Hari Panen Raya Ruhani

Materi Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1435 H. 

Hari yang kita nanti-nantikan telah tiba, hari raya, hari yang lebih istimewa dari 364 hari lainnya. Hari raya Idul fitri adalah hari istimewa, karena hari ini adalah hari panennya kita. Takbir dikumandangkan, berbondong-bondong menghamparkan sajadah melaksanakan sholat Ied, semata-mata karena rasa syukur tiada terkira kepada Allah swt yang telah menganugerahkan hari ini, hari dimana kita bisa panen raya ini.

Hari ini kita bukan sedang berbahagia karena panen padi, bukan juga karena sedang panen jagung. Kebahagian kita bersama hari ini lebih dari sekedar panen hasil bumi, karena hari ini kita diijinkan Allah untuk panen raya hasil langit, yakni panen raya ruhani. Setelah sebulan kita menanami ladang bernama Ramadhan dengan tanaman kebajikan, yang tanaman itu dijaga dengan galengan puasa, dirawat dari hama maksiat dan dirondai dengan menghidupkan malam, kini telah tiba saatnya untuk kita melaksanakan panen raya.

Maka beruntunglah kita yang selama sebulan ini diberi oleh Allah ladang bernama Ramadhan kemudian memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya sehingga hari ini kita bisa panen raya. Dan merugilah mereka yang selama sebulan ini diberi oleh Allah lahan subur dan menjanjikan ini, tapi justru tidak menanam apa-apa, sehingga mereka hanya bisa gigit jari karena tidak ada yang bisa mereka panen di hari raya ini.

Betapa Allah menunjukkan sifat Rohman dan Rohimnya kepada kita saat ini. Allah memberi kita ladang Ramadhan, tanpa menuntut kita untuk membayar sewa sepeserpun, pokoknya tinggal pakai saja ladang itu. Mau ditanami sedikit boleh, ditanami banyak bisa, ditanami banyak sekalipun silahkan. Dan ketika hari panen tiba, Allah tidak menagih bagi hasil kepada kita sedikitpun. Sungguh Allah telah menunjukkan cinta-Nya yang sejati kepada kita sehingga kita bisa menikmati 100% hasil panen atas semua kebajikan yang telah kita tanam.

Maka setelah kita berbahagia atas hasil panen raya kebajikan Ramadhan, kini kita puncaki dengan ungkapan syukur kita kepada Allah, karena atas Rohman dan Rohim-Nya Allah yang masih mengijinkan kita berpanen raya raya ruhani di hari ini.

Kemudian, rasa-rasanya tidaklah afdol kebahagiaan dan rasa syukur ini kalau kita belum menyapa tetangga kanan dan kiri kita, saudara yang dekat maupun jauh, juga kerabat kita. Maka dari itulah pada kesempatan dimana kita sedang berbahagia dan sangat bersyukur kali ini, kita makin sempurnakan dengan menyapa tetangga, saudara dan kerabat semuanya seraya memohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan selama ini, baik lahir maupun batin.

Selanjutnya setelah panen raya kita jalani, saatnya kita keluar dari ladang, saatnya kita tinggalkan ladang Ramadhan untuk pergi ke pasar agar dapat menjual hasil panen kita. Dengan itu, maka tanaman kebajikan yang kita tanam akan bisa dinikmati oleh banyak orang, bukan hanya oleh kita sendiri.

Namun sebelum itu, kita lihat dulu bagaimana kualitas panenan kita kali ini. Kualitas panenan antara satu sama lain pasti berbeda-beda. Diantara tiga ini, termasuk yang manakah kualitas panenan kebajikan kita, masing-masing dari kita menilai diri sendiri saja. Kita tidak perlu mengisi rapor orang lain.

Pertama : Kualitas Muslimin. Muslim berarti selamat, kualitas muslimin adalah kualitas yang selamat, tidak rusak oleh hama wereng copras-capres, tidak digerogoti tikus karena nyathil uang sana-sini. Maka tanda kualitas ini adalah, dia menjadi pribadi yang selamat, dengan tetangganya akur walau beda pilihan capres misalnya, dengan masyarakatnya terlindungi karena tidak punya urusan kejahatan.

Kemudian yang kedua : Mukminin. Kualitas ini lebih tinggi, karena bukan hanya selamat tetapi juga aman. Aman karena ditanam dengan kesucian. Suci itu bukan cuma perkara tidak pernah kentut sehingga wudhunya tidak batal. Suci kalau di olahraga namanya sportif, kalau di musik adalah tidak fals, kalau di organisasi bentuknya profesionalitas. Suci kalau di ladang itu airnya tidak mencuri, pekerjanya dibayar tidak khianat.

Mukmin itu berarti aman. Maka tanda kualitas jenis ini adalah, pribadinya hadir dimanapun selalu membuat orang disekelilingnya aman : aman hartanya, aman nyawanya dan aman martabatnya.

Dan yang ketiga adalah : Mutaqqin. Mutaqqin adalah derajat yang Allah janjikan akan diberikan kepada orang yang berpuasa, yakni derajatnya orang yang bertaqwa. Apakah taqwa itu? Taqwa adalah kita senantiasa terbimbing untuk mendeteksi perintah sehingga kita mengikutinya dan untuk mendeteksi larangan sehingga kita meninggalkannya.

Bagaimana kemampuan deteksi itu bisa kita peroleh? Caranya tidak lain adalah dengan senantiasa melibatkan Allah disetiap aktivitas kita. Saat mencangkul, ingat Allah. Saat menanam benih, di hati ada Allah. Saat merawat dari hama, di benak ada Allah. Saat tanaman siap dipanen, yang ada hanya syukur kepada Allah. Maka bisa kita bayangkan betapa berkualitasnya tanaman yang setiap tahap pengerjaannya Allah dilibatkan, walaupun hanya dilibatkan dalam bentuk dihadirkan dalam ingatan dan benak kita.

Taqqobalallohu minna waminkum…, mudah-mudahan kualitas jenis mutaqqin inilah yang kita peroleh, atas upaya kita menanami sebulan penuh Ramadhan dengan kebajikan. Taqqobal yaa Kariim.

Maka selanjutnya, saatnya kita pergi ke pasar untuk menjajakkan hasil panenan kita ini. Ke pasar dalam artian kita pergi ke dunia nyata, bukan hanya di atas sajadah dan di dalam masjid saja, tapi nilai-nilai Ramadhan kita bawa kemanapun kita melangkah.

Sehingga selama 11 bulan kedepan kita lalui dengan cara pandang dan cara bersikap yang baru dan lebih baik. Sebagai muslimin kita lebih pandai menjaga lisan, tindakan dan keputusan kita sehingga kita selamat. Sebagai mukminin kita disiplin menjunjung nilai-nilai Qur’ani sehingga bukan hanya khattam bacaan kita, tapi juga khattam pengaplikasian Qur’an dalam keseharian kita. Maka dengan begitu, kehadiran kita tidak menjadi ancaman bagi orang lain, tetapi justru membuat mereka aman dengan keberadaan kita.

Dan sebagai muttaqin kita senantiasa melibatkan Allah dalam setiap tindakan dan keputusan kita. Mau bertamasya, yg kita pilih tempat yg mengingatkan kita kpd Allah. Pergi belanja, yg kita pilih untuk dibeli yg disukai Allah. Menyekolahkan anak, yang membuat anak lebih dekat kepada Allah, dan sebagainya.

Demikianlah dengan Ramadhan dan Idul Fitri ini Allah sedang memberi kesempatan kepada kita untuk menambah tinggi derajat kita sebagai manusia, menambah kaya ruhani kita. Kita saksikan betapa Allah baik kepada kita, betapa Allah mencintai kita. Allah masih dan akan terus mencurahkan cinta-Nya kepada kita. Maka 11 bulan ke depan, kita suguhkan hasil Ramadhan kita kepada sekeliling kita, tidak lain dalam rangka membalas cinta-Nya kepada kita.

Allah memberi rejeki kepada kita karena Allah mencintai kita. Kita mencari rejekipun, karena wujud cinta kepada Allah. Ketika kita melakukan apapun dalam rangka cinta kepada Allah, bukan karena ego dan keserakahan kita, mudah-mudahan Allah anugerahi kita derajat mukhlisin.

Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :

Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung. Saat itu malaikat bertanya? “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?” Allah menjawab, “Ada, yaitu besi” (gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi). Para malaikat pun kembali bertanya, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?” Allah menjawab, “Ada, yaitu api” (Besi bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api). Bertanya kembali para malaikat, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?” Allah menjawab, “Ada, yaitu air” (Api akan padam jika disiram oleh air). “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?” Kembali bertanya para malaikat. Allah menjawab, “Ada, yaitu angin” (Air di samudera bisabergulung-gulung menjadi gelombang kekuatan angin). Kemudian para malaikat masih bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?” Allah menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.”

Mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahui adalah gambaran orang yang ikhlas. Ia bersedekah bukan karena pamrih, bukan pula karena pencitraan. Peristiwa sedekah adalah peristiwa cinta, Ia butuh bersedekah karena butuh membalas cinta-Nya Allah. Karena Allah telah mengungkapkan cinta-Nya kepada kita makhluk-Nya terlebih dahulu, salah satunya dengan anugerah dihadirkannya ladang suci Ramadhan dan hari panen raya ruhani Idul Fitri ini.

Allah memberi kita ladang dan mengijinkan panen tanpa menagih sewa dan bagi hasil kepada kita. Karena Allah tidak sedang berbisnis dengan kita. Semata-mata semua itu adalah sedekah Cinta-Nya kepada kita.

Akhirnya, selamat Hari Raya Idul Fitri semoga semua pengistimewaan kita atas hari ini tidak ada yang luput satupun hanya untuk ungkapan syukur dan balasan cinta kita kepada Allah semata.[] RZ/RedJS