi, Agus mengulang lagi penjelasan dasar ilmu Maiyah, yaitu segitiga cinta dimana ada Allah, Muhammad dan kita. Shalawat adalah bentuk rasa syukur kita karena kita hidup menumpang pada rumah besar Allah yang bernama bumi, dan didalam rumah tersebut kita benar-benar ditempatkan satu kamar dengan Kanjeng Nabi. Maka apa saja yang dijatahkan dari Tuan rumah kepada si pemilik kamar, kita akan kebagian juga dengan jatah yang sama. ini adalah konsepsi syafaat, dimana keberkahan hidup, kebahagiaan hidip kita sekarang ini adalah bentuk syafaat dari kanjeng Nabi, karena kita sudah hidup satu kamar dengannya. Dan syafaat kanjeng Nabi bisa kita dapatkan bila kita senantiasa bershalawat kepadanya.

Agus Sukoco juga mengurai makna dari ayat Allah dalam Al Quran yang berbunyi, dunia ini hanya permainan dan senda gurau belaka. Dalam penjelasannya, Agus mengatakan bahwa jangan salah senda guraunya Tuhan, permainannya Tuhan pasti sebuah keseriusan nilai.

“‘Dunia ini permainan dan senda gurau’ itu yang ngomong Tuhan, jangan kita yang ngomong, kalau kita yang ngomong nanti jadi pembenaran akhirnya ngawur dan main-main.Tetapi Allah sendiri yang mengatakan dunia ini permainan dan senda gurau tapi kita harus merespon kehidupan yang merupakan permainan dan senda gurau menurut Allah itu dengan keseriusan. Maka ada 3 sikap dari kita yaitu sikap pikiran, sikap hati dan sikap tindakan, tiga-tiganya bermakna sungguh-sungguh. Sikap pikiran bernama ijtihad, sikap batin bernama mujahaddah, sikap laku bernama jihad.”, sambung Agus Sukoco.

Agus menganalogikan dengan pada saat jaman Pak Harto, dimana Pak Harto saat itu mengajak para kabinetnya untuk liburan dari kerja penatnya untuk bermain bola. Maka yang dilakukan Harmoko (menteri pada saat itu) adalah menggelar konferensi pers, membuat kaos tim, membeli sepatu dan sungguh-sungguh dalam memperiapkan permainan bola bersama Pak harto. Bagi Pak Harto, sepakbola bisa berarti liburan, tapi bagi Harmoko dan teman kabinet yang lain, sepakbola itu harus direspon dengan keseriusan dan kesungguhan baik dalam persiapan maupun ketika bermain nantinya. Tidak ada orientasi menang atau kalah dalam konsep berfikir para kabinet itu, yang ada hanyalah melayani tuannya bermain dengan sungguh-sungguh.

***

Merespon Ranjau

Fikry turut merespon dengan menuturkan bahwa sama seperti sedekah. Urusan kita adalah sedekah, memberi. Tapi urusan balasannya itu urusan Allah, jangan kita ikut memikirkannya. Pahala dan dosa itu hanya Allah yang menilai, kewajiban kita hanya terus berbuat baik. Disini kita sering bertukar peran dengan Tuhan, kadang kita ikut serta menghitung apa yang akan dibalaskan kepad akita sendiri.

Ndaru dari Karanglewas, mengungkapkan kegelisahannya dalam menemui berbagai infromasi yang penuh dengan ranjau saat –saat ini. Dalam hal ini, Ndaru menanyakan bagaiman jalan terbaik dalam menentukan informasi yang benar dan tepat dengan kondisi sekarang ini. Kegelisahan serupapun dialami Rizal dari Cilacap, pertanyaan yang dimunculkan adalah apakah kemunduran kebudayaan sekarang ini diakibatkan oleh adanya televisi. Wari dari Banyumas turut menyumbangkan pemikirannya bahwa pemberitaan pada media massa sekarang ini penuh dengan kobohongan.

Sunardi merespon apa yang ditanyakan Rizal, bahwa ketidakseimbangan informasi yang beredar saat ini dikarenakan oleh kepentingan penguasa modal dalam bisnis media yang hanya digunakan untuk mencari keuntungan pribadi semata.

“Tayangan iklan pada televisi sekarang ini penuh dengan ranjau-ranjau konsumerisme yang merupakan kepentingan bagi kapitalisme. Anak-anak sekarang tidak mengenal lagi budaya-budaya yang ditinggalkan oleh leluhur kita yang kalau kita pelajari sungguh sangat agung nilainya. Sebetulnya kurang imbang antara tayangan kepentingan bisnis iklan sementara mereka tidak mau mengorbankan kepentingannya untuk kebutuhan bangsa.”, sambung Sunardi.

Rizky merespon semua diskusi tadi dengan mengajak kembali para sedulur untuk menemukan definisi yang sebenarnya pada sebuah kata. Kalau ada kata informasi bukan melulu hal yang tertulis dalam koran, televisi maupun terdengar di radio. Tapi bisa jadi ada bentuk informasi yang lain seperti firasat, krenteg hingga ilham yang tetap wajib kita percayai.

“Seringkali berita itu hanya berfokus di Jakarta. Misalnya kalau menggunakan analogi yang ditemakan malam hari ini itu kita tinggalnya di Sokaraja, kalau jaman dulu mendapat informasi dari kentonganKentongnya itu sebatas radius se Sokaraja itu tapi sekarang kita sibuk mendengarkan kentongnya orang Jakarta, nah, apakah memang di sana kentongnya lebih nyaring dari pada di sini atau memang ada sesuatu yang dimaksudkan atau bagaimana kok kita jadi lebih mendengar kentongnya daerah lain dibanding kentong kita sendiri, mari kita gali bersama.”, sambung Rizky.

Khatibul Umam, salah seorang anggota Dewan dari pusat yang mewakili dapil Banyumas dan sekitarnya turut hadir malam hari ini. Khatibul menjelaskan bahwa dalam hal politik, yang perlu dikembangkan adalah politik blakasuta, sebuah idiom asli dari Banyumas. Politik blakasuta berarti politik yang apa adanya dan kembali pada niat yang bersih dan jujur. Dalam hal ini, Khatib menapresiasi forum-forum semacam Juguran Syafaat yang justru menjadi ladang yang sangat efektif dalam pelestarian kebudayaan daerah.

“Tidak mungkin agama bisa tembus ke Jawa kalau para penganjur agamanya tidak ngerti Jawa, para Wali tidak mungkin mengajarkan Islam kalau tidak mengikuti dan mempelajari seluk beluk agama atau kepercayaan atau adat istiadat atau tata cara hidup di masyarakat Jawa. Karena itu saya sependapat dengan gagasan-gagasan Mas Titut dan temen-temen di Maiyah ini untuk terus-menerus menghidupkan agama. Kalau niatnya memang syiar menghidupkan kebudayaan untuk niat kebaikan. Gusti Allah kan lebih tahu niat orang berkesini untuk apa.”, tambah Khatib.

Rayung yang beberapa kali menyumbangkan suara emasnya, kali ini dengan percaya diri melantunkan nomo rmusik dari Bimbo yang berjudul “Rindu Rasul”, sebuah tembang yang sangat sejuk dan kontemplatif.

Agus Sukoco kembali merespon bahwa substansi jebakan informasi sudah ada sejak awal kehidupan diselenggarakan oleh Tuhan. Yaitu Iblis menginformasikan kepada Adam bahwa memakan buah Khuldi adalah upaya untuk selamat tapi sesungguhnya informasi yang dilakukan Iblis adalah sebuah provokasi kepada Nabi Adam yang merupakan penyebab atau jalan bagi Adam untuk terdegradasi dari Ahsani Taqwim menjadi berderajat materi.

“Nah hari ini informasi bersifat provokatif dan jebakan-jebakan sebagaimana yang dilakukan oleh Mbah Moyangnya penjebak melalui informasinya itu baik melalui media massa dan yang lain. Nah kalau kita berangkat dari peristiwa jebakan awal dari terselenggaranya kehidupan alam semesta ini ketika informasi yang dari Iblis itu berarti yang dimaksud menjebak adalah informasi yang membuat manusia terdegradasi menjadi asfala safillin dari ahsani taqwim karena substansi manusia sesungguhnya adalah spiritualitas atau ruhaniah ketika dia kemudian mengkonsumsi segala informasi berupa ukuran-ukuran hidup yang mempengaruhi gerak pikiran dan lelakunya untuk makin materialism sesungguhnya dia sudah memakan informasi sebagaimana Adam memakan informasi dari Iblis. Ruang kebudayaan kita hari ini dipenuhi dengan patok-patok nilai yang mau tidak mau hidup kita mengarah kepada materialisme, kalau kemudian kita punya leluhur yang seluruh ekspresi kebudayaannya merupakan pagar patok dan rambu-rambu nilai yang membuat orang tetap eling lan waspada sehingga tetap terjaga kondisi ruhaniahnya”, sambung Agus Sukoco.

Agus mengurai sedikit Daur dari Cak Nun yang berjudul Berendah Hati Kepada Cahaya. Dalam penjelasannya manusia sekarang semakin mempercayai identitas-identitas sosial yang menempel pada dirinya, seperti camat, bupati, pengusaha dan lain sebagainya. Berbagai identitas sosial budaya yang kita percaya bahwa itu diri kita padahal substansi diri kita adalah ruhaniah atau sesuatu yang bersifat spiritual yaitu diri ruh. Informasi yang tidak menjadi ranjau adalah yang seluruh muatan nilainya menyadarkan kita bahwa kita harus makin tidak percaya bahwa diri kita adalah identitas-identitas sosial itu tadi.

“Kebahagiaan manusia adalah kalau dia sudah menyadari diri ruhaninya bertemu Tuhan pada peristiwa-peristiwa yang sering saya katakan yaitu menemukan hikmah kehadiran Tuhan. Diri kita yang bukan ini, yang diri ruhani itulah diri yang se-diri. Analoginya gini kalau anda misal ke Jakarta 5 tahun tiba-tiba ketemu dengan orang yang se-kampung dengan anda, pasti akrab sekali. Itu hanya orang yang se-kampung. Nah kita dengan Tuhan se-diri bukan hanya sekampung, betapa dekatnya karena se-diri bukan hanya se-kampung. Betapa dekatnya, betapa akrabnya maka Tuhan mengatakan ‘Aku lebih dekat dari urat lehermu’. Jadi kebahagiaan adalah ketika kita ketemu dengan asal usulnya. Nah, kemudian informasi yang saya sebut menjebak tadi adalah mengabarkan bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang bersifat materi”, tambah Agus Sukoco.

“Maiyah merupakan upaya detoksifikasi, upaya untuk membebaskan dari racun-racun informasi yang membuat kita terdegradasi sebagaimana Adam turun derajat mejadi materi setelah asik-asiknya berada pada maqom ahsani taqwim itu. Sekali lagi awal mula ranjau informasi adalah dilakukan oleh Iblis yang mengabarkan pada Adam bahwa Khuldi harus dicapai harus diraih karena itu penyelamatan. Padahal itu merupakan jebakan meskipun itu merupakan skenarionya Tuhan juga.’, tukas Agus.

Agus Sukoco mengajak kembali untuk selalu bershalawat sebagai peneguhan atas komitmen berada di dalam kamarnya Rasulullah, sehingga kita mampu mengidentifikasi mana informasi yang ranjau mana yang bukan. Informasi-informasi yang masuk ke dalam kamar itu adalah informasi-informasi yang sudah dijamin keselamatan dan menyelamatkan.

Al dari purwokerto ikut merespon semua sesi diskusi tadi dengan sebuah syair yang dibacanya diiringi petikan gitar oleh Rayung. Rizky mengakhiri diskusi dengan menegaskan kembali bahwa kita patut bersyukur karena beruntung sudah bisa “sekamar” dengan Kanjeng Nabi, mendapatkan syafaatnya dalam kehidupan sehari-hari kita.

Ujang dari KAJ melantunkan shalawat Tarhim dengan suaranya yang sangat merdu. Sedulur Juguran Syafaat yang hadir mengakhiri perjumpaannya malam hari itu dengan bershalawat melingkar bersamaan. Sedulur yang hadir pulang membawa oleh-oleh pendaran cahaya yang ditiupkan oleh malaikat-malaikatNya dini hari ini.[] RedJS