Mentadabburi Puasa Kita

Puasa Ramadhan menurut tafsir adalah ibadah menahan lapar dan minum dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari bagi umat Islam pada bulan Ramadhan. Di samping menafsiri makna dan maksud segala hal, yang tidak kalah utama untuk kita lakukan adalah merenungi dan menghayati atau disebut pula dengan istilah taddabur.

Kalau ilmu tafsir, kita harus mempunyai keahlian khusus dan hanya orang-orang dengan kualitas tertentu yang boleh menafsiri sebuah ayat atau hadist. Sedangkan taddabur itu  boleh dilakukan oleh siapa saja. Siapapun saja kita yang memiliki akal dan hati, kita boleh men-tadabburi banyak hal terkait tentang hidup kita.

Pada kali ini di bulan suci Ramadhan yang penuh barokah ini marilah kita mencoba mentadabburi puasa yang sedang kita jalani. Pintu tadabbur yang pertama, dalam puasa yang kita tahan atau kekang itu rasa lapar dan haus sesuai batas waktu yang dilarang. Dalam hal ini, siapakah pengendalinya? Pengendalinyya tidak lain adalah diri kita sendiri. Yang dikekang juga diri kita sendiri. Ibaratnya kita memenjarakan diri kita sendiri, membatasi diri kita sendiri dan yang bertindak sebagai sipir penjaganya juga adalah diri kita sendiri.

Nah, kalau pihak yg mengekang dan yang dikekang adalah diri kita sendiri, sebenarnya kalaupun kita hendak curang juga tidak ada masalah, kan?
Setidaknya antara kita dengan diri kita sendiri bisa bernegosiasi mencari bentuk kecurangan yang seolah-olah hal itu bukanlah sebuah tindak kecurangan. Sangat mungkin bentuk kecurangan itu dilakukan dengan tidak perlu ada yang tahu kecuali kita sendiri yang membocorkannya.

Kemudian pintu tadabbur berikutnya, pada peristiwa puasa, yang kita jalani itu kan urusanya adalah pengekangan terhadap diri, kita tidak makan itu bukan karena tidak ada makanan yang tersedia, tapi kita memutuskan tidak makan meskipun lapar dan meskipun ada makanan lezat di hadapan kita. Jadi hakikat puasa sesungguhnya adalah perjalanan batin, sebuah perjalanan yg tidak nampak, sebuah jalan kesunyian. Bukan perjalanan keluar, tapi perjalanan ke dalam, menyusuri kedalaman. Kedalaman apakah itu? Tidak lain adalah kedalaman batin kita dimana setelah setahun lamanya kita disibukkan dengan perjalanan yang sifatnya jasad, materi, perjalanan yang ukuranya keluar dari diri kita, menembus langit, membelah bumi dan lain sebagainya.

Pintu tadabbur yang lain lagi, puasa itu jalan sunyi, demikian  kata Simbah. Tersedia makanan tapi tidak dimakan,  tersedia kursi tapi tidak diduduki, tersedia tanah tapi tidak dipagari. Puasa itu jalan sunyi. Menggambar tapi tidak terlihat, bernyanyi tapi tidak terdengar, menangis tapi tidak terperhatikan. Puasa itu jalan sunyi. Menjadi tanpa eksistensi, pergi menuju kembali, hadir tanpa mengharap untuk dikenali.

Di zaman modern mengajarkan kepada kita bahwa yg dinamakan kebahagiaan itu adalah saat kita mampu melampiaskan keinginan kita, membeli ini dan itu, bisa memiliki ini dan itu, memakan ini dan itu, menguasai ini dan itu. Melakukan apa yang orang lain tidak mampu melakukannya, hanya kita saja yang bisa melakukanya. Dan inilah yg terjadi saat ini tanpa bisa kita pungkiri. Banyak orang melakukan apa saja bahkan menghalalkan cara untuk bisa memenuhi pelampiasan keinginan, dengan cara korupsi, menipu, merampok, mencuri, membunuh dan lain sebagainya. Sebagai wujud pelampiasan dan wujud hilang dan matinya pengekangan dalam diri kita. Sehingga apa saja kita lakukan tanpa ada rasa bersalah, sekepenak wudele dhewek.

Dan pada bulan yg penuh barokah ini kita berupaya melakukan perjalanan sunyi, di mana dunia penuh hiruk pikuk pelampiasan keinginan-keinginan, kita justru mengekang keinginan kita. Kita tidak menghindar dan menjauhi rasa sengsara yang ditakuti oleh banyak orang, tetapi kita justru menampung kesengsaraan itu dengan menahan lapar, haus, dan dan menahan nafsu.

Hingga kita sekalian akan mengerti bahwa kebahagiaan itu bukan hanya urusan pelampiasan-pelampiasan, yang dengan itu semua kita butuh materi dan usaha sebagai alat bayarnya, namun kebahagiaan itu juga bisa kita raih saat kita mampu menahan, mengekang, memenjarakan, bahkan menginjak-injak keinginan-keinginan kita sendiri. Terbukti betapa bahagianya saat kita berbuka puasa dengan meneguk segelas teh pahit pun membuat rasa kegembiraan yang luar biasa dan tidak mampu digambarkan dengan kata maupun kumpulan kalimat.

Dan masih ada begitu banyak pintu perenungan dan penghayatan untuk menjadi sarana kita mentadabburi puasa yang sedang kita jalani. [] Karyanto